Misteri Kematian Dubes China untuk Israel, Operasi Pembunuhan oleh Intelijen?

Misteri Kematian Dubes China untuk Israel

Misteri Kematian Dubes China untuk Israel, Operasi Pembunuhan oleh Intelijen?

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kematian Du Wei dihubungkan dengan hubungan China – AS

Thexandria.com – Balikpapan, Indonesia – Duta Besar China untuk Israel, Du Wei, ditemukan tewas di kediamannya di Herzliya, Israel, pada hari Minggu (17/5/2020). Adapun alasan kematiannya, sebelumnya banyak diberitakan oleh media Israel dikarenakan sebab alami, yaitu meninggal saat tidur karna jantung. Hmmm apakah benar demikian? “Se-alami” itukah kematiannya? Kita berbicara mengenai kematian mendadak seorang Dubes negara (China) yang tengah “berkonfrontir” dengan Amerika Serikat—di negara proxy-nya Amerika, Israel.

Selain itu konteks ‘waktu’ kematian sang Duta Besar, terjadi di tengah pandemi virus corona (COVID-19) dan pasca kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo ke Israel. Mau tak mau memunculkan spekulasi serta asumsi—yang direfleksikan dari kondisi geopolitik global saat ini.

China sendiri sampai detik ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kematian diplomat seniornya ini, selain mengirim investigator ke Tel Aviv. Du Wei baru diangkat sebagai Duta Besar di Israel pada bulan Februari lalu.

Ada spekulasi kuat yang menyebut Du Wei meninggal karena COVID-19. Spekulasi itu mengemuka karena sebelumnya Du Wei yang tiba di Israel pada bulan Februari, bertepatan dengan wabah COVID-19 yang sedang memuncak di negaranya China, epicentrum awal dari pandemi global.

Spekulasi yang Menyelimuti Duta Besar

Diwartakan oleh Jerusalem Post, Du Wei Pada saat awal tugasnya di Israel (februari), Du Wei sempat menjalani karantina dua pekan. Pasalnya, Israel pada saat itu telah memberlakukan aturan perjalanan dari negara-negara yang terkena dampak.

Spekulasi yang lain, (yang menurut kami paling mungkin) menyebutkan bahwa kematian Du Wei yang berusia 52 tahun itu, dihubungkan dengan situasi antara AS-China yang saat ini tengah memanas.

AS dicurigai kuat, memiliki kekhawatiran tentang peran China di Pelabuhan Haifa dan pabrik desalinasi. China juga telah banyak menggembar-gemborkan proyek Belt and Road Initiative di Timur Tengah, yang dimana kita tahu, bahwa proyek strategis tersebut dapat menjadi point penting bagi China yang tengah berambisi menjadi ‘polisi dunia’ seperti halnya Amerika Serikat.

Lebih jauh, proyek Belt and Road Initiative merupakan sebuah proyek pengembangan yang digagas dan dibanggakan oleh Presiden China Xi Jinping. Namun, kebijakan ekonomi luar negeri China tersebut, telah mendapat kecaman dan pertentangan dari AS karena Uncle Sam memandang proyek prestisius China itu lebih menguntungkan China dan membuat negara yang terlibat menjadi rentan terhadap tekanan diplomatis Beijing. Persis seperti yang terjadi kepada Indonesia. Kekhawatiran AS tepat.

Merunut lagi ke belakang, pada Oktober 2019, Wakil Presiden China Wang Qishan pernah melakukan lawatan ke Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka diketahui membahas berbagai hal termasuk kerja sama ekonomi, dan proyek Belt and Road Initiative, menjadi salah satu topik penting.

Adanya project strategis ekonomi luar negeri China itu banyak dianggap sebagai upaya Beijing untuk mengeksploitasi kebutuhan regional Timur Tengah dan sekutu AS dalam hal investasi dan upaya China memainkan pengaruhnya dengan membangun hubungan di bawah bayang-bayang AS yang sebelumnya mendominasi tunggal. Akan tetapi perlu diingat, Israel adalah proxy AS, hingga hubungan China dengan Israel, sangat dimungkinkan bahwa Israel memainkan politik luar negeri ganda, dengan menaruh ‘dua kaki’ baik di Beijing, terlebih di Washington.

Selain itu, ada juga yang meyakini bahwa kematian Du Wei ada hubungannya dengan peran masa lalunya saat menjadi Dubes China untuk Ukraina, meski belum diketahui pasti mengenai masalah apa. Du Wei pernah menjadi duta besar untuk Ukraina pada periode 2016-2019.

Duta Besar China Du Wei

Spekulasi yang menyatakan kematian Du Wei terkait dengan kunjungan Pompeo, sejauh ini menjadi yang paling banyak diyakini, sebagaimana terlihat dari komentar-komentar netizen dalam postingan jurnalis Israel Barak Ravid di Twitternya.

“Saya tidak bermaksud menjadi seorang konspirator tapi agak aneh mendengar berita ini segera setelah kunjungan Pompeo,” tulis salah seorang netizen.

“Jika Anda ingat kunjungan Pompeo, Anda dapat menghubungkan titik-titik,” atau “Kunjungan Pompeo berhasil, saya rasa.” tambah yang lainnya.

Kematian Du Wei sangat cukup menghebohkan bukan hanya karena terjadi mendadak, tetapi juga karena kematian seorang Duta Besar yang terkenal saat berada di tempat kerja sangat jarang terjadi. Hanya ada segelintir duta besar yang meninggal di tempat tugasnya.

Dari catatan kami, di antaranya adalah;

  • Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov. Ia dibunuh di Turki oleh seorang polisi pada tahun 2016.
  • Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, yang meninggal karena gagal jantung di New York City pada 2017.
  • Duta Besar Rusia untuk Sudan, Migayas Shirinskiy, yang meninggal pada 2017.

In other side, kematian Du Wei terjadi di saat banyak diplomat dan dubes China menjadi sorotan di tengah pandemi COVID-19.

Para duta besar dan pejabat China memang menjadi sorotan karena menyampaikan pembelaan pada negaranya yang telah dikritik banyak pihak sebagai penyebab wabah COVID-19.

China telah banyak dikritik berbagai negara karena dianggap lalai dalam menangani wabah dan terkesan menutup-nutupi kebenaran soal wabah di awal-awal kasus merebak. Salah satu negara yang paling frontal melayangkan kritik adalah Amerika Serikat. Bahkan, Presiden Donald Trump adalah yang paling vokal mengkritik China beserta WHO, yang paling kental mungkin adalah, “WHO bersekongkol dengan China”.

Pasca AS melayangkan kritiknya ke China, dan membekukan dana untuk WHO, Duta Besar China untuk AS, Cui Tiankai, menulis editorial untuk menanggapi serangan AS yang selalu menyalahkan negaranya.

Du Wei juga diketahui pernah menulis editorial yang dimuat di Jerusalem Post pada 13 Maret. Dalam editorial yang berjudul “A belief in the resilience of China and Israel” itu, Du Wei menulis perspektifnya tentang upaya penanganan wabah COVID-19 dengan Israel.

“Dibunuh” untuk Memancing Amarah China?

Bocoran mengenai adanya tekanan AS terhadap Israel terkait hubungannya dengan China, menyebar luas ke seluruh media internasional, dari media di Israel hingga laporan di BBC, CNN, dan etc.

Ketika West Capella, sebuah kapal bor yang disewa oleh perusahaan minyak nasional Malaysia Petronas, untuk mensurvei minyak di Laut China Selatan menyelesaikan pekerjaanya beberapa pekan lalu, kapal Angkatan Laut AS Gabrielle Giffords diketahui juga turut meninggalkan pangkalannya di Singapura.

Baca Juga: Konfigurasi Kepemimpinan; Negeri Tanpa Nahkoda

Melansir South China Morning Post, ini adalah upaya ketiga dalam beberapa pekan, bahwasannya Amerika Serikat telah melakukan “operasi kehadiran” di Laut China Selatan, yang kaya sumber daya, dan akan menjadi battlefiled masa depan yang diprediksi banyak instansi intelijen dunia.

Menarik benang yang seolah kusut ini, memang akan naif jika kematian mendadak Du Wei disinyalir murni akibat sakit jantung.

Dan juga, jika kita fokus kepada persoalan Covid-19, ‘kebetulan’ hanya ada 3 laboratorium di dunia yang mampu membuat biological warfare; Amerika, China, dan Israel.

Israel yang memiliki Mossad, salah satu badan intelijen terkuat di muka bumi, dan kedekatannya dengan CIA, dirasa sangat mungkin melakukan operasi pembunuhan kepada orang-orang penting di dunia, tak terkecuali Du Wei.

Seperti halnya ketika Mossad membunuh tokoh perjuangan Palestina, Yasser Arafat, yang dibunuh dengan racun yang ditaruh di baju, bisa kalian bayangkan? Di tabur di baju!

Asumsi “dibunuhnya” Du Wei untuk memancing amarah China, menurut kami, sejauh ini adalah asumsi yang paling mendekati kebenaran. Biological warfare, laut China selatan, persaingan geopolitik global, what a moment.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.