Menjadi Orang Baik Belum Tentu Baik

Menjadi Orang Baik

Menjadi Orang Baik Belum Tentu Baik

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Eits tunggu sebentar, ada yang aneh? iya benar kok kamu gak salah baca judulnya, memang benar karena menurut saya siapa bilang menjadi orang baik itu selamanya baik bagi diri kita. No.. belum tentu baik loh, demikian tulusnya saya katakan.

Definisi orang baik yang saya maksud adalah baik secara sosial sebagaimana orang yang mampu menaati norma-norma yang berada di masyarakat sekaligus tidak melanggar adat-istiadat serta aturan yang berlaku. Wah mulai ribet ya bahasanya.

Oke penjelasan sederhananya sih begini, hubungan antara manusia dengan manusia. Mungkin kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu adalah orang yang baik, tetapi kamu pasti pernah menyebut seorang teman atau kenalanmu sebagai orang baik. Nah kurang lebih, baik yang seperti itulah maksudnya.

Kalau sudah sepakat mari kita lanjut. Kalau belum silahkan lo cabut. Eh becanda deng, serius banget sih.

Mari kita coba pikirkan lagi, apakah mungkin semua orang di dunia ini adalah orang baik?

Sudah jelas, tidak dong! Mungkin terlihat baik iya, tapi setelah kenal lebih dekat ternyata persis nakal juga.

Haelah memandang pribadi orang saja kabur, apalagi memandang masa depan bersamamu, hasyah.

Mending percaya saja bahwa orang lain itu sama buruknya sampai akhirnya kita benar-benar yakin bahwa ternyata dia adalah kebalikannya.

Tapi jujur deh, ada orang-orang yang memang tak bisa disikapi dengan baik contohnya, teman nikung teman, teman nipu teman, teman manfaatin teman.
Lha kenapa awalannya adalah teman semua ya?
Please, bantu jawab di kolom komen!

Sedikit saja kalau boleh saran nih ya cara menyikapi tiga orang seperti contoh diatas adalah ketika mereka ultah kasih surprise dengan ceplokin kepalanya. Pake Batu.

“terimakasih sudah mengajari aku jadi orang baik dengan baik dan benar”

Lalu apa alasan terkuat mengapa menjadi orang baik itu belum tentu baik?

Nah ini jawabannya adalah karena orang baik biasanya memiliki suatu kelemahan. Yaitu sikap yang mudah menganggap bahwa orang lain itu baik.

Padahal anggapanmu itu belum tentu benar. Apalagi menjadi orang yang terlalu baik, beuhh parah sih. Kamu gak akan sadar kalau ternyata dirimu itu sedang dimanfaatin. Masa iya? Iyain aja atuh biar penulisnya senang!

Lalu satu lagi hal paling miris menjadi orang baik adalah kepercayaan yang naif. Saya percaya bahwa orang baik itu terlalu naif, dengan sikap baiknya, kemurahan hatinya, dengan ia yang tak pernah keberatan, dengan ia yang tak pernah menolak permintaan, dengan ia yang rela melakukan apapun demi orang lain, dan dengan harapan agar ia juga diperlakukan dengan cara yang serupa oleh mereka.

Yang terakhir adalah sebuah contoh dari tatanan logika yang cenderung salah, mimpi-mimpi kebahagiaan itu adalah ekspektasi berlebih yang suatu saat akan ‘membunuhmu’. “Inget bro, hidup ini gak seperti acara tukar kado.” Akhirnya ini dia moment-moment agak ngegas yang sudah ditunggu akhirnya keluar. Betapa nikmatnya.

Mungkin buku-buku motivasi yang telah mengajarkan harapan-harapan itu bisa jadi benar. Tapi juga bukan berarti tidak ada kesalahannya.

Baca Juga: Ikut-ikutan Sedikit Lebih Beda, Lebih Baik Daripada Sedikit Lebih Baik

Sejatinya setiap manusia memang terlahir dengan keinginan untuk berbuat baik. Bahkan pencuri akan melakukan kebaikan terhadap rekan pencurinya. Bahkan ia menjadi orang baik bagi keluarganya. Tuh kan contohnya lagi-lagi menjadi orang baik belum tentu baik.

Yang jelas menjadi orang baik belum tentu baik, tapi menjadi orang baik memang tidak salah. Lebih baik jujur pada diri sendiri. Lakukan apa yang menurutmu benar dan baik untukmu. asal jangan langgar institusi ya.

Orang-orang baik hingga yang terlalu baik sebaiknya mulai menyadari bahwa ia juga punya jatah buruk kok, sama seperti orang lain. Jangan mentang-mentang atas nama sebagai orang baik ataupun perbuatan baik, kamu malah lupa tentang kebaikan untuk dirimu sendiri.

Love yourself

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.