Mio Sporty 2008: Si Kecil yang Menolak Tua dan Pokoknya “Ayo Berangkat!”

Mio-Sporty-2008

Mio Sporty 2008: Si Kecil yang Menolak Tua dan Pokoknya “Ayo Berangkat!

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Aku belum tua untuk sekadar hidup, anak muda. Ayo kita keliling dunia!”

Thexandria.com – Apabila mendengar merk Yamaha, yang paling pertama melintas di kepala adalah sebuah tagline: “Semakin di Depan!”. Betul saja; di saat para kompetitor sibuk dengan aktivitas produksi kendaraan-kendaraan bermotor yang semakin canggih, Yamaha terus bereksplorasi. Paling kentara adalah lahirnya produk alat-alat musik (gitar, keyboard, bahkan drum) yang cukup kontras dari perusahaan yang didirikan oleh Torakusu Yamaha ini.

Namun di artikel ini tentu tidak akan membahas beberapa produk berteknologi mutakhir yang dihasilkan oleh Yamaha beberapa tahun belakangan. Sorotan kali akan tertuju pada salah satu pionir ‘pemecah skena’ motor-motor bergigi pada medio 2000-an. Beberapa di antara kita pasti sempat menyaksikan betapa pada saat itu, lahirnya motor-motor bebek automatic atau akrab disebut motor matic cukup meraih perhatian yang tinggi.

Yak please welcome, dia adalah Mio Sporty 2008.

Banyak dari kita tentu tidak asing lagi dengan motor-motor matic keluaran Yamaha. Mio bisa dikatakan sebagai salah satu yang muncul sebagai pelopor kendaraan matic era modern pada saat itu khususnya. Di sisi lain, hadirnya Mio sebagai kendaraan matic pertama yang populer di Indonesia memantik persaingan yang cukup sehat antar para kompetitor—yang akrab di masyarakat yaitu Honda hadir dengan produk bernama Vario dan Suzuki dengan Spin mereka juga. Mengapa sehat? Tentu karena peningkatan kualitas dan improvisasi fitur yang semakin memudahkan para pengendara-nya.

Baca Juga 8 Trend Bisnis dan Teknologi Teratas di 2021

Ada banyak varian Mio yang telah dirilis pabrikan berlogo ‘garpu tala’ ini, salah satunya model Mio Sporty keluaran 2008. Meski produksinya sudah dihentikan, produk bekas sepeda motor ini ternyata masih banyak diburu masyarakat, salah satunya karena harganya yang terjangkau. Mio Sporty sendiri bisa dikatakan sebagai keluarga matik Mio generasi pertama. Produk ini merupakan upaya terbaru Yamaha untuk menyasar pasar Asia Tenggara yang membutuhkan kendaraan dengan bodi ramping dan mesin berkapasitas kecil. Sebelumnya, Yamaha sempat merilis varian Nouvo pada tahun 2003. Meski tidak sukses secara penjualan, namun produk ini bisa dikatakan sebagai cikal bakal kesuksesan Mio di kemudian hari.

Mio generasi awal dibuat ramping sesuai dengan target awal perusahaan, yaitu sebagai motor kaum Hawa. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena skuter matik ini mampu menyokong penjualan Yamaha Vega dan menjadi tulang punggung pendapatan Yamaha di Indonesia. Di kemudian hari, tidak hanya kaum perempuan yang melirik skuter ini, banyak juga kaum laki-laki yang membeli Yamaha Mio, bahkan sampai membentuk klub sepeda motor.

Di samping itu, keunggulan lain dari Yamaha Mio Sporty adalah memiliki rem yang diklaim lebih pakem dibandingkan para kompetitor di segmen yang sama. Rem yang pakem ini tentunya memberikan efek aman dalam penggunaan sehari-gari. Ini masih ditambah dengan jok atau tempat duduk Yamaha Mio Sporty yang dibuat tebal dan empuk untuk meningkatkan kenyamanan para pengendara.

Belum Ingin Pensiun

Mio Sporty 2008 ini salah satunya masih bertengger gagah di garasi rumah saya. Semenjak menjadi ‘anggota keluarga’ non-manusia dalam sebuah keluarga kecil, eksistensi-nya cukup produktif. Pada awalnya dia diperuntukkan untuk ibu saya karena memang idealnya motor ini sangat cocok untuk dipakai oleh kaum hawa. Seiring berjalannya waktu juga, motor ini terus berpindah tangan: mulai dari bapak hingga ke saya sendiri.

Namun bukannya tanpa masalah, dan saya percaya bahwa setiap barang pasti memiliki kekurangannya masing-masing. Bahkan, Mio Sporty 2008 ini sempat bikin saya dan pemimpin redaksi Thexandria bergeleng-geleng kepala beberapa tahun lalu—tanyakan saja langsung ke beliau.

Pada bagian jantung pacu, Yamaha Mio Sporty menggendong mesin tipe 4-stroke, SOHC, dua katup, silinder segaris, berkapasitas 113,7cc, pendingin kipas, karburator. Dengan modal tersebut, skuter matik ini diklaim mampu meletupkan tenaga maksimal 7,14 kW pada putaran 8.000 rpm dan mencapai torsi puncak di angka 7,84 Nm pada putaran 7.000 rpm, melalui sistem transmisi otomatis. Dengan spesifikasi sedemikian rupa, saya sendiri sempat harus mendorong ketika harus menghadapi tanjakan dengan kecuraman yang hampir menyentuh 90 derajat—ya wajar saja, sekelas Harley juga akan setengah mati berjuang menanjak pada kemiringan segitu!

Ukuran badan yang tergolong lumayan kecil membuat Mio Sporty 2008 ini cukup lincah jika berada di kemacetan. Tentu itu akan sangat berguna untuk orang yang berprofesi dengan tuntutan cepat dan tepat seperti kurir maupun ojek online—mau nitip rudal untuk diantar ke pangkalan militer terdekat pun “Ayo berangkat!”. Tetapi hal tersebut semakin irelevan dengan perkembangan mereka yang berbadan besar. Terkadang saat menunggangi motor tersebut terasa seperti menjadi seekor beruang sirkus dengan sepeda kecilnya, sangat kontras.

Lambat laun, kehadirannya saat ini mulai beralih fungsi ke pekerjaan yang lebih ringan. Tak ingin pensiun terlalu cepat, kini kondisinya cukup prima dan kokoh untuk sekadar membeli sarapan di pagi hari maupun membuang sampah. Memasuki satu dekade, beliau telah dua kali berganti warna badan (body) yang sedari awal berwarna merah kini menjadi lebih elegan dengan warna hitam dope-nya. Hadeh, sudah seperti kakek-kakek gaul yang ingin terus terlihat trendi dan selaras dengan anak-anak muda saja.

Mio Sporty 2008 geberan Reynaldi Pradana lolos dari kepungan Honda Beat di Tune Up Open 2018

Salah satu pemberitaan baik perihal Mio Sporty 2008 ini adalah, pada 2018 di sirkuit Sentul Kecil, di kelas Matik 150 cc Tune Up Open mampu mendominasi di panggung ‘aspal panas’. Serangkaian upgrade yang dilakukan kepada Mio Sporty 2008 garapan mekanik Rusli ‘Wazik’ Susanto dari Armost Motor KDK Racing ini, bisa melumpuhkan dominasi Honda Beat selama gelaran ini berlangsung. Fakta tersebut yang dapat dijadikan acuan bahwa Mio Sporty 2008 masih memungkinkan untuk terus diimprovisasi, bahkan di kapabilitas mesin yang membuatnya mampu untuk terus berlari kencang.

Bahkan untuk sekadar melakukan perjalanan jarak jauh yang santai, nampaknya ia masih sangat mampu untuk mendampingi ‘sang tuan’. Jikapun ia bisa berbicara, pasti ia akan berteriak: “Aku belum tua untuk sekadar hidup, anak muda. Ayo kita keliling dunia!”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.