Menjadi Perempuan dan Merasa Tidak Aman

Menjadi Perempuan dan Merasa Tidak Aman

Menjadi Perempuan dan Merasa Tidak Aman

Penulis Clarenza Adela | Editor Dyas BP

Kita setara ataupun tidak setara, melukai, merugikan dan membahayakan orang lain adalah kejahatan.

Thexandria.com – Kalau aku bisa memilih jenis kelamin sebelum dilahirkan, mungkin aku akan memilih untuk jadi laki-laki daripada perempuan. Tapi kalau bisa, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan sama sekali. Dunia terlalu keras dan kejam, Bung. Ternyata oh ternyata 20 tahun-an lalu aku lahir sebagai perempuan. Damn it. Should I say thanks or else? Thank God …

Tumbuh di dalam lingkungan yang membuat aku terekspose dengan teknologi, media massa, dan komunitas masyarakat membuatku jadi pribadi yang senang mengobservasi dan ingin tahu tentang kabar di luar sana. Tak jarang media massa meliput tentang kasus-kasus mengerikan seperti pembunuhan, pemerkosaan, atau perampokan yang mana membuat diriku bergidik tapi juga penasaran dengan profil korban, pelaku, dan kasus yang terjadi. Dari tahun ke tahun, masa ke masa, waktu ke waktu aku dapat kesimpulan dari berita-berita yang aku serap bahwa menjadi perempuan itu menakutkan dan berbahaya. Nggak ada jaminan tempat aman bagi perempuan dimanapun, bahkan di rumah sendiri.

Kasus pemerkosaan, pelecehan dan yang berujung pembunuhan semakin gila-gilaan. Jangan bicara di luar negeri, di Indonesia sendiri kasus seperti itu sangat banyak. Mulai dari yang besar (sampai diliput media) sampai yang mikro (tidak diketahui) pun aku percaya sangatlah banyak.

Baca Juga Inilah ‘Kunci’ yang Bisa Bikin Kamu Cantik Selamanya! No Clickbait

Beberapa minggu lalu terjadi kasus pemerkosaan di Aceh Timur terhadap seorang ibu (DA) berusia 28 tahun. Saat peristiwa berlangsung sang anak bernama Rangga dibacok si pemerkosa sampai tewas karena melawan pelaku dan membela sang ibu, lalu pelaku memperkosa sang ibu di rumah milik kedua korban tersebut. Pelakunya pun dikabarkan meninggal Sabtu tanggal 18 Oktober 2020 setelah satu minggu ditangkap dan ditahan di sel tahanan karena sakit. Secara otomatis, pelaku tidak akan bisa diadili sesuai perbuatan bejatnya tersebut. Aku nggak tahu harus bicara apa tapi semoga kejadian keji ini tidak lagi terjadi dan ibu Rangga diberi ketabahan. Di lain sisi hujan pujian terhadap sosok Rangga terus diamini oleh warganet dengan menyematkan gelar ‘Malaikat Kecil’ dan mengirim doa terbaik untuknya.

Rangga, bocah yang harus tewas setelah membela ibunya dari pelaku pemerkosaan.

Lalu ada lagi di Korea Selatan yang dikenal dengan nama Pembunuhan Hwaseong yang sangat populer sampai dijadikan Film berjudul Memories of Murder. Pada tahun 1986-1991 yang mana pembunuhan berantai yang terjadi di Kota Hwaseong, Korea Selatan (baca di sini) dan korbannya 10 perempuan semua disertai pemerkosaan dan pelecehan. Itu belum seberapa dan hanya dua kasus besar. Coba saja cari di mesin pencarian populer, betapa beragamnya kasus-kasus berkaitan dengan perempuan yang membuat saya sebagai perempuan juga ikut merasa takut dan tidak aman.

Tak hanya kasus ekstrim seperti itu, menjadi perempuan membuatku kadang jadi tidak bebas. Tidak bisa keluar malam, naik angkutan umum, dan bepergian sendiri dengan bebas tanpa dihantui rasa takut dan khawatir. Laki-laki seringkali menjadi ancaman dan sumber dari ketakutan dari menjadi perempuan. Itu mengapa tadi aku bilang ingin dilahirkan jadi laki-laki saja. Meskipun laki-laki tidak terjamin hidupnya bakalan aman dan bebas dari bahaya, tapi paling bisa lebih aman dan kemungkinan untuk mendapatkan tindakan kriminal bisa lebih diatasi dan diminimalkan. 

Para aktivis, komunitas sampai lembaga yang melindungi perempuan pun sebenarnya sudah banyak. Tapi keberadaan mereka belum bisa dikatakan efektif karena biasanya mereka akan hadir ketika pasca-kejadian. Perlu adanya tindak preventif, saat sebelum dan ketika kejadian pelecehan dan kekerasan berlangsung—kondisi yang membuat keberadaan aktivis dan komunitas perlindungan perempuan tidak bisa berbuat apa-apa.

Hanya ada diri kita sendiri yang berjuang dan melindungi diri. Inilah yang membuat aku berpikir lagi bahwa menjadi perempuan itu isinya merasa tidak aman mulu. Dilindungi sih iya, tapi itu nggak cukup. Kita butuh perubahan melalui society, pendidikan, hukum, dan fasilitas pelayanan publik agar ketika perempuan ada di ranah ruang publik atau privat bisa merasa aman dan tidak rentan mengalami tindakan kriminalitas. 

Source: NewYork Post

Buat laki-laki yang sedang atau tidak sengaja membaca artikel ini, please kontrol dirimu, pikiranmu, nafsumu, dan akal sehatmu. Tidak semua laki-laki menjadi ancaman bagi perempuan, kok. Tetapi fakta dan data di lapangan mengatakan kalau laki-laki menjadi pelaku terbanyak dalam hal-hal kriminal berkaitan dengan perempuan.
Tenang, tidak ada tendensi untuk membenci laki-laki yang kemudian bermuara kepada women supremacy di sini. Kita setara ataupun tidak setara, melukai, merugikan dan membahayakan orang lain adalah kejahatan. 

Aku harap para perempuan yang merasa tidak aman bisa sedikit lebih lega dan menerima kenyataan pahit ini. Kamu tidak sendirian, sis.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.