Menyikapi Usulan Menko PMK Soal si Kaya Agar Menikahi si Miskin dengan “Cukup Siti Nurbaya”-nya Dewa 19

si kaya menikahi si miskin

Menyikapi Usulan Menko PMK Soal si Kaya Agar Menikahi si Miskin dengan “Cukup Siti Nurbaya”-nya Dewa 19

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Beberapa waktu lalu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memberi sebuah ide usulan yang nyeleneh, ia menyarankan agar Kementerian Agama agar bisa menerbitkan fatwa terkait pernikahan lintas genre ekonomi.

Apasih yang dimaksud Pak Menteri dengan pernikahan lintas ekonomi?

Oh masih ada, belenggu ruang cinta~

Seketika intro dimulai…

Lintas ekonomi yang dimaksud adalah, si orang kaya wajib menikahi si orang miskin.

Please nikahin aku, aku missquen~

Niatnya sih mulia, kata Muhadjir, ini dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan baru beserta tafsir agama soal pernikahan yang harus dilakukan antara dua orang yang setara atau kufu.

“Mbok disarankan sekarang dibikin Pak Menteri Agama ada fatwa; yang miskin wajib cari yang kaya, yang kaya cari yang miskin,” kata Muhadjir.

Loh he? Wait, wait, sarannya pak Menteri gak jelek-jelek banget kok, “yang miskin wajib cari yang kaya”, hasyah kalo yang itu mah gak perlu di fatwa-in, karena sudah fardu ain’.

Tapi yang ini nih, yang jadi polemik, “yang kaya cari yang miskin”. Kasian dong, pak! Alih-alih berharap pemerataan, justru malah melahirkan diskriminasi, kasian atuh, yang kaya udah kerja keras, eh nggak boleh dapat pasangan yang juga ‘gemar’ kerja keras.

Cukup Siti Nurbaya yang Mengalami!

Paragraf awal diatas, bila ada kesan agak menyetujui saran dari Pak Muhadjir, adalah guyonan semata, hakikatnya, kami berpandangan, bahwa usul yang dilontarkan, adalah sebuah bentuk diskriminatif cinta yang membabi buta. Alias pengekangan. Alias kemunduran.

Perihal cinta memang unik, kita sering menunggangi definisi cinta dan kebebasan dengan dalih-dalih kemapanan, memang itu perlu, tapi bila hak untuk bebas memilih dipasung?

Maka lunturlah nilai-nilai kemanusiaan, akibat terkontaminasi dengan cuan dan cuan. Tapi memang ini jaman edan, realitas di lapangan, materi–cenderung selalu menjadi patokan–dan yang paling parah, apabila sampai negara berencana mau ikut-ikutan!

Kami sangat bersyukur, mas Ahmad Dhani pernah menciptakan karya lagu yang ternyata tak hanya monumental, namun juga relevan dengan perkembangan zaman. Cukup Siti Nurbaya.

Lagu dengan iringan distorsi apik dari Andra Ramadhan memberi isyarat tekanan pemberontakan yang gak cuma memikat, tapi juga menggugat.

Lengkingan dan power Ari Lasso memantaskan “Cukup Siti Nurbaya” menjadi one of the best indonesian music rock–ever.

Tapi rasanya tak pantas, bila segala pujian tak terpatri kepada sang pujangganya, Ahmad Dhani yang menulis lirik. Dhani secara cerdas nan jenius, merekam fenomena cinta yang kerap di setir, membalut susunan lirik dengan tingkat intelektualitas yang tinggi, menggelitik dan menusuk langsung kepada para aktor dominan–orang tua–yang tak merestui hubungan karna kendala ekonomi.

Siapa sangka, lagu yang rilis pada tahun 90-an itu selalu linier dengan perkembangan zaman–cinta yang dipaksakan–yang dijodohkan–yang oh sayang, loh he?!

Pesan yang tersirat dan tersurat dalam lagu tersebut, sangat cocok disandingkan dengan usulan Menteri Muhadjir tentang kewajiban si kaya menikahi si miskin dan sebaliknya. Karena isinya sama, hanya bungkusnya yang berbeda.

Usulan mengenai kewajiban menikahi seseorang berdasarkan segmen ekonomi, sama saja dengan menjodohkan Siti Nurbaya dengan aki-aki tua yang berduit!

Baca Juga: I’m a Lucky Girl Knowing They Are Exist

Oke, cooling down, toh, cuma usulan, jadi dengan sendirinya, kritikan kami juga menjadi guyonan semata. Lah ngapain diseriusin, hidup toh cuman perkara guyon! Pak Muhadjir juga guyon lah pasti. Mending nyanyi aja, yuk?

Oh! Masih ada, belenggu, ruang cinta

Meresap kini di dinding zaman, mencoba-coba, kikis naluri

Agitasi MURAHAN yang ada lagi

Saat katanya, itu bukan dogma

Uh!

Katakan…

Ooo…

Pada mama

Ooo…

Cinta bukan hanya HARTA dan TAHTA

Pastikan…

Ooo…

Pada semua…

Ooo…

Hanya CINTA yang sejukkan dunia…

Bukan itu pak menteri…

Bukan itu pak Muhadjir Efendy

Bukan itu pak menteri…

Bukan itu pak Muhadjir Efendy

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.