Menjejaki Aksi Demo UU Cipta Kerja di Balikpapan Selama Dua Hari

Demo Tolak UU CIpta Kerja di Balikpapan

Menjejaki Aksi Demo UU Cipta Kerja di Balikpapan Selama Dua Hari

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Panjang umur kebenaran

Thexandria.com – Pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja mengalami aksi penolakan secara masif, di seluruh wilayah Indonesia. Tak hanya buruh yang turun ke jalan, gelombang penolakan berujung demonstrasi juga datang dari hampir seluruh mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), mengumumkan untuk menggelar aksi nasional pada tanggal 8 Oktober 2020. Serentak di seluruh Provinsi. Tak terkecuali, Kota Balikpapan.

Dan kami (Thexandria) terus memantau situasi dari sosial media dan rekan-rekan mahasiswa, baik yang di Samarinda maupun di Balikpapan.

Berbicara mengenai demonstrasi di Samarinda, kericuhan dan aksi represif dari pihak keamanan bisa dikatakan adalah sesuatu yang sering terjadi. Berbeda halnya dengan Balikpapan, yang sejak dari demonstrasi besar mahasiswa menolak RUU KPK dan RKUHP pada 2019 silam, maupun gelaran aksi jauh sebelumnya, aspirasi mahasiswa di Balikpapan, selalu berakhir dengan tertib.

Baca Juga Let’s Talk About This Shit (UU Cipta Kerja)

Atas dasar itulah, kami tak pernah menyangka bahwa demo menolak UU Cipta Kerja di Balikpapan pada tanggal 8 Oktober akan berujung ricuh, meskipun, penulis sendiri sebenarnya sudah memiliki firasat yang mengatakan bahwa demonstrasi kali ini akan chaos. Yea, for the first time.

Pada hari H, massa berkumpul di simpang tiga BC, dan melanjutkan long march ke depan Gedung DPRD.

Para orator kemudian menyuarakan aspirasinya yang diikuti oleh gempita massa.

Sementara aparat Kepolisian bersama unsur Brimob, berjaga penuh di dalam gedung DPRD.

Massa terus membludak, kami tiga orang memencar, fotografer bersama satu orang tim menyaru dan berkeliling dalam kerumunan massa. Sedangkan penulis, masuk kedalam barikade Kepolisian, guna mendapat sudut pandang lain.

Sinyal bahwa demonstran UU Cipta Kerja di Balikpapan kali ini “berbeda” dengan demonstran ketika memprotes RKUHP dan RUU KPK kemarin, semakin jelas ketika massa melakukan aksi pembakaran ban—atau entah apa sejak awal demo berlangsung. Yang dimaksud “berbeda”, adalah spirit dan amarah yang nampaknya telah terakumulasi lebih jauh.

Massa melakukan aksi pembakaran ban
Massa melakukan aksi pembakaran ban

Orator memekikan gaung-gaung perlawanan, seperti, “hidup mahasiswa!”, serta nyanyian spontan dari massa yang menghardik legislatif, “DPR Goblo*”, atmosfer terasa makin panas, Polisi meminta massa agar sedikit mundur. Namun, alih-alih menggubris, massa semakin berani bergerak maju, serta menyanyikan lagu untuk aparat kepolisian yang biasanya santer terdengar pada ajang sepakbola, “tugasmu mengayomi… tugasmu mengayomi… Pak Polisi… Pak Polisi… Jangan ikut kompetisi…”.

Beberapa perwira Polisi nampak sibuk hilir mudik, mengatur pasukan huru-hara agar stand by face to face dengan massa. Gedung DPRD terasa sesak, beberapa lemparan botol sempat terjadi, penulis sendiri sampai beberapa kali harus menundukan kepala.

Massa menuntut agar Anggota DPRD keluar, atau mereka dibiarkan masuk. Beberapa diantaranya, ada yang menaiki pagar, lemparan botol kembali terjadi, bahkan lebih banyak dari yang pertama. Pasukan anti huru-hara menjadi target amukan sembari massa berusaha merobohkan pagar gedung DPRD.

Dengan pengeras suara, perwira Brimob meminta massa menahan diri, tak digubris, situasi semakin mencekam.

Hingga, “duar! Duar! Duarrr!!!”, Tembakan gas air mata memecah keriuhan, massa berhamburan, ada yang kekanan, ada yang kekiri.

Baca Juga Oh (Mungkin) Ini Alasan Pak Terawan Tak Berkenan Hadir ke Mata Najwa

Penulis waktu H-1 aksi, sempat kepikiran untuk meminta tim menyediakan pasta gigi, untuk lebih siap jika sewaktu-waktu tembakan gas air mata meletus. Namun apa dinyanya, penulis lupa.

Nafas yang menyesak serta mata yang perih, sempat membuat penulis disorientasi, lalu mundur ke arah belakang gedung DPRD. Setelah situasi agak tenang, penulis buru-buru menuju jalanan depan gedung DPRD.

Suara sirine meraung-raung membahana angkasa. Mobil rantis baracuda Brimob serta mobil watercanon nampak menghadang massa yang bertahan di depan masjid At-Taqwa Balikpapan.

Sirine ambulans juga tak mau kalah, petugas PMI nampak berjibaku mengevakuasi demonstran yang pingsan—mayoritas mahasiswi.

Beberapa demonstran yang dituding provokator ditangkap oleh aparat yang berseragam preman. Sementara di dekat penulis, seorang petugas nampak tergopoh-gopoh membawa sebuah kardus yang berisi peluru gas air mata.

Massa nampak terpecah di dua titik, satu di jalan sebelah kantor Walikota, satu lagi dengan massa yang lebih banyak, di depan masjid At-Taqwa.

Pasukan anti huru-hara memasang barikadenya, sementara juga, tim yang lain mengabarkan, bahwa massa juga banyak yang mengevakuasi diri ke dalam masjid At-Taqwa. Tempat wudhu penuh, massa mencari air untuk membasuh muka dan mata yang sudah kepalang perih.

Psikologis massa nampak shock. Ini mungkin kali pertama mereka merasakan gas air mata.

Gas air mata diantara massa dan aparat
Gas air mata diantara massa dan aparat

Warung-warung di sepanjang area demo tutup. Petugas kemudian sempat melakukan inspeksi dan meminta demonstran keluar, “Ayo, keluar! Keluar!”.

Tak lama kemudian, Komandan Kodim sempat menemui massa dan menghimbau agar semua menahan diri. Seorang demonstran menimpali, “Polisinya suruh jangan tembak, lagi, pak! Kasihan ini banyak perempuan pingsan,” kata seorang demonstran muda yang wajahnya dipenuhi pasta gigi.

“Iya, sudah saya minta rekan-rekan kepolisian menahan diri. Tapi teman-teman juga harus bisa menahan diri, jangan terprovokasi, ya..”

Massa terus bertahan, meski beberapa kali sempat terdengar kembali tembakan gas air mata.

Menjelang petang, aparat kembali menghimbau massa untuk membubarkan diri karena dinilai akan mengganggu ketertiban. Koordinator aksi melakukan rapat singkat di areal masjid, lalu sepakat untuk membubarkan massa.

Namun sebagian massa ada yang menolak. Sebagian tetap berkerumun di jalanan, dan sebagian di dalam area masjid.

Saat itu, kami mencari koordinator aksi, guna meminta statement. Tetapi ia menolak dan kami tetap bersikeras, lalu ia nampak mengalah, atau entah kasihan melihat kami. Salah seorang koordinator aksi mengarahkan kami untuk menemui humas demonstran. Kami lantas terus mengikuti kemana mereka pergi.

Baca Juga Badan Intelijen Negara yang Kian Militeristik dan Bikin Gak Asik

Kami memasuki area perumahan warga dan memasuki gang-gang sempit. Disana, sejumlah orang melingkar sibuk berdiskusi.

Salah seorang diantaranya, ada yang nampak sibuk menelfon, menanyakan situasi dan keberadaan teman-temannya—yang kemudian baru kami tau, bahwa dialah orang yang akan memberikan statement kepada kami (statement bisa didengar di postingan instagram thexandria).

Dalam diskusi mereka, juga terlintas sedikit perdebatan tentang apakah akan ada aksi lanjutan dan kebingungan dengan massa yang disinyalir telah disusupi.

Demonstrasi Lanjutan (9 Oktober 2020)

Entah karena kebiasaan menulis di larut malam atau memang karena agak letih, setelah dering tiga kali panggilan tak terjawab, baru penulis sadari bahwa sekarang adalah pukul lima sore.

Salah satu panggilan tak terjawab berasal dari tim Thexandria, yang mengabarkan bahwa ia telah di lokasi demo lanjutan, massa disinyalir dua kali lebih banyak, Walikota Balikpapan sempat menemui demonstran dan terdapat beberapa ormas yang juga turun aksi, situasi tak kalah panas dengan kemarin.

Penulis cepat-cepat bersiap menuju lokasi, dan mengutuk keterlambatan bangun hari ini.

Saat tiba dan berjalan kaki menuju lokasi, massa yang berpakaian serba hitam tampak berlarian menjauhi lokasi, penulis agak kesulitan berjalan karena melawan arus massa.

Terdengar juga teriakan tolong, banyak ditemukan mahasiswi tergeletak pingsan yang kemudian dipapah ke rumah-rumah warga. Hardikan para demonstran juga tak kalah kencang, “polisi ******! Sudah jangan tembak terus!”, Suara tembakan gas air mata masih bersahut-sahutan, demonstran nampaknya lebih siap ketimbang kemarin, terlihat lebih banyak pasta gigi di wajah mereka.

Dengan susah payah, penulis sampai di depan masjid At-Taqwa, massa berkerumun di areal masjid. Dan ternyata barikade polisi dan mobil-mobil baracuda-nya kali ini lebih jauh kedepan dari hari kemarin.

Kawat berduri di depan Gedung DPRD
Kawat berduri di depan Gedung DPRD

Seorang demonstran mengingatkan saya agar berhati-hati, dan memberi tahu bahwa di depan gedung DPRD dipasangi kawat berduri, aparat seperti berjaga lebih daripada demo kemarin.

“Duar! Duarr!!!” Tembakan kembali terjadi, mata penulis terasa sangat perih, penulis segera mundur dan sempat diberi air oleh pendemo, “abang, gapapa, bang? Ini bang, basuh mukanya pake air”, penulis yang masih sulit melihat, segera meraih botol air mineral dan menyiramkannya ke wajah.

Dering handphone berbunyi, tim Thexandria meminta agar bergabung di dekat barikade polisi.

Saat melewati barisan polisi, seorang petugas meminta penulis untuk pulang, namun penulis mengabaikannya dan mengatakan bahwa penulis seorang jurnalis. Ada juga suara dari petugas yang agak intimidatif, namun tidak penulis gubris.

Setelah berhasil berkumpul dengan tim, fotografer Thexandria menunjukan beberapa foto dan rekaman yang menunjukan tindakan-tindakan dari oknum, seperti pemukulan dan hal-hal lain yang tidak dapat dipublikasikan dengan alasan keamanan Thexandria.

Suara dari pengeras Masjid terdengar, menghimbau agar demonstran tidak mengotori areal masjid, dan meminta aparat berhenti melakukan tembakan gas air mata, karena akan memasuki waktu sholat magrib.

Himbauan dari Masjid At-Taqwa tersebut rupanya cukup efektif. Tembakan gas air mata yang sudah seperti suara petasan ketika tahun baru, menghening.

Komandan Kodim, lagi-lagi menghampiri massa, dan bersedia memfasilitasi kepulangan demonstran.

Sementara di jalan raya, aparat terus bergerak maju memukul mundur demonstran. Setelah maghrib, aparat terlihat menarik mundur pasukannya.

Angkatan 2020

Penulis memiliki kesimpulan sendiri mengapa aksi demonstrasi menolak disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja di Indonesia dan khususnya di Balikpapan, memiliki magnet yang lebih kuat dari demo-demo sebelumnya.

Rasanya pantas, apabila mahasiswa, para kaum intelektual ini—yang memang sudah semestinya menjadi motor penggerak, dinisbatkan menjadi gerakan penghela sejarah, sejak terakhir tahun 98 silam.

Baca Juga Upaya “Pembungkaman” Terhadap Media yang Kritis Melalui Peretasan

Karena ditengah represi, resesi, dan pandemi, mahasiswa masih mampu melakukan “koreksi” terhadap keputusan-keputusan pemerintah.

Fenomena ini, turut menghadirkan katarsis-katarsis baru, seperti penggemar K-pop yang speak up tentang pandangan politiknya, maupun ungkapan kritik pada pemerintah dalam sosial media meskipun ditengah ancaman jerat UU ITE.

Di Balikpapan sendiri, kesadaran akan jati diri mahasiswa yang tak sekedar sebagai kaum intelek, namun juga sebagai evaluator pemerintah, terlihat jelas dari jumlah massa yang turun.

Massa Demo Tolak UU Cipta Kerja di Balikpapan
Massa Demo Tolak UU Cipta Kerja di Balikpapan

Kemudian, akses pemberitaan sosial media, juga turut andil dalam “mengilhami” pergerakan mahasiswa Balikpapan yang lebih masif, terstruktur dan sistematis. Dan yang terpenting, akses sosial media telah mengikis kegengsian serta antipati anak muda Balikpapan, sehingga bisa lebih proaktif dalam isu kebijakan nasional.

Faktor kejenuhan akibat pandemi dan euforia akan gegap gempita demonstrasi juga tak boleh dilupakan.

Akhir kata, gelagat kecanggungan pemerintah dalam UU Omnibus Law Cipta Kerja, sudah kadung dilihat oleh tidak hanya mahasiswa, namun juga elemen masyarakat sipil yang lain.

Yang teranyar, draft final UU Omnibus Law baru dikirim kepada Presiden. Ini tentu menjadi komedi lucu yang telah ditebak punch line-nya oleh penonton.

Panjang umur kebenaran.

Sekian.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.