Menjadi Saksi Hidup Bagi Televisi yang Semakin Lekang

Menjadi Saksi Hidup Bagi Televisi yang Semakin Lekang

Menjadi Saksi Hidup Bagi Televisi yang Semakin Lekang

Televisi bukanlah kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, sesungguhnya orang akan meninggalkan kedai kopi dan pergi bekerja.

Charles Sykes

Penulis Clarenza Adela | Editor Dyas BP

Thexandria – Kilas balik ketika diri ini masih sekecil biji mengkudu, hiburan di rumah bukanlah Ipad, bukan juga tablet apalagi dilengkapi WiFi berkecepatan maksimal. Boro-boro beli gituan, Nintendo aja nggak dibelikan sama orang tua. Kasihan dan sedikit ironi sekali kalau mengingat masa lalu tersebut. Tapi dulu hiburanku kalo nggak Game Boy, mainan masak-masakan (ituloh yang piringnya plastik, wajan-nya plastik juga), ya televisi (TV). Zaman diriku masih seimut hamtaro, nonton televisi adalah hal yang tidak pernah terlewatkan satu hari pun. Pada saat itu, televisi kuanggap sebagai sahabat baik. Buktinya apa? Kalo di rumah sendirian, televisi bakal aku nyalakan sekencang-kencangnya biar di rumah serasa ada orang padahal cuma aslinya cuma sendiri doang. Apakah sudah terlihat sebagai penemuan atau sekadar ide birilian nggak tuh?

Kalau mengingat Carlita De Angel dan si Tante Rambut Palsu, Cat and Dog, Chalkzone, Blues Clues, Are You Smarter Than a Five Grader?, Dora The Explorer, Jimmy Neutron, Mr. Bean, Drama Korea Indosiar tiap sore, sinetron ular terbang by Gentabuana Paramita, dan Sinetron-sinetron ABG yang membuatku ingin segera dewasa (maksudnya jadi anak SMA gitu), aku jadi terharu. Kemana mereka pergi? Walaupun ada beberapa yang masih tayang sampai sekarang, itupun intensitas tayangnya tidak sebanyak dahulu. Ya, meskipun sebagian besar sinetron zaman sekarang jauh dari kriteria memuat unsur education value atau moral value. Hal ini mendapatkan pembenaran lewat alibi mereka (para produsen sinetron) yang lebih mengedepankan entertainment value—ya, sekali lagi, sebuah pembenaran retorik lewat kalimat ‘perisai’: “mari menghibur masyarakat!”.

Salah satu judul sinetron yang menuai kontroversi.

Sepertinya waktu begitu cepat hingga sekarang aku menyadari bahwa aku adalah generasi televisi. Generasi yang ketika kecil masih nonton televisi tabung gede bukan televisi LCD yang tipis seperti sekarang. Generasi yang nggak mengenal TikTok, Instagram, Pansos, Push Rank, dan apalah itu kawan-kawanya.

YouTube. Fenomena besar yang merampas (hampir) habis kepopuleran televisi. Diluncurkan pada tahun 2006, Youtube berhasil menjadi platform Video terbesar di dunia dengan pengguna lebih dari 1.8 milyar users log in setiap bulannya seperti dikutip dari Business Insider—angka yang cukup fanstastis. Lalu apa kabar dengan televisi? Kata para Youtuber sendiri sih: “Youtube lebih dari TV” sih ternyata memang benar adanya. Smartphone sekarang harganya rusak, murah abis. Hal ini belum ditambah ramainya layanan streaming video maupun film berbayar seperti Netflix, Disney+, Viu dan lainnya. Sajian tayangan yang berkualitas membuat para penikmat hiburan tidak ‘sayang’ untuk mengeluarkan uang tiap bulan atau tahun untuk layanan streaming tersebut.

Baca Juga Cerita Dibalik Foto Paling Fenomenal: Albert Einstein yang Menjulurkan Lidahnya

Siapapun bisa membeli dan punya smarthphone, yang penting ada duitnya. Begitupun dengan kuota internet, bertebaran juga dengan harga yang beragam murahnya. Dan, WiFi sekarang bisa dibayar dengan secangkir kopi saat kita sekadar ingin bersantai di luar kantor atau pun rumah. Sekarang semua orang bisa merasakan namanya kekuatan digital dari semua gawai yang semakin futuristik. Pernah nih aku naik bemo terus supirnya ngeluarin smartphone yang ternyata lebih canggih dari smarthphone punya aku sendiri. Apa aku jadi supir bemo aja, ya?

Lalu mengapa Youtube bisa menggeser posisi televisi di kehidupan millenials maupun lintas generasi saat ini? Bukanya kalo mau buka Youtube bayar pake kuota, pulsa, internet? Televisi kan gratis? Kecuali jik televisi berlangganan, ya. Tapi mengapa Youtube bisa se-powerful itu? Jawabannya:

Gaya Hidup Antum, Burhan!

Bukan waktu yang menggeser kepopuleran televisi. Gaya hidup lah yang membuat televisi semakin berdebu. Tidak pernah disentuh oleh si pemiliknya. Remot-nya sampe hilang entah ke mana—parah lu. Sampai-sampai, di atas televisi tersebut ada sarang laba-laba yang suatu saat bisa menjelma menjadi sebuah peradaban baru, loh.

Gambar Ilustrasi

Praktis dan menarik. Dua kunci mengapa nagh zaman now terbiasa dengan gaya hidup nonton televisi di YouTube. Dengan YouTube, kamu bisa nonton televisi di mana saja dan kapan saja. Dengan televisi, kamu hanya bisa nonton di rumah. Dengan YouTube, kamu bisa membuat tayangan yang kamu dan orang lain ingin tonton. Kamu bisa berkreasi, memainkan imajinasi, dan menuangkan ide secara visual dan audio. Tak hanya bebas berkreasi, kamu bisa menjadikan YouTube sebagai ‘tambang uang’ jika kamu serius membuat konten yang menarik dan bermanfaat.

Konklusi dan analogi-nya, jika ingin disukai dan dicari orang, kamu harus up to date dan dinamis seperti YouTube. Kalau tidak, nasibmu akan seperti televisi yang mulai ditinggalkan penontonya karena mereka sudah beranjak dewasa dan terpikat oleh betapa luasnya YouTube. Apakah kalian mau ‘dicampakkan’ seperti televisi? Jika saja televisi bisa berbicara, mungkin dia sudah marah-marah dan meronta agar para penontonya tetap menontonya setiap siang sepulang sekolah. Kalau kamu merasa terlalu kaku, berkolaborasi lah dengan orang-orang yang lebih fleksibel. Kalo nggak gitu, tidak akan ada istilah “nonton televisi di YouTube” atau “nonton YouTube di televisi” dan kata televisi tidak akan pernah disebut lagi setelah kemunculan Youtube.

Jadi, kamu suka film adzab yang judulnya apa?

Share Artikel:

One thought on “Menjadi Saksi Hidup Bagi Televisi yang Semakin Lekang

Leave a Reply

Your email address will not be published.