Merombak Kabinet: Semua Akan Bergabung Pada Waktunya

Merombak Kabinet Semua Akan Bergabung Pada Waktunya

Merombak Kabinet: Semua Akan Bergabung Pada Waktunya

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

So, siapa lagi nih yang bakal bergabung?

Thexandria.com – Mengarungi ‘bahtera’ kabinet yang hampir memasuki dua tahun masa berlayar, mereka akan terus berjuang mati-matian di bawah nahkoda bernama Joko Widodo. Misi utama mereka sepanjang perjalanan adalah tetap menciptakan rasa aman dan menyejahterakan para penumpang hingga sampai ke tujuan. Formasi ‘anak buah kapal’ terbaik yang menjadi analogi posisi menteri dalam bahtera tersebut kemudian diberi nama “Kabinet Indonesia Maju” dan dalam perjalanannya sudah banyak menghadapi terpaan. Terakhir, menteri dalam bidang Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo yang terseret ‘ombak’ korupsi dana ekspor benih lobster. Kemudian disusul oleh Juliari Batubara selaku Menteri Sosial dalam pusaran deras skandal distribusi dana bantuan sosial pada masa pandemi Covid-19.

Untuk mengisi kekosongan tersebut, Jokowi selaku presiden memanfaatkan momentum yang terjadi untuk sekalian melakukan perombakan (reshuffle). Pada Rabu (23/12), secara resmi sang RI 1 melantik enam menteri dan lima wakil menteri untuk melanjutkan tugas dalam Kabinet Indonesia Maju. Pada tupoksinya, enam menteri baru akan melanjutkan program kementerian yang ada sebelumnya, sementara itu lima wakil menteri ditempatkan di lima kementerian yang sebelumnya tidak memiliki nomenklatur jabatan wakil menteri.

Pertama diperkenalkan adalah Tri Rismaharini untuk menapaki posisi Menteri Sosial yang sebelumnya menjabat sebagai Walikota Surabaya. Lalu Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas ditunjuk menjadi Menteri Agama menggantikan Fachrul Razi—meskipun sehari sebelumnya nama Katib Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf lebih ramai di bursa prediksi. Kekosongan pada posisi Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) akan diisi Sakti Wahyu Trenggono, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertahanan. Terakhir, nama Sandiaga Salahuddin Uno yang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Budi Gunadi Sadikin yang ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan cukup hangat menjadi perbincangan.

Kabinet Ini Tarikan Magnet

reshuffle menteri kabinet tahun 2020
Reshuffle Kabinet 2020

Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si mengungkapkan beberapa pandangannya terkait reshuffle yang presiden lakukan kemarin. Dia menyebut, Jokowi terlihat seperti manajer kesebelasan sepakbola yang panik karena waktu bertanding sudah masuk masa injury time tapi masih tertinggal. Situasi tersebut juga bisa dianalogikan sebuah keputusan panic buying dalam bursa transfer sepakbola, dengan pembenaran: “yang penting terisi dan nama besar!”.

“Ini tak ubahnya seperti menumpuk striker (penyerang) dan melupakan benteng pertahanan. Boleh saja Menteri Kesehatan yang baru jago dari sisi manajemen perusahaan, tapi pastilah tidak punya pengalaman dan kapasitas mengelola rumah sakit dan berinteraksi dengan dokter, paramedis atau mengurusi masalah kesehatan. Timbul pertanyaan, apakah akan didorong komersialisasi kesehatan termasuk vaksin?” tambah beliau seperti yang dilansir Pikiran Rakyat.

Ya, pengangkatan Budi Gunadi Sadikin cukup mengundang banyak tanda tanya besar bagi masyarakat. Hal ini disebakan oleh Budi Gunadi yang bukan berangkat dari dunia medis atau kedokteran. Sejatinya Budi Gunardi berlatar belakang pendidikan Teknik Fisika Nuklir dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juga seorang profesional yang cukup banyak makan asam garam di dunia bisnis dan perbankan. Pilihan anti-mainstream untuk posisi Menkes dikhawatirkan menimbulkan polaritas pada situasi yang fluktuatif saat ini. Meskipun jabatan menteri merupakan jabatan yang cukup politis dan tidak membutuhkan linearitas sesuai bidang tugas, memasang Budi Gunardi dalam situasi pandemi ibarat sebuah perjudian besar—semoga tidak.

Lalu ada Sandiaga Uno yang ikut merapat menyusul kompatriotnya selama Pemilu 2019 lalu, Prabowo Subianto yang lebih dulu bergabung sebagai Menteri Pertahanan. Merapatnya Prabowo-Sandi ke lingkup istana sebenarnya menciptakan distorsi. Seperti yang kita ketahui, persaingan antara Jokowi-Ma’ruf melawan Prabowo-Sandi menjadi salah satu catatan kompetisi politik paling panas sepanjang republik berdiri. KPU selaku badan penyelenggara pemilu dan para pendukung kedua paslon mungkin saat ini dalam hati bertanya-tanya: “Lah, kemaren ribut sana-sini ngapa dah?”

Bahkan, kekhawatiran Prabowo-Sandi sempat terkonversi dalam bentuk gugatan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang ditujukan ke Mahkamah Konstitusi. Meskipun, pada akhirnya gugatan ditolak dan keputusan menyatakan tidak ditemukan kecurangan seperti yang dilayangkan penggugat. Tetap saja persaingan ini mampu ‘membelah’ rakyat menjadi dua termin pada saat itu: Cebong dan Kampret. Beberapa orang bahkan memprediksi pasca pemilu nanti akan hadir ‘oposisi biner’ dalam dinamika perpolitikan di Indonesia yang kuat dan strategis posisinya.

Baca Juga UNESCO Tetapkan Pantun Sebagai Warisan Budaya Indonesia dan Malaysia: Cakeppppp!!!

Pemilu tahun 2019 merupakan momentum penting bagi bangsa, tidak hanya dalam konteks pelaksanaan suksesi kekuasaan tertinggi atau sirkulasi kekuasaan legislatif, namun juga bagi terwujudnya demokrasi secara lebih luas. Pasca Pemilu 2019 kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu Pemilu yang berujung pada rekonsiliasi; atau justru menuju kepada polarisasi dalam masyarakat. Masyarakat tentu berharap bahwa langkah yang ditempuh adalah rekonsiliasi. Untuk mewujudkan rekonsiliasi langkah yang harus dilakukan adalah dimulai dari para kontestan politik pada Pemilu 2019—ya mungkin saat ini lah jalannya. Tak berlebihan, keberadaan Sandi di kabinet, misalnya, memperkuat persepsi publik tentang adanya ‘kabinet rekonsiliatif’.

Banyaknya nama kondang dengan latar belakang non-linear bahkan mantan rival politik yang ikut ‘melekat’, mengibaratkan kabinet saat ini bagai sebuah magnet. Deklarasi dan pengenalan Kabinet Indonesia Maju jilid pertama saja cukup membuat banyak orang terpesona. Karena, nama-nama seperti Prabowo Subianto, Nadiem Makarim, Wishnutama Kusubandio, Erick Thohir, Tri Rismaharini hingga Sandiaga Uno dianggap sebagai orang-orang terbaik di bidangnya. Semua akan bergabung pada waktunya, tinggal menunggu ‘panggilan’ saja.

So, siapa lagi nih yang bakal bergabung?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.