Menyibak Kabut Misteri pada Kasus “Orang Gila” Tusuk Pemuka Agama

Menyibak Kabut Misteri pada Kasus Orang Gila Tusuk Pemuka Agama thexandria

Menyibak Kabut Misteri pada Kasus “Orang Gila” Tusuk Pemuka Agama

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

Thexandria – Salah satu pemuka agama Islam, yang juga adalah seorang da’i kondang, Syekh Ali Jaber, menjadi korban penusukan orang tak dikenal, saat sedang ceramah di Masjid Fallahudin, Bandar Lampung, (13/09/20). Dalam serangan itu, Ali mengalami luka tusuk cukup dalam, hingga mendapat 10 jahitan. Pelaku penusukan, yakni Alfin Andria bin M Rudi, sejauh ini diduga mengalami gangguan kejiwaan dan masih dalam pemeriksaan polisi.

Publik rasanya tak cukup kaget mendengar dugaan sementara pelaku—yang ditenggarai mengalami gangguan kejiwaan. Karena, peristiwa penusukan terhadap pemuka agama, bukanlah sebuah kejadian kriminal biasa. Melainkan telah menjadi femomena misteri yang hingga kini tak jelas muaranya.

Syekh Ali Jaber juga bukanlah pemuka agama pertama yang menjadi korban penusukan oleh ‘orang gila’.

Pada rentan waktu 2017 akhir sampai pertengahan 2018 silam, penusukan terhadap pemuka agama masif terjadi. Dari data yang diperoleh dari Bareskrim Mabes Polri, sejak Desember tahun 2017, terdapat 21 peristiwa kekerasan terhadap pemuka agama.

Di Aceh, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, masing-masing kota itu terjadi 1 peristiwa. Sementara Jawa Timur sebanyak 4 peristiwa dan Jawa Barat yaitu 13 peristiwa. 

Dan hasil penyelidikan dari Kepolisian, mengungkapkan bahwa semuanya murni kasus kriminal. What the heck.

Memang terkesan tricky, bila pelaku yang dianggap atau diakui atau terlihat sebagai orang gila melakukan tindakan kriminal, jerat hukum dapat dengan sendirinya “ter-aborsi”. Lha wong yang nusuk gila, mau dipenjara-pun mereka mungkin fine-fine saja~

Baca Juga: Ironi Rutan Salemba: Kepingan Tersembunyi Kehidupan Penjara di Indonesia yang Suram

Namun, melihat masifnya kasus yang pernah terjadi dan sasarannya selalu pemuka agama, fenomena kasus ini malah menegaskan bahwa sangat mungkin adanya design terselubung yang sampai kini sulit terkuak.

Semua kasus memiliki pola yang sama. Orang gila-menusuk-pemuka agama-dan terjadi di banyak kota.

Orang Gila Bisa ‘Diprogram

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai, penyerangan terhadap pemuka agama, terbaru penusukan terhadap Syekh Ali Jaber, bukanlah sebuah faktor alamiah.

Reza menilai bahwa pelaku bisa saja diprogram. Yang dengan kata lain, orang gila sebenarnya bisa diarahkan atau diprogram,

“Yang diprogram adalah sebatas perilakunya. Sehingga dia berperilaku seperti kehendak si programmer. Sementara kewarasannya (berpikirnya) tetap terganggu,” kata Reza, mengutip dari SINDOnews.

Namun, untuk mengetahui sejauh mana pemprogaman terhadap orang gila ini, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut.

Senada dengan Reza, Pengamat Intelijen Soeripto, malah telah jauh lebih dulu berkata demikian, hal tersebut dikemukakan saat merespon masifnya penusukan terhadap pemuka agama 2018 silam, yang kami lansir dari republika.co.id, “Operasi penyerangan seperti ini bisa menggunakan orang gila. Mereka bukan didoktrin, seperti orang waras, tapi mereka direkayasa suasana jiwanya, disentuh sisi emosinya,” ungkap Soeripto yang dikenal sebagai tokoh intelijen ‘tiga zaman’ ini, Rabu (21/2/18).

Orang gila yang akan dioperasikan ini, kata dia, dipelajari dulu dimana sisi emosinya tersentuh. Kapan orang-orang gila ini mudah terpancing, dan bertindak agresif dan kapan dia menjadi tenang.

Setelah dipelajari sisi emosinya, kemudian disentuh emosinya tersebut, hingga kemudian orang gila yang siap dioperasikan ini akan bertindak agresif. “Jadi, orang gila pun sangat bisa untuk dioperasikan,” ujarnya.

Mantan staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) periode 1967-1970 ini mengatakan telah ada contohnya. Salah satunya, kasus pembunuhan Presiden AS John F Kennedy. Pelaku pembunuhan Kennedy, menurutnya, latar belakang kejiwaannya tidak stabil. Tapi pelaku berhasil membunuh Kennedy.

Secara nalar orang awam memang sulit diterima, bagaimana orang gila bisa menentukan targetnya. Tapi bagi Soeripto, dalam pengetahuan intelijen, kemampuan observasi dan mengidentifikasi orang dengan tepat itu bukanlah mustahil. Dan setelah itu barulah mereka diprogram.

Dan yang bisa melakukan hal semacam ini, menurutnya, adalah mereka yang punya kemahiran dan pengetahuan untuk melakukan operasi intelijen tertutup, bukan terbuka.

Operasi terbuka biasanya dilakukan orang biasa, mereka memiliki pengetahuan secara umum. Tapi kalau operasi tertutup dioperasikan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan khusus, dan biasanya memiliki kemampuan operasi intelijen yang baik.

“Jadi dari analisa deduktif spekulatif saya pasti ada yang ‘ngerjain’ artinya ada rekayasa.”

Ia menyimpulkan, walau benar secara medis penyerang didiagnosa gila, tapi pelaku bisa direkayasa melakukan penyerangan kepada pada orang orang tertentu.

Korelasi dengan Tragedi Banyuwangi

Bila kemudian fenomena misteri penusukan kepada para pemuka agama ini ditarik lebih jauh, maka akan ditemukan persamaan pola dengan apa yang disebut ‘Tragedi Banyuwangi 98’.

Mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara, BIN, As’ad Said Ali sebagaimana melansir dari bbc.com, mengatakan, kasus-kasus dugaan penganiayaan dan teror terhadap pemuka agama di Jabar dan Jatim ini mirip dengan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet di Banyuwangi pada 1998.

“Itu pernah terjadi dulu, seperti kasus dukun santet di Banyuwangi, yang pakai pola orang gila juga. Karena orang gila tidak bisa diusut, tiba-tiba kasus menjadi hilang,” kata As’ad Said Ali, menganalisa.

Image Source: Detikcom

Kasus ‘Tragedi Banyuwangi’-pun, menguap ditelan waktu. Tak jelas siapa dalang intelektualnya. Hanya saja, spekulasi terus menguat di akar rumput. Maka dari itu, dengan adanya kasus penusukan pemuka agama pada 2017, 2018, dan teranyar—syekh Ali Jaber, alih-alih memaklumi sebagai kriminal biasa yang dilakukan orang gila, malah justru menuding adanya ‘kekuatan yang tidak terlihat’ sebagai dalang intelektualnya.

Baca Juga: Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Karena itulah, jangan heran bila warganet, dengan sendirinya menemukan profil sosial media dari pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, Alfin Andria. Publik makin tak yakin, bagaimana mungkin orang gila mempunyai Facebook dan Instagram—dan tidak terlihat seperti orang gila.

Untuk meredam spekulasi yang sudah terlanjur menyebar di masyarakat, Kepolisian harus dengan cepat dan transparan dalam mengungkap kasus ini.

Get well soon, Syekh Ali Jaber.

Semangat, Polri.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.