Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com, Tak satupun yang pahami bingungku.

Penggalan lirik lagu berjudul Titik Jenuh dari sebuah band bernama Biru Tamaela yang sangat membekas di ingatan saya sebagai seseorang yang pernah mengalami masa dimana hari-hari terasa kelabu dan kelam.

Lagu tersebut sangat relate dengan saya pada masa itu. Untung saja kini saya sudah bisa menikmati lagu tersebut tanpa embel-embel bayangan kelam tersebut.

Dan saya pahami bahwa titik jenuh adalah suatu hal yang hampir pasti pernah di alami oleh setiap insan di dunia ini mengingat pasang surut kehidupan ini, tak terkecuali kamu lho sobat pejuang.

Entah apa alasan maupun bentuknya, ia seakan mendampingi kehidupan kita dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk dan acapkali menggangu produktivitas hidup kita.

Maka dari itu saya mencari cara untuk mengatasi hal ini.

Saya seringkali berbicara dengan orang-orang yang se-umuran dengan saya. Entah itu hanya nongkrong haha hihi biasa hingga diskusi mendalam tentang pandangan masing-masing terhadap suatu hal.

Biasanya saya berkumpul bersama orang-orang muda ini bertujuan untuk menyerap semangat meraka.

“masa muda masa yang berapi-api.”

Kata pak Hj. Rhoma Irama dalam lagunya telah menegaskan pandangan saya tentang konsep ini. Bahwa memang sudah seharusnya para pemuda memiliki semangat juang yang tinggi.

Bukan berarti orang yang lebih tua sudah tidak semangat lagi lho sobat pejuang. Karena mereka adalah orang yang lebih dulu lahir dari kita dan telah banyak “makan garam” dalam kehidupan ini.

Bagi saya, berbicara dengan mereka yang lebih tua adalah tempat yang tepat untuk menyerap kebijaksanaannya.

Sampai disini saya telah memetakan tempat-tempat dimana saya bisa mendapatkan semangat dan tempat dimana saya bisa mendapatkan kebijaksanaan.

Manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan satu sama lain dalam kehidupannya. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk saling berbagi ya sobat pejuang! Baik materi maupun non materi.

Ada pula sebuah kisah dimana kawan saya pernah terjatuh di titik jenuh dan bagaimana cara ia bangkit dari itu. Telah menyemangati saya untuk terus berjuang.

Ada seseorang yang dapat berterus terang bahwa dia sedang “terjatuh” dan adapula yang meskipun diluar ia terlihat bahagia dan terus tertawa sana-sini namun sebenarnya menyimpan perasaan sedih dalam hatinya dan tak tau dimana jalan keluarnya.

Itulah saat dimana kalian para sobat pejuang untuk merangkulnya. Atau setidaknya, dengarlah.

Biasanya, orang yang mengalami fase jenuh, gairah nya menjalani hidup memudar, dan yang tidak disadari, jenuh adalah sebuah kalkulasi dari kesedihan, yang sadar atau tidak, apabila telah memuncak, ia layaknya sebuah gunung es, akan meluruh, hingga menciptakan apa yang disebut jenuh.

Entah bagaimana, tapi yang jelas, di fase itu, keengganan untuk berbicara atau mengobrol seringkali adalah sebuah hal tabu. Tabu dalam artian, perasaan jenuh tak selayaknya dibagi.

Maka dari itu, coba hubungi teman-temanmu yang mungkin saja sedang di fase itu dan ajak untuk berbicara. Mungkin dia menolak. Tapi setidaknya kita sadar bahwa kawan kita ini butuh sebuah rangkulan untuk bangkit. Setidaknya, empati dan simpati kita dirangsang untuk peka.

Semoga saja dia bisa segera terbuka dan bersedia untuk meraih rangkulan tanganmu.

Yang sulit adalah apabila mereka menolak untuk bicara. Kita tidak bisa memaksa mereka. Karena untuk bangkit dari titik jenuh membutuhkan kesediaan dari dirinya sendiri.

Yang lebih sulit lagi adalah apabila mereka tidak bersedia dibantu. Namun terus menganggap bahwa tak satupun orang bersedia membantunya.

Hey! Titik jenuh, depresi, kesedihan berlebih atau masalah apapun namanya itu bukan ajang untuk pamer ya.

Baca Juga: Mengambil Jeda Untuk Menyegarkan Tubuh dan Pikiran

Jika kalian mengalaminya jangan sungkan untuk meminta bantuan dari kawan-kawan terdekat kalian. Atau jika kalian merasa masalah kalian terlalu besar maka hubungilah para spikiater yang menawarkan jasa konsultasi dan penyembuhan yang sesuai dengan kapasitasnya untuk mengatasinya.

Atau bila sedang merasakan mood yang tiba-tiba sering berubah, mempertanyakan kembali makna hidup, the purpose of life?

Sebenarnya, tidak perlu risau, itu hal normal, di usia muda, adapula yang namanya half quarter crisis.

Mau bagaimana lagi? Pada akhirnya, hidup mungkin saja memang perkara sebuah pembelajaran dan pencarian. Kadang kala, kita tidak punya pilihan selain menyikapi dan menikmatinya.

Intinya kalian juga harus mau berjuang untuk bangkit. Bukannya berlarut-larut dalam masa kelam itu.

Bergerak dan melangkah, yakin semangatmu kembali.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.