Menteri Masa Gitu dan Opini Jelek Imam Darto

Menteri Masa Gitu dan Opini Jelek Imam Darto

Menteri Masa Gitu dan Opini Jelek Imam Darto

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Rokoknya pak menteri apa ya? Korupsinya banyak bener.”

Thexandria.com – Situasi dalam negeri belakangan ini nampak seperti api asmara remaja, yha cukup bergejolak—entah masa muda kurang bahagia atau terlambat pubertas di usia yang menginjak 75 tahun. Dimulai dari pemberitaan besar dari kegiatan ‘memancing’ yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Analogi memancing tersebut direfleksikan sebagai operasi tangkap tangan yang mendapatkan panen besar.

Tangkapan besar pertama yang didapatkan adalah Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo yang terlibat kasus korupsi dana ekspor benih lobster. Hal ini menjadi perayaan bagi beberapa orang yang kontra terhadap kebijakan ekspor benih lobster. Kebijakan tersebut dinilai akan merusak ekosistem asli atau bahkan kepunahan lobster di Tanah Air dan juga akan membahayakan kedaulatan pangan bagi Indonesia.

Tak ayal banyak anggapan bermunculan bahwa bu Susi Pudjiastuti adalah sosok paling tepat dalam memegang kendali Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bu Susi yang independen dan tak terikat satupun dengan partai politik dahulu menjelma sebagai ‘Ratu Laut’ selama beliau menjabat—Siapa berani melawan? Tenggelamkan!

Kasus major kedua adalah tertangkapnya Menteri Sosial, Juliari Peter Batubara dalam kasus penyaluran bantuan sosial Covid-19. Saat ini beliau sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan sedang menjalani penyelidikan. Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu diduga menerima suap senilai 17 Miliyar dari dua pelaksanaan paket bantuan sosial terkait sembako untuk masyarakat yang terdampak secara eknomi pada masa pandemi ini.

Tersiar kabar bahwa pak menteri beserta beberapa jajarannya ‘men-diskon’ paket bantuan sebesar Rp 10.000 untuk kemudian masuk ke kantong rakyat miskin mereka. Terdapat “Sial” dalam kata  Sosial yang entah mengapa relevan bagi kita untuk mengumpat; “Sial, gatau diri dan ga punya nurani bener kondisi orang pada susah gini masih sempet mencuri!”

Menteri kelautan yang tidak cinta ekosistem laut Indonesia dan menteri sosial yang tidak ada semangat sosial-nya sama sekali membuat kita yakin, bahwa benar peribahasa: aneh bener anda sekolah tinggi masih nilep 10 ribu “Tak ada gading yang tak retak.”. Duit 10 ribu itu bagai ‘nafas’ lho bagi anak kos-kosan yang merantau, pak. Dengan jumlah segitu, bagi anak kos seperti kami dapat mengganjal perut dengan nasi pecel atau mie instan.

Niat bapak motong 10 ribu itu sebagai ongkos kirim (ongkir), biaya admin, apa gimana, sik? Udah kayak panitia flash sale belanja online anda, pak.

Gaji sebagai menteri itu besar, lho. Itupun belum ditambah dengan tunjangan jabatan, insentif  tindak korupsi yang tak kasat mata dan lain-lain. Oleh karenanya masyarakat cukup heran dan menambah trust-issue terhadap pejabat baik di level eksekutif-kementerian, legislatif dan bahkan yudikatif.

Dengan korupsi besar-besaran seperti itu, secara pribadi membuat saya penasaran: “Rokoknya pak menteri apa ya? Korupsinya banyak bener.” yang kemudian menimbulkan anggapan bahwa tak ada semangat welfare state di dalam filter rokok pak menteri. Udahlah, paling bener itu percaya sama menteri di permainan catur. Meskipun jalannya miring, niatnya tetap lurus—memakan musuh dan tidak makan uang rakyat di kala situasi sulit.

Eh, kalo pak Luhut gimana? Kepala, pundak, Luhut lagi, Luhut lagi.

Apa Salah Mbak Gal Gadot?

Di saat situasi seperti ini, setiap orang mengeluarkan opininya yang kemudian memberikan kita banyak sudut pandang. Salah satunya yang ramai adalah langkah penindakan kasus korupsi yang cukup kontroversial, yaitu penjatuhan hukuman mati atau tidak. Banyak pihak yang setuju karena sudah ada beberapa kondisi yang memungkinkan, dan ada yang tidak setuju karena alasan hak asasi manusia (HAM). Terlepas dari pembahasan yang ‘berat-berat’ seperti itu, muncul sebuah opini dari seorang selebriti yang menambah semarak linimasa. Adalah Imam Darto, salah satu presenter yang cukup dikenal di dunia hiburan dengan opininya:

Dari cuitan akun Twitter-nya di atas, mencerminkan bahwa Imam Darto adalah orang yang realistis-materialistis-nafsuistis. [halah]

Baca Juga ‘BTS Law’ Adalah Fenomena Dimana Popularitas dapat Melampaui Kebijakan Publik

Pendapat mantan host acara malam ini dinilai benar adanya, ya lihat saja pak menteri yang tertangkap. Apa yang ada di kepala Imam Darto adalah isi kepala pak mneteri saat mendapatkan iming-iming Rp 17 Miliyar. Setelahnya, Imam Darto mencoba melanjutkan twit sebelumnya agar tak salah faham dengan sebuah analogi yang menurut warganet tidak ‘apple to apple’.

Menjadikan Gal Gadot sebagai objektifikasi dalam analogi berbau sensualitas sebenarnya tidak perlu—mbak Gal Gadot lagi baca buku di rumahnya, eh kena juga. Kasian banget, sabar ya mbak Gal Gadot.

Ya, salah satu bentuk normalisasi dari Imam Darto terhadap tindak korupsi itu dianggap sebagai salah satu opini jelek. Sebagai public figure, opininya pasti akan dibaca khalayak ramai termasuk anak-anak di bawah umur yang jati dirinya masih terombang-ambing.

Dengan klasifikasi opini jelek sebenarnya tidak bermakna membatasi dan bermaksud menjatuhkan. Setidaknya perkataan tersebut masih bisa dihargai sebagai sebuah opini yang merupakan hak dari Imam Darto sendiri. Meskipun, pada akhirnya ia meminta maaf dan menarik kata-katanya tersebut.

Blunder dan klarifikasi, isn’t it right?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.