Misteri Anak Gimbal Dieng Di Tanah Dewa Dewi Bersemayam

Misteri Anak Gimbal Dieng Di Tanah Dewa Dewi

Misteri Anak Gimbal Dieng Di Tanah Dewa Dewi Bersemayam

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Rambut gimbal mereka bukanlah sebuah aib atau kutukan

Thexandria.com – Dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah Tibet atau Nepal, berada di ketinggian hingga 2.100 meter di atas permukaan laut, dan merupakan yang terluas di Pulau Jawa.

Nama Dieng berasal dari dua kata dalam bahasa kawi “di” berarti tempat atau gunung dan “hyang” yang bermakna dewa, maka Dieng atau “Dihyang” dapat diartikan sebagai daerah pegunungan tempat para dewa dewi bersemayam. Di Dieng berbagai mitos terasa sangat kental dalam kehidupan masyarakat setempat.

Kawasan dataran tinggi Dieng telah lama dikenal sebagai pusat temuan arkeologi dengan ditemukannya sejumlah candi dan sisa-sisa bangunan kuno non-pemujaan (petirtaan dan lubang drainase) serta arca. Catatan Hindia-Belanda menyebutkan ada 117 candi atau bangunan purbakala di Dieng, tetapi sekarang tinggal sembilan yang masih berdiri. Candi-candi di Dieng diberi nama sesuai dengan nama tokoh pewayangan Mahabharata dan berdasarkan perkiraan arkeolog, bangunan-bangunan kuno di Dieng diperkirakan dibangun pada masa berkuasanya Kerajaan Kalingga pada abad ke-7 dan ke-8.

Asal Usul Anak Gimbal Dieng

Dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah menyimpan misteri peradaban kuno. Kehidupan masyarakatnya yang agraris masih diselimuti mitos dan legenda mengenai para penguasa dimensi lain, dan makhluk-makhluk astral masih dipercayai mempengaruhi kehidupan masyarakat Dieng.

Termasuk fenomena anak berambut gimbal yang oleh masyarakat Dieng kerap disebut “bocah gembel”. Kemunculannya umum terjadi pada beberapa anak di Dieng dan warga keturunan Dieng yang berpindah bisa tiba-tiba memiliki anak yang berambut gimbal, mereka menganggapnya sebagai “anak-anak yang dipilih” dan istimewa. Dan fenomena rambut gimbal ini bisa terjadi apa anak manapun di Dieng bahkan yang tidak memiliki keturunan genetik rambut gimbal.

Kepercayaan turun-temurun mengenai asal usul anak gimbal di Dieng berasal dari kisah masa lampau yang menyebut beberapa nama yang melegenda di Indonesia, diantaranya adalah sosok Kyai Kolo Dete dan istrinya Nini Roro Rence, serta Penguasa Pantai selatan Nyi Roro Kidul.

Baca Juga Mengenal Sekte Mistik Nusantara: Bhairawa Tantra

Diceritakan bahwa Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence ditugaskan untuk memperluas wilayah kerajaan mataram. Kyai Kolo Dete adalah seseorang yang sakti dan penyuka rakyat kecil.

Dalam misinya mereka mendapat bisikan dari Ratu Pantai Selatan untuk membawa kesejahteraan pada masyarakat Dieng. Yang mana tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng akan ditandai dengan kemunculan anak berambut gimbal di Dieng. Hingga kini kepercayaan bahwa anak gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng tetap terjaga.

Ada juga versi yang menjelaskan bahwa Nyai Dewi Roro Ronce yang merupakan abdi dari Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul. Oleh Nyai Roro Ronce, anak gimbal itu kemudian dititipkan kepada Kiai Kaladete yang merupakan salah seorang Tumenggung yang ditugaskan untuk mempersiapkan pemerintahan di dataran tinggi Dieng pada masa menjelang kemunculan Kerajaan Mataram pada abad ke-14. Dan adapula beberapa versi lainnya.

Bagi masyarakat dataran tinggi Dieng, jumlah anak berambut gimbal dianggap berhubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin banyak jumlah anak gimbal maka masyarakat Dieng yakin kesejahteraan mereka akan semakin baik. Begitu pun sebaliknya.

Sejak itulah muncul anak-anak berambut gimbal di bagian barat Dieng. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, anak-anak yang rambutnya gimbal merupakan titipan Anak Bajang dari Samudra Kidul. Anak gimbal laki-laki merupakan titisan dari Eyang Agung Kolo Dete dan anak gimbal perempuan merupakan titisan dari Nini Dewi Roro Ronce. Dan anak gimbal biasanya perempuan, namun adapula anak laki-laki meski jumlahnya tak sebanyak anak gimbal perempuan.

Kegimbalan mereka terjadi begitu saja dengan pertanda yang sama yakni demam tinggi berhari-hari lalu mereda kemudian rambutnya menjadi kusut dan menggimbal dengan sendirinya. Sejak saat itu, anak yang bersangkutan menjadi “bocah gembel” sebutan masyarakat Dieng atau anak gimbal yang diistimewakan. Segala permintaan mereka biasanya dipenuhi dan diistimewakan.

Rambut-rambut mereka pun turut istimewa lantaran tak boleh dipotong sembarangan dan perlu upacara adat khusus. Konon ada warga yang memotong rambut gimbal anaknya dan tak lama kemudian anak itu sakit dan reda setelah rambutnya kembali menggimbal.

Upacara Pemotongan Rambut Anak Gimbal Dieng - source mongabay.co.id
Upacara Pemotongan Rambut Anak Gimbal Dieng – source mongabay.co.id

Pemotongan rambut mereka dikenal sebagai ruwat gimbal. Upacara ruwat gimbal hanya dapat dilakukan apabila anak gimbal yang menginginkannya sendiri dan tidak boleh dipaksa. Sebelum prosesi, mereka diberikan kesempatan meminta barang atau sesuatu yang diinginkan, dan permintaan tersebut harus dipenuhi.

Permintaan anak gimbal sangat beragam dan bahkan terkadang nilainya terhitung sangat mahal untuk ukuran seorang anak kecil. Ada beberapa contoh dimana mereka meminta benda-benda biasa seperti boneka, baju, dan makanan hingga mainan, bebek, kambing, sapi, burung, uang, perhiasan bahkan peralatan gadget canggih.

Usai dipotong, rambut mereka dilarung ke Telaga Warna yang mengalir hingga ke Pantai Selatan. Pelarungan rambut gimbal dimaknai sebagai cara mengembalikan rambut titipan Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence kepada pemiliknya Ratu Kidul.

Dan uniknya adalah setelah upacara tersebut usai kegimbalan mereka berakhir, mereka kembali menjadi anak normal dan rambut mereka yang sebelumnya gimbal pun akan tumbuh dengan normal hingga dewasa kelak. Upacara ruwat gimbal kini telah menjadi salah satu atraksi budaya dalam Dieng Culture Festival yang dilaksanakan tiap tahunnya.

Rambut gimbal mereka bukanlah sebuah aib atau kutukan. Masyarakat setempat mempercayai bahwa itu merupakan titipan dewa. Namun karena apapun kenginan mereka harus selalu dituruti membuat anak gimbal dalam beberapa hal nampak sedikit lebih manja dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak berambut gimbal.

Terlepas dari beragam mitos dan legenda tentang anak gimbal di Dieng dan segala kepercayaannya sebaiknya kita menghormatinya sebagai upaya melestarikan warisan budaya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.