Menjadi Generasi Sandwich Bukan Soal Pesimistis, Melainkan Sebuah Pandangan Dilematis

Menjadi Generasi Sandwich Bukan Soal Pesimistis, Melainkan Sebuah Pandangan Dilematis

Menjadi Generasi Sandwich Bukan Soal Pesimistis, Melainkan Sebuah Pandangan Dilematis

Penulis Clarenza Adela | Editor Dyas BP

Anak adalah individu baru yang berhak atas kehidupan yang merdeka. Biarkan anak menyadari secara natural bahwa orang tuanya adalah orang yang pantas untuk dibalas kebaikannya.

Thexandria.com – Dewasa ini, tak asing di telinga kita sebuah fenomena yang disebut ‘Generasi Sandwich’. Sebenarnya istilah dengan maksud serupa sudah ada sejak dahulu kala, tetapi baru-baru ini saja publik mendiskursus-kan hal ini.

Secara tidak langsung ini merupakan salah satu faktor yang yang memicu permasalahan hidup yang tak hentinya bagai ‘turbulensi’. Mungkin sebagian besar dari kita mereka sudah cukup lelah untuk menjadi generasi ini, yang sepertinya: “kok semakin hari semakin ter-legitimasi ya status sebagai Generasi Sandwich ini?”.

Rupanya Generasi Sandwich pertama kali diperkenalkan ke publik secara luas oleh Dorothy A. Miller yang merupakan seorang profesor dan direktur praktikum Universitas Kentucky, Amerika Serikat pada tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of The Aging.

Dalam jurnal yang ditulisnya itu, Dorothy mengartikan Generasi Sandwich sebagai generasi yang harus menanggung hidup tidak hanya orang tua mereka, namun juga anak-anak mereka. Keadaan mereka seolah terjepit oleh generasi setelahnya (anak) dan generasi sebelumnya (orang tua). Hal tersebut tentu menyebabkan tekanan yang besar bagi si Generasi Sandwich.

Ya, lo bayangin aja misalnya lo adalah seorang Generasi Sandwich dan masih berjuang memperbaiki kehidupan finansial—eh tapi di sisi lain, lo punya tanggungan atas orang tua lo dan anak-anak lo. Bukankah sulit untuk bisa segera maju dalam hal finansial? Bukan tidak mungkin, namun butuh waktu dan menguras mental, perasaan, serta tenaga berkali lipat daripada orang-orang yang bukan Generasi Sandwich, kan?

Baca Juga: Mengenal Apa itu Toxic Positivity

Setelah premis Generasi Sandwich, muncul lah premis lanjutan yakni toxic parents. Awalnya saya pikir itu dua topik yang berbeda, namun rupanya saling berhubungan. Generasi Sandwich bisa disebabkan oleh banyak faktor dan salah satunya karena seseorang itu memiliki orang tua yang ‘beracun’.

Bukannya untuk menolak berbakti kepada orang tua dengan membiayai kehidupan dan membahagiakan mereka, namun perlu diketahui bahwa saya-pun kurang setuju dengan pandapat bahwa anak adalah instrumen investasi. Lalu kalo orang punya anak buat apa dong kalo gak investasi ketika mereka tua nanti? Siapa yang bakal ngurus si orang tua pas udah pensiun atau sakit-sakitan? 

Pertanyaan-pertanyaan itu jujur membuat saya turut kepikiran; apa iya orang tua memilih untuk melahirkan dan membesarkan saya karena mereka berharap return on investment atas segala yang telah mereka berikan? Jika saya gagal untuk memenuhi ekspektasi mereka bagaimana dong?

Sebagai seorang anak yang mendapat begitu banyak cinta kasih dari orang tua, tentu saya sangat ingin ‘membalas’ semua kebaikan itu kepada mereka. Saya pun begitu, rasanya gak tega aja melihat orang tua berkorban banyak buat anak-anaknya.

Salah satu dari orang tua saya pun juga menjadi seorang Sandwich Generation dan saya tahu itu gak mudah buat beliau. Dan saya sebagai anak juga tahu diri kalau saya masih mampu dan diberi kekuatan untuk menjadi mandiri secara perlahan-lahan agar beban beliau menjadi lebih ringan.

wisuda
Seorang ibu yang turut berbahagia di acara wisuda sang anak. (Ilustrasi)

Mungkin para orang tua juga berharap sang anak akan membalas segala kebaikan yang telah mereka berikan kepada anaknya. Tapi jangan sampai menjadikan hal itu sebagai motivasi utama ketika memutuskan untuk punya anak supaya ada yang membiayai iniitu di masa tua, ada yang membantu untuk mengeluarkan mereka dari jurang kegagalan, dan berharap sang anak membalas semuanya itu dengan materi yang mahal.

Anak adalah individu baru yang berhak atas kehidupan yang merdeka. Biarkan anak menyadari secara natural bahwa orang tuanya adalah orang yang pantas untuk dibalas kebaikannya.

Pola pikir orang tua yang berharap investasi secara material terhadap sang anak saat ia sudah dewasa dan berkeluarga merupakan salah satu penyebab banyaknya Generasi Sandwich merasa kehidupanya bertambah berat dan tak jarang berujung pada renggangnya hubungan antara orang tua dan anak.

Sang orang tua memiliki harapan bahwa melalui si anak, kondisi mereka bisa berubah lebih bahagia secara materi, lebih kaya, lebih diterima di society atau lebih bisa mewujudkan ‘kesenangan’ subjektif masing-masing.

Di sisi lain, sang anak berharap agar orang tuanya tidak menuntut dan berharap lebih padanya karena sang anak tahu bahwa: sang anak juga manusia biasa yang bisa saja mengecewakan orang lain meski tidak bermaksud mengecewakan.

Dari situ saya menemukan sesuatu bahwa menjadi manusia yang mandiri adalah pilihan hidup yang baik. Meskipun ujung-ujungnya kita makhluk sosial tetap membutuhkan orang lain. Tapi mestinya kita mampu membedakan, antara butuh orang lain karena didesak situasi dengan butuh orang lain karena kita terus menjelma menjadi ‘parasit’?

Baca Juga: Anxiety Disorder dan Pentingnya untuk Tidak Mendiagnosis Diri Sendiri

Lalu, jika orang tua kita gak bisa mandiri karena alasan kesehatan dan usia terus gimana, dong? Ya ini yang terjadi kepada salah satu dari orang tua saya yang mana orangtua-nya sudah tua sehingga bergantung penuh pada anak-anaknya untuk urusan finansial. Yang bisa dilakukan ya hanya berbakti dan menerima mereka apa adanya.

Situasi ini memang sulit, tapi kalau berhasil kita mandiri secara finansial dan bertanggungjawab dengan hidup, niscaya membiayai kehidupan orang tua dan anak akan baik-baik saja (meski berat karena memang cari uang itu gak mudah).

Menghormati dan balas budi kepada orang tua itu baik, bahkan hal yang sangat mulia yang bisa dilakukan oleh seorang anak—tentu kita tak ingin dicap sebagai anak durhaka, kan? Begitu juga untuk orang tua, mencintai dan memberikan yang terbaik untuk anak adalah hal yang sangat indah.

Jadilah orang tua maupun anak yang melaksanakan peran dengan maksimal, bukan karena berharap balasan. Justifikasi akan kesadaran bahwa setiap manusia itu bertanggungjawab pada kebahagiaan dan kehidupannya masing-masing, mestinya sama-sama kita garis-bawahi.

We live and die as a person even though we tied in the blood named family.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.