Menjadi Sufistik Ketika Sakit (Mistikus Cinta)

Menjadi Sufistik Ketika Sakit (Mistikus Cinta)

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Kemarin. Ketika ‘libur’ menulis–karena sakit. Saya agak terkejut dengan respon tim kecil thexandria. Dengan segala kepolosannya, mereka tetap fighting–merasa bertanggung jawab agar thexandria–bagaimanapun caranya, agar tetap bisa mengudara.

Saya yang awalnya risau, menjadi terenyuh.

Ditengah-tengah satu windu agar kembali pulih, saya justru bersyukur mendapat jeda waktu untuk kembali menyelami lingkar perjalanan hidup. Selain halnya daripada itu, saya semakin meyakini, bahwa demam yang datang, tak semerta perkara medis. Ada proses pengguguran kesalahan-kesalahan dalam kepercayaan yang saya yakini. Lantas saya berusaha bertafakur.

Saya juga menemukan diri saya yang lain. Yang begitu terasing, seperti halnya Ibnu Battutah, pengelana yang tak pernah menulis jurnal perjalanannya.

Dalam keadaan tubuh yang payah serta wajah yang layu. Begitu tak ada hasrat untuk bermimpi. Saya juga tak lagi membayangkan proses keberpetualangan ke kota-kota yang lain, pertemuan dengan orang-orang baru, atmosfer kebekuan menyebar ke segala lini pikiran.

Rasanya tak ada yang special dari keinginan-keinginan saya selama terbaring di kasur. Mimpi saya menghilang begitu saja, seperti panah yang lepas dari busurnya.

Ketika memejam, saya juga menemukan kilas masa lalu yang kemudian menjadi terpikirkan tanpa diminta.

Saya dan begitu juga anda semua, berawal dari segumpal darah. Lalu ditiupkan ruh, hingga sembilan bulan kita begitu terlindungi di dalam plasenta. Hingga yang terdengar pertama kali ketika kita lahir, adalah tangisan yang membahana.

Saya tak pernah meminta atau merencanakan untuk lahir. Namun juga, kita tak ujug-ujug begitu saja berada di kehidupan.

Dan ketika Tuhan berkata, tak ada diciptakan Jin dan manusia, selain untuk menyembah kepadanya, di kala terbaring dengan payah itulah, saya menyadari benar ketentuan daripada itu. Karena matinya mimpi, dan proses berpikir yang mengalun pelan itu, menyampaikan hasrat hanya untuk ingin bersimpuh dalam kasihNya.

Karena kedamaian hanya akan terasa ketika tak ada lagi yang ingin kita lakukan, ketika kita merasa sepertinya telah sampai kepada batas waktu yang telah ditentukan. DariNya kita ada, dan kepadaNya kita kembali.

Namun juga, ada satu ganjalan yang membuat wajah saya berpeluh bukan main. Noda-noda dosa, dan ketempat mana saya akan kembali? Mengingat tumpukan kesalahan yang begitu membumbung, saya ketakutan.

Beruntung saya mendengar nasihat. Bahwa kita tak usah takut atau risau mengenai perkara hidup dan kehidupan seusai kematian. Tak perlu mengurusi segala ketetapan. Karena sejatinya, kita adalah makhluk yang tidak penting. Ketakutan dan kerisauan yang terlahir, itu ada karena kita merasa sebagai makhluk yang penting. Padahal, jika kita membalik perspektifnya dan merasa bahwa kita itu tidaklah penting, perkara kerisauan itu tak akan menjadi soal. Malah, akan berujung pada kepasrahan dan keberserahan.

Dan itu dia, melihat kembali kepada entitas empirik yang ada. Gugusan kosmologi yang tercipta, kita memang hanya debu-debu di alam semesta. Maka dimana letak pentingnya kita?

Gugurlah kerisauan saya. Cukuplah satu hakikat keyakinan itu sampai menyentuh sanubari. Bahwa kita kecil, Ia besar. Kita tak memiliki daya dan upaya, Ia berkuasa atas segalanya.

Mungkin, mungkin saja ketika Tuhan belum menjadi Tuhan. Ia ‘bergumam’ jika “Aku ada untuk disyukuri”.

Kenapa saya katakan ketika Tuhan belum menjadi Tuhan? Karena ketika Tuhan belum menciptakan segalanya, bahkan kalam dan penaNya. Tak ada yang tahu siapa Tuhan.

Maka kita ada, untuk bersyukur atas kehadiratNya.

Baca Juga: Mengenai Hakikat Roh Dalam Dogma Islam

Dan sebab itulah, mengumandangkan rasa syukur adalah perjalanan spiritual yang sangat fundamental.

Maka kita perlu, untuk melakukan itu diwaktu-waktu sendiri, dan tidak saat sedang diberi kenikmatan. Satu rasa syukur yang intens, antara makhluk dan penciptanya.

Karena jangan-jangan, ucapan syukur kita, tertutupi dengan segala kenikmatan. Tidak intens, tidak ada cumbuan yang merasuk ke jiwa. Hanya ungkapan raga dan hasrat yang sekedar terpenuhi.

Terjemahan-terjemahan kita akan hidup, sebetul-betulnya hanya akan bermuara ke satu hal. Ketika kita bangun pagi, kita menemukanNya. Ketika kita melihat matahari yang terbit dan terbenam, kita menemukanNya.

Ketika kita melihat deburan ombak, kita melihatNya. Ketika kita naik ke puncak gunung, menyentuh awan, dan melihat gunung-gunung yang lain, kita melihatNya. Hingga benarlah firmanNya, Ia lebih dekat dari urat nadi.

Saya belum pernah menjadi agak sentimen dengan kesembuhan. Karena saya kembali dihadapkan dengan realitas keduniaan yang begitu muslihat dan penuh dengan hijab yang menutup. Saya kembali kepada kebutaan. Mungkin itu sebabnya, banyak para sufi yang memilih menyendiri dan menjauh dari dunia.

Percumbuan saya berakhir seiring diangkatnya demam yang sejak sepekan terakhir menjadi perantara saya memelukNya erat-erat.

Izinkan saya kembali lagi. Suatu hari nanti, dengan percintaan yang kaffah. Paripurna dalam satu. Tak ada dua, tiga, empat, atau lima.

Special thanks to Gus Baha, Syekh Abdul Qadir Jailani, Jalaludin El Rumi

Share Artikel:

One thought on “Menjadi Sufistik Ketika Sakit (Mistikus Cinta)

  1. Kita benar-benar tidak mengetahui apa-apa 😇
    Tidak ada Allah, yang ada hanya aku. Tidak ada aku, yang ada hanya Allah. ~siti jenar

Leave a Reply

Your email address will not be published.