Menjadi Bucin Tidak Sepenuhnya Salah, Hanya Saja…

Menjadi Bucin Tidak Sepenuhnya Salah, Hanya Saja...

Menjadi apa saja tidak ada salahnya, termasuk budak cinta.

Penulis @zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Bagi mereka-mereka yang di kepalanya demikian dipenuhi oleh 1000 bunga, yang aromanya terendus dalam melalui kata-kata romantis, hatinya pun bergejolak sumringah ingin terus menciptakan kata-kata puitis, yang biasanya juga disebut dengan “kasmaran”, secara sadar mereka-mereka itu mendapatkan hak prerogatif dari imajinatifnya sendiri: dunia ini hanya milik mereka dan pasangannya, persetan dengan umat jomblo yang menyedihkan! Jangan ganggu kami!

Tidak bisa disangkal, pasti kita semua pernah menjadi bucin. Tapi yang seharusnya dipertanyakan, sampai kapan kita menelan gunjingan orang-orang demi cinta yang berlebihan dan tidak pasti pengakhirannya?

Menjadi bucin adalah hak setiap insan bernyawa, sekali lagi saya tegaskan dan mari kita ucapkan keras-keras: kita semua berhak menjadi bucin! Hidup bucin! Panjang umur perbucinan! Tapi, orang lain juga punya hak untuk bergunjing perihal perbucinanmu, lho! Hayolo?

Konsekuensi dari setiap tindakan yang kita ambil memang ada, semua tergantung pada level kebaperanmu menghadapi konsekuensi itu sendiri—dalam konteks ini: pembencimu, yang tak lain dan tak bukan adalah: ikatan umat jomblo lucu dan imut.

Jangan sampai, ketika kebucinanmu itu dikritisi oleh banyak orang, lantas kau ngambek, dan berdoa ingin jadi kodok! Atau, kamu menghina orang yang sudah berani mengkritisi demi kebaikanmu dengan perkataan, “Yang ngatain aku bucin, pasti kalian jomblo ngenes ya?” Itu bukan termasuk tindakan yang baik, lagipula, kamu juga tidak tahu kapan kalian mati putus bukan? Ketika kamu menjadi jomblo lagi, apakah kamu sudi menghina dirimu sendiri?

Sesungguhnya, kami bukan menghina kebucinanmu, hanya saja, sikap berlebihanmu dalam mengekspresikan cinta itu sendiri.

Yang biasa-biasa saja dan apa adanya, masa tidak bisa?

Menurut saya pribadi, seseorang sudah dapat dilabeli dengan sebutan “Bucin” ketika mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak ditakar dengan baik semacam: pamer kemesraan bukan pada tempatnya dengan rentang waktu yang sesingkat-singkatnya (pamer terus, sampai mati), terlalu mementingkan hubungan percintaan sampai lupa ingatan bahwa hubungan pertemanan juga sama pentingnya bagi kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, ber…

Ada banyak sekali tingkah laku bucin mania yang bikin para jomblo mengelus dada setiap hari setahun penuh, dan yang pasti kita semua sudah mengetahuinya. Ada yang pintar menakar, pun banyak yang tidak. Biasanya, yang tidak pintar menakar hubungan percintaannya: berujung pada patah hati yang paling serius sampai-sampai; segala macam quote sedih diunggah setiap hari; foto profil di seluruh media sosial dihapus; postingan dihapus; berkata kasar di grup WhatsApp keluarga, larinya curhat ke teman—padahal sempat dilupakan. Sedih ya?

Mas, Mba, mending curhat di polres biar diketik! Jadi buku! Kamu viral! Kamu senang! Om pun senang!

Kembali lagi, menjadi bucin itu tidak salah, tapi takarannya saja yang bisa membikin hal itu menjadi salah. Bercintalah secara dewasa, selain menyehatkan untuk diri sendiri, kau juga turut mendukung proses penyembuhan hati para jomblo-jomblo di luar sana. Itu termasuk pahala juga, lho! Kalian bukan Habibie dan Ainun, bukan Dilan dan Milea, bukan Romeo dan Juliet, bukan pula Zein Lich dan Pevita Pearce. Berhenti berpikir kisahmu akan menarik seperti kisah-kisah mereka. Berhenti melakukan berbagai macam cara untuk membikin kisah percintaanmu menjadi menarik dan menyentuh hati setiap insan bernyawa, sebab yang menilai adalah orang lain bukan dirimu sendiri.

Baca Juga: Budak Cinta, Nasibmu Kini

Dan tolong diingat dan disadari betul-betul: kamu dan pasanganmu bukan pusat dari alam semesta. Bisa dipastikan bahwa, tidak banyak orang yang tertarik dengan hubungan percintaanmu, untuk apa dipamerin terus-terusan? Jangan pikir, kami—para jomblo—hanya diam saja ketika melihatmu berbucin ria. Kami ngedumel kok di dalam hati setiap hari, kepenginnya sih nyindir lewat karya (biar kayak Old Lex), tapi nanti kamu baper dan ingin jadi kodok!

Akhir kata, begini, pamerlah segala hal dengan cara yang elegan. Pamer cincin kawin, misal. Atau pamer mewahnya resepsi pernikahanmu, atau video malam pertama kalian! Ngehehehe.

Intinya, kami tidak peduli, kami punya kisah percintaan kami sendiri, dan kami berusaha menutupnya rapat-rapat. Karena jika kami umbar, dapat menyebabkan bayi jadi gumoh.

Wassalam.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.