Mesin Waktu di Synchronize Fest 2019: Killing Me & Club 80’s Reunion

Mesin Waktu di Synchronize Fest 2019 Killing Me & Club 80's Reunion

Mesin Waktu di Synchronize Fest 2019: Killing Me & Club 80’s Reunion

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Mesin yang mendadak tiba di hadapan kami.

“For the last time..

You waste my tears now

No more torment

But don’t just say you’ve gone away”

Telinga pecinta musik tentu tidak asing dengan lirik tersebut, khususnya penikmat aliran yang biasa disebut “underground”, “metal” atau “screamo” pada rentang tahun 2000-2009.

Lirik tersebut disajikan dengan ‘gurih’ oleh suara scream Muhammad Fauzan a.k.a Sansan, yang pada masa itu masih tergabung solid dalam lineup awal Killing Me Inside bersama Onadio Leonardo (bass), Raka Cyril Damar (guitar), Josaphat Klemens (guitar) dan Rendy Pradipta (drum).

Sayang seribu sayang, dalam puncak popularitas yang sedang ditapaki, Killing Me Inside malah ditinggalkan oleh beberapa personilnya. Kita tahu bahwa Raka terlebih dahulu memutuskan untuk keluar dari Killing Me Inside karena memilih berkarir dengan Vierra. Alasan klise untuk bisa sukses di dunia musik dan membanggakan orang tua jadi pertimbangan Raka saat itu.

“Gue diharuskan untuk memilih Vierra yang disebabkan oleh ‘suatu faktor keluarga’ yang sama sekali nggak bisa gue tolak,” katanya di My Space pada saat itu.

Killing Me Inside lalu merilis debut album mereka “A Fresh Start For Something New”. Single A Letter of Memories dan Forever jadi favorit sebagian fans karena liriknya yang dalam dan musiknya yang membius.

Para Killsm Street Team kembali harus menelan pil pahit, ketika personel Killing Me Inside memilih band lain. Yup, kali ini Sansan yang memutuskan untuk fokus membesarkan Pee Wee Gaskins bersama Dochi.

Pee Wee Gaskins dan Killing Me Inside memang tidak bisa dipisahkan pada tahun 2008 dan 2009, dua band ini adalah raja pensi dengan para fans yang sangat fanatik. Beberapa kabar burung negatif tersebar sejak Sansan bergabung Pee Wee Gaskins, tak sedikit pula para die-hard fans akhirnya membenci band pop-punk itu karena dianggap telah ‘merebut’ Sansan dari Killing Me Inside.

Semenjak itulah, Killing Me Inside sedikit kehilangan arah. Terbukti dari transformasi mereka dalam single yang berhasil mereka telurkan tanpa Sansan dan Raka, yaitu single Biarlah menuai berbagai reaksi dari fans Killing Me Inside. Mereka kecewa dengan musik yang tidak lagi sekeras dulu bahkan kini terdengar ngepop.

Tidak bisa dipungkiri Killing Me Inside merupakan salah satu ‘influencer’ pada ordenya. Bahkan penulis sendiri ketika awal pertama kali ngeband zaman SMP sampai SMA tidak jarang membawakan lagu mereka yang bertajuk Tormented.

Kami kagum dengan mereka, pada massa itu di usia yang masih belasan tahun mereka sudah mampu melahirkan lagu dengan komposisi serumit itu!

Synchronize Fest Membawa Sansan, Raka, dan Kami Kembali ke 10 Tahun Lalu

Sansan dan Onad membanting bass setelah penampilan mereka berakhir. (Image Source: Instagram @limatiga)

Perhelatan Synchronize Fest 2019 kali ini sungguh mengobati rasa rindu kami akan masa remaja yang telah menjadi prasasti kehidupan. Festival tersebut ibarat ‘kendaraan’ yang bekerja sebagai mesin waktu membawa kami sebagai penumpang kembali ke masa jaya Killing Me Inside pada saat itu. Hadir dengan formasi lama, Killing Me Inside berisikan Onadio Leonardo, Sansan, Raka Cyril, dan Putra Pra Ramadhan.

Sebelum Killing Me Inside Reunion naik keatas panggung. Tanpa diduga ratusan penonton telah memadati stage. Hal itu membuktikan jika popularitas formasi awal Killing Me Inside masih sangat luar biasa dan ditunggu-tunggu oleh pecinta skena emo Indonesia.

Tampil di hari ketiga Synchronize Fest 2019 (6/10), Killing Me Inside Reunion membawakan lagu-lagu populernya seperti Suicide Phenomena, Forever, dan juga The Tormented. Mereka berhasil mengobati kerinduan para penggemarnya termasuk saya.

Seluruh pihak yang hadir tampak begitu puas dengan penampilan Killing Me Inside Reunion, yang sukses menghadirkan nostalgia scene emo Indonesia di Synchronize Fest 2019. Tapi sebelum para personel Killing Me Inside turun dari panggung. Mereka pun saling berpelukan satu sama lain.

“Panggung yang gak akan pernah gw lupain seumur hidup gw , setelah 10 tahun gak pernah ketemu gilaaaaaaa !!!! Ini lebih ke pengalaman spiritual sih . Thank you guys so much kalian,” tulis Onadio Leonardo di laman Instagramnya (7/10).

Vincent-Desta pun Turut

Salah satu penampilan yang ditunggu oleh banyak pecinta musik tanah air. (Image Source: Instagram @desta80s)

Mengajak pulang sementara bassist Vincent Rompies dan drummer Desta Mahendra menggenapi penampilan ketiga rekannya, Lembu Wiworo Djati, Cliffton Jesse Rompies, dan Yton. Di panggung Dynamic Stage, pada Minggu (6/10), Club Eighties lengkap dengan formasi kelima personelnya.

Baca Juga: Peradaban dari .Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep ‘Anarki’

Membawa Club Eighties untuk kembali bisa manggung berlima, diungkapkan Lembu, membutuhkan upaya hingga tiga tahun. Program Director Synchronize Fest, Kiky Aulia Ucup merupakan orang yang ulet untuk mempertemukan mereka agar bisa kembali sepanggung.

“Mungkin lebih banyak yang nungguin Club Eighties buat manggung bareng lagi. Gue salah satunya. Enggak ada yang bisa diungkapkan lagi, selain mari menyelebrasikan Club Eighties main berlima,” kata Ucup dalam cuplikan di saluran Youtube Campur Campur.

Upaya keras tersebut tentu juga didasari betapa ikonik dan kocaknya para personel Club Eighties di video klip mereka “Gejolak Kawula Muda” dan tentunya rasa rindu akan masa pada saat lagu itu berjaya di era 2000-an.

Para penonton yang memadati arena Dynamic Stage pun riuh ikut larut dalam reuni Club Eighties. Mereka tampil dengan nomor-nomor andalan seperti Cinta dan Luka, Gejolak Kawula Muda, dan Dari Hati.

Terimakasih Synchronize Fest 2019 atas “tumpanganmu”, ternyata masa remaja kami nyata asyiknya!

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.