Menyambut Tentara Super, Gladiator Militer Masa Depan

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Robot datang! Robot datang!”

Mungkin seruan itu yang akan keluar dari mulut Paul Revere ketika memberitahu kedatangan pasukan Inggris apabila peperangan pada tahun 1775 tersebut terjadi di masa depan. Paul Revere sendiri adalah seorang pahlawan revolusioner Amerika Serikat yang dikenang bukan karena perjuangannya dengan senjata, tapi karena dia bertindak sebagai alarm dengan kode khusus yang ia buat ketika mengendus kedatangan pasukan Inggris.

Dari pengumpulan data intelejen melalui jaringan internet, penembakan misil melalui pesawat tanpa awak, sampai kendaraan militer yang mampu memiliki kecerdasan buatan otonom sesuai dengan kondisi peperangan. Semua elemen peperangan yang biasa dipegang dan dikendalikan tentara secara tradisional kini mampu dikerjakan secara sistemik oleh mesin.

Karena besar kemungkinan adanya korelasi yang signifikan jika berhipotesis jauh ke masa depan tentang bagaimana teknologi bisa mempengaruhi kehidupan manusia ke seluruh aspek kehidupan. Perkembangan teknologi terbaru yang banyak dikembangkan untuk meringankan pekerjaan manusia adalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tak luput dalam dunia militer. Dalam hal ini yang pertama-tama dijadikan barometer untuk melihat bagaimana penerapan secara eksplisit yaitu negara superpower, Amerika Serikat. Asisten sekretaris tentara AS divisi Akuisisi, Logistik, dan Teknologi, Bruce Jette, mengungkap kecerdasan buatan ini di masa depan akan memudahkan penggunaan senjata, dari yang tadinya manual ke terautomasi.

Ia justru meyakinkan masyarakat untuk tidak khawatir dengan pengaruh kecerdasan buatan ke persenjataan AS. Pasalnya, kehadirannya tidak akan mendominasi, justru bakal membantu para tentara.

“Banyak orang khawatir apakah kecerdasan buatan mengontrol senjata secara keseluruhan. Padahal faktanya, kami membatasi bagian mana yang bisa dikuasai oleh kecerdasaan buatan dan bagian mana yang masih harus dilakukan oleh manusia,” kata Jette.

Berlomba Menyambut Masa Depan

AS melalui Pentagon mencoba untuk membuat tentara super mereka sendiri. Merekrut sejumlah tim untuk mengembangkan antarmuka syaraf, yang memungkinkan manusia mengontrol mesin dengan kekuatan pikirannya. Ini merupakan kombinasi antara telekinesis dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Mereka berharap teknologi kecerdasan buatan bisa mengantisipasi perubahan konstan pada sistem syaraf dan melakukan rekalibrasi sistem secara otomatis sehingga koneksi antar pikiran dan alat bisa terus terjadi. Dengan konklusi, tentara super siap dikendalikan dengan kehendak otak manusia secara real-time.

Tidak hanya itu, lebih dari 70 negara telah menggunakan pesawat tak berawak – kendaraan udara yang mampu mengumpulkan intelijen, atau mencari, dan kalau perlu, mengeliminasi target. Di awal kemunculannya, keputusan semacam itu diambil oleh seorang operator melalui kendali jarak jauh.

Baca Juga: Misteri Mars yang “Bernyanyi” dan Pemikiran yang Tenggelam dalam Ketidakmungkinan

Namun kini pesawat tak berawak sudah dapat diprogram untuk bermanuver sepenuhnya secara otonom. Dalam hal ini, Militer China tak mau kalah dengan tentara AS, mereka baru saja mengembangkan drone dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan juga memperkenalkan truk perang terbaru yang mampu meluncurkan rudal serta drone.

Lihat juga bagaimana Russia berhasil meluncurkan robot antipeluru seberat 4,5 ton yang bisa berjalan dan menahan senjata dalam cakar raksasanya. Robot yang dibuat oleh Kalashnikov, sebuah produsen senapan serbu “sejuta umat” AK-47, rupanya sangat mirip robot dalam film Avatar dan Robocop.

Aspek riset dan pengembangan juga mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah Russia, terbukti dari pengembangan Robot tempur Nerekhta, yang sedang dikembangkan Yayasan Rusia untuk Proyek Penelitian Canggih dan Pabrik Degtyarev, dirancang untuk melawan mesin lapis baja. Robot ini memiliki tiga modul yang meliputi, tempur, transportasi, dan pengintaian artileri. Modul tempurnya akan dilengkapi dengan senapan mesin Kord atau Kalashnikov (AK) dalam varian yang berbeda.

Negeri Ginseng atau Korea Selatan juga dikabarkan mulai merancang robot perang. Untuk menghadapi perang di masa depan, Korsel membuat robot menyerupai manusia dan hewan. Meskipun masih berupa rencana, Korsel bisa memicu persaingan serupa di kawasan. Apalagi Korsel sudah menarget “biorobot” ini sudah bisa digunakan dalam lima tahun ke depan.

Daerah yang tanahnya sedang berkonflik juga menyiapkan segala aspek sebagai tindakan preventif sebelum muncul dampak yang tidak diharapkan. Ini terlihat dari teknologi militer milik Israel, yaitu robot pengawas perbatasan yang andal, satelit pengintai mini, hingga tangker mata-mata yang dapat bersembunyi di bawah tanah dan membuat pusing militer negara lain.

Abu-Abu Manfaat dan Resiko

Dari sudut pandang militer, langkah menuju tentara mekanis amatlah logis: robot tidak kenal lelah, mereka dapat melakukan manuver yang lebih berisiko daripada pilot manusia, yang selalu menghadapi ancaman tertembak jatuh. Bukan berarti kendali jarak jauh tanpa batasan; Komunikasi antara sistem dan operator membutuhkan waktu beberapa detik, yang dapat menentukan kesuksesan atau kegagalan sebuah misi.

Bagaimana pun dalam prosesnya, peperangan sangat menguras materi, tenaga dan waktu. Maka tidaklah heran sangat mudah untuk memahami bagaimana daya pikat pasukan infanteri berbasis robot ini. Selain biaya tak terhitung yang datang dengan menempatkan tentara di garis tembak, ada juga biaya pelatihan, pemberian makan, penyediaan dan perumahan mereka selama operasi militer aktif. Ketika pertempuran berhenti, tagihan untuk program veteran, pensiun dan perawatan medis terus menumpuk. Seperempat dari permintaan anggaran Pentagon pada 2012 adalah untuk hal-hal seperti di atas. Para pengamat mengatakan tentara robot tidak hanya membantu menjauhkan manusia dari bahaya, tetapi juga mengurangi biaya operasi dan pemeliharaan pasukan militer A.S.

Kekhawatiran yang muncul terkait penggunaan robot tempur adalah tidak memiliki pertimbangan layaknya manusia. Sehingga banyak kemungkinan yang terlintas di kepala para pakar bahwasannya robot-robot ini nanti akan memunculkan kesempatan untuk membuat peperangan lebih mudah atau akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Karena robot tempur hanya menjalakan perintah sesuai dengan algoritma dalam prosesor sistem yang telah ditetapkan sesuai tujuan tanpa mempertimbangkan hal lain berkaitan dengan kemanusiaan, resiko kerugian materiil lainnya.

Karena sejumlah organisasi HAM sejak lama telah menyatakan keprihatinan akan bahaya penggunaan senjata-senjata robot yang bekerja dengan kemampuan pengambilan keputusan otonom.

David Mepham, kepala Human Rights Watch di Inggris, mengatakan, “Satu hal yang mencegah kita melakukan tindakan barbar dalam perang, adalah kemampuan kita untuk membedakan mana tentara dan mana orang sipil. Tapi kami khawatir akan munculnya senjata robot yang tidak bisa membedakan antara seorang anak kecil yang sedang memegang sebungkus es krim dengan orang yang memegang senjata.”

“Karena kita (manusia) tidak dapat secara bersamaan mencegah dan bersiap untuk perang.”

Source Image: digit.fyi

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.