Menyoal Etika Kepemimpinan Bu Risma yang Nangis Sambil Sujud

Etika Kepemimpinan Bu Risma yang Sujud

Menyoal Etika Kepemimpinan Bu Risma yang Nangis Sambil Sujud

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Siapa melakukan apa? Dan apa dampaknya?

Thexandria.com – Walikota Surabaya, Ibu Risma kembali menjadi spotlight lantaran sujud di hadapan Ikatan Dokter Indonesia. Diketahui Bu Risma melakukan hal tersebut saat audiensi bersama IDI Jatim dan IDI Surabaya di Balai Kota Jalan Wali Kota Mustajab. Ia bahkan mengaku goblok dan tak pantas menjadi wali kota.

Risma menangis karena tidak bisa atau sulit berkomunikasi dengan RSU dr Soetomo, padahal dirinya mengaku sudah membuka dan membangun komunikasi berkali-kali. Dia mengharapkan warganya yang terkena COVID-19 bisa dirawat di RSU dr Soetomo.

Dalam audiensi tersebut, Bu Risma juga meminta agar pihaknya jangan terus disalahkan.

Sementara itu, Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono memaparkan kepada Risma bahwa ada pasien yang tak bisa dirawat dengan optimal, karena kondisi rumah sakit yang overload. Hal itu membuat rumah sakit tak mampu lagi menampung pasien. Akibatnya sejumlah pasien pun meninggal dunia. 

Dalam kronologi yang tersebar luas, di saat itulah Risma sujud dan menangis.

Sudarsono mengatakan selain terjun langsung di IGD, Poli dan ruang isolasi untuk merawat pasien Covid-19, ia juga seringkali mendapatkan permintaan konsultasi dari dokter rumah sakit rujukan lain. 

Ia juga bercerita bahwa dirinya sempat menangis saat dimintai tolong oleh pasien yang membutuhkan ruang perawatan. Namun karena kapasitas yang penuh, ia mengaku tak bisa berbuat apa-apa. 

Ia lantas mempertanyakan persoalan yang di hulu, sehingga pasien corona terus membludak dan membanjiri hilir, atau rumah sakit. 

“Kita itu yang di hilir (rumah sakit) dikasih (mendapatkan banyak pasien) terus saban hari, berarti yang di hulu (masyarakat) ini ada apa,” ujarnya. 

Sudarsono mengakui Risma telah gencar mengingatkan masyarakat Surabaya untuk tertib protokol kesehatan. Namun, nyatanya masih banyak warga yang tak perduli. Hal itu dilihat oleh mata kepalanya sendiri. Bahwa di jalan-jalan dan gang-gang di Surabaya masih banyak ditemui warung kopi yang buka.

Mendengar pernyataan-pernyataan Sudarsono itulah, Risma menjawab, “Mohon maaf Pak Sudarsono, saya memang goblok, nggak pantas saya jadi Wali Kota Surabaya,” ujar Risma.

Etika Kepemimpinan dan Ketegaran Seorang Pemimpin

Apa yang dilakukan Risma dan terekspos di media nasional dengan sujud dan nangisnya itu, banyak diaminkan publik sebagai ekpresi dari keletihan seorang Risma yang berjibaku menanggulangi wabah pandemi yang dampaknya luar biasa. Pun, segolongan kecil ada pula yang apatis dan menganggapnya pencitraan semata. Saya tak mengatakkan itu pencitraan. Menangis itu satu hal, yang lebih penting adalah, kita harus fokus pada ‘siapa melakukan apa dan apa dampaknya?’.

Pada kasus Bu Risma, kita mengetahui siapa beliau, ya, orang nomor satu di Surabaya. Sosok Walikota yang dianggap mampu membawa perubahan di Kota Surabaya. Apa yang dilakukan Risma? Ia bersujud dan menangis serta mengatakan dirinya goblok dan tak pantas menjadi Walikota karna persoalan wabah pandemi di Kotanya. Apa dampaknya? Ini menarik.

Mc Combs and Shaw
Mc Combs dan Shaw

Ada sebuah teori dalam ilmu komunikasi, yang disebut teori agenda setting. Teori ini dikembangkan oleh Mc combs dan Shaw (1972). Teori Agenda Setting beranggapan apabila media memberikan tekanan pada suatu peristiwa maka, media tersebut akan membuat masyarakat menganggap peristiwa itu penting. Dalam hal ini, media mempunyai efek yang sangat kuat dalam mempengaruhi asumsi masyarakat. Sehingga akan muncul asumsi bahwa apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting oleh masyarakat.

And this is why it is so important. Ini soal etika kepemimpinan.

Baca Juga Sebuah ‘Legacy’ Akan Nonsense Jika ‘Dinegasikan’

Kita kesampingkan dulu bahwa—ya menangis itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Namun, tidak untuk seorang pemimpin. Tidak bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, etika kepemimpinannya akan menjadi persoalan. Sebagai seorang pemimpin, jabatan yang diemban Risma membawa beban dan dampak psikologis serta spirit dari masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam bukunya “Modern public administration”, Felix A. Nigro (1965), menyatakan bahwa kepemimpinan adalah memengaruhi aktivitas orang lain.

Dengan menangis, mengatakan goblok ke diri sendiri, ditambah bersujud, dan terekspos luas di media. Kepemimpinan Risma jelas akan mempengaruhi perspektif dan daya juang masyarakatnya yang sama-sama sedang berjuang melawan pandemi. Alih-alih mengasihani sosoknya sebagai manusia biasa, mengkritisi ketegaran dan kinerja kepemimpinannya sungguh jauh lebih penting.

Sehingga, kita bisa mengetahui jika ketegaran dari seorang pemimpin mutlak diperlukan, agar psikologis massa sejalan dengan apa yang ditampilkan pemimpinnya.

Akan lebih bijak, bila tangis dan sujud itu disimpan dan dihadirkan dalam keheningannya mengadu pada Tuhan semata. Karena konsekuensi sebagai pemimpin, ibaratnya harus mampu tetap tersenyum walau di belakangnya ia sedang dihujani pisau. Pemimpin harus tegar dan rela terluka, agar yang dipimpinnya, tidak menjadi panik dan disorientasi (kehilangan arah).

Kemudian apa? Move on. Fokus pada problem solving dan manajemen krisis. Dengan sudah tergelarnya audiensi dengan para dokter. Diketahui bahwa banyak ditemukan sistem birokrasi, komunikasi serta disiplin masyarakat yang seperti benang kusut. Maka tugas pemimpin untuk mengurai benang tersebut, dengan ketegaran dan keteguhan hati seperti singa tentunya.

Terakhir, pemimpin akan dijadikan contoh dan teladan, sehingga etika dalam memimpin harus betul-betul dipahami, baik level organisasi, perusahaan, sampai jabatan politik setingkat Walikota sampai Presiden.

Soal ketegasan dan manajemen krisis, saya jadi teringat dengan pemikiran Hobbes. Thomas Hobbes mengibaratkan negara sebagai Leviathan, sejenis monster (mahkluk raksasa) yang ganas, menakutkan dan bengis, yang terdapat dalam kisah perjanjian lama.

Mahkluk ini selalu mengancam keberadaan mahkluk-mahkluk lainnya dan dipatuhi perintahnya. Maka dari itu, ia muncul ketika siapa pun yang mencoba melanggar hukum negara.

Semangat terus, Bu Risma!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.