Menilik Kasus Brexit, atau Brebes Exit, Becanda deng, British Exit!

Menilik Kasus Brexit, atau Brebes Exit, Becanda deng, British Exit!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Inggris terhitung sejak tanggal 1 Februari 2020, resmi keluar dari Uni Eropa, setelah melewati drama panjang kurang lebih tiga tahun, dan ditutup dengan sidang di parlemen eropa dengan perwakilan Inggris mengucapkan selamat tinggal sembari mengibarkan bendera United Kingdom.

Wacana tentang keluarnya Inggris dari Organisasi dagang eropa sudah berlangsung sejak era David Cameron. Isu soal brexit, atau british exit menimbulkan perbedaan pendapat yang kuat antara brexiters dan kontra brexit. Dampak politiknya begitu kuat, PM Inggris David Cameron pun sampai mengundurkan diri, yang kemudian digantikan oleh Theresa May, namun Theresa May pada akhirnya juga mengundurkan diri.

Adalah PM Inggris saat ini, Boris Johnson yang berdiri paling depan sebagai brexiters, mengimplementasikan hasil referendum rakyat Inggris dimana 51% rakyat Inggris menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Dengan alasan perluasan ekspansi ekonomi makro, Inggris yang telah menjadi anggota penting Uni Eropa selama 47 tahun, kini sekilas tampak berhasil meraih lagi kedaulatan ekonominya yang selama bergabung bersama Uni Eropa, dirasa sangat mencekram kebebasan ekonomi Inggris secara bulat.

Bahkan dalam sidang di parlemen Eropa, perwakilan Inggris secara eksplisit berkata, “kami menyayangi negara-negara Eropa. Namun kami membenci sistem Uni Eropa!”. Yang kemudian dilanjutkan dengan aksi pengibaran bendera mini para anggota perwakilan Inggris. Diantaranya bahkan ada yang sampai menangis.

Seperti yang sudah tersampaikan di atas, alasan utama terjadinya brexit adalah perkara ekspansi ekonomi. Kami tak akan menjelaskan panjang lebar apa yang dimaksud dengan ekspansi ekonomi tersebut.

Karna jujur saja, pengertian sesungguhnya latar belakang terjadinya brexit begitu fiskal dan moneter, penuh dengan kosakata ekonomi modern yang njlimet. Dan saya rasa kita semua sepakat, kita membenci penjelasan yang terlalu statistik. Therefore, mari kita sederhanakan.

Uni Eropa

Mungkin kata tentang Uni Eropa cukup familiar di telinga kita, dan yang paling sering disebut adalah, Uni Eropa ialah negara-negara eropa. Hampir benar, namun tidak utuh.

Uni Eropa adalah organisasi dagang antar pemerintahan negara-negara di Eropa, yang total semenjak keluarnya Inggris, berjumlah 27 negara di benua Eropa. Uni Eropa berdiri dibawah perjanjian Uni Eropa atau populer disebut dengan perjanjian Maastricht pada tahun 1992.

UE memiliki kantor pusat di Brussel, Belgia.

Uni Eropa bisa dikatakan, adalah sebuah traktat atau perjanjian dengan sistem yang paling efektif. Dengan kehadirannya, ‘pintu masuk’ ke negara-negara Eropa haruslah melalui Uni Eropa dengan segala peraturan bahkan memiliki yurisdiksi di bidang ekonomi dan lain-lain guna kemaslahatan para anggotanya. Adapun lembaga-lembaga penting yang analoginya seperti sebuah ‘pintu masuk’, adalah; Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Mahkamah Eropa, Parlemen Eropa, dan Bank Sentral Eropa.

Karena kelengkapan administrasi dan birokrasinya, UE seringkali pula disebut sebagai bentuk dari pemerintahan supranasional, dengan tiga pejabat utama, antara lain; Presiden Komisi, Presiden Parlemen, dan Presiden Dewan.

Dalam perjalanannya, Uni Eropa bahkan tak lagi hadir sebagai corong ekonomi regional, namun merambah ke ranah politik, hingga menjadi satu kekuatan yang cukup dominan serta mampu mengimbangi Amerika Serikat di bidang perdagangan internasional.

Dan salah satu hal yang menjadi titik ketidakpuasan Inggris pada Uni Eropa, kalau tidak mau disebut ‘ketidaksukaan’, adalah sistem yang mengikat bulat anggotanya. Sebagai contoh konkret, semua negara anggota HARUS membuat dan memberlakukan Undang-undang yang selaras dengan kerangka hukum Uni Eropa, atau disebut dengan Acquis Communautaire, yang didalamnya terdapat pemberlakuan regulasi ekonomi, hukum, keamanan, sampai kebijakan politik luar negeri.

Keluarnya Inggris karna Sebuah Ambisi

Memang jika kita mengacu pada alasan sistem Uni Eropa dibentuk, kita akan sepakat dengan pemberlakuan merata kepada setiap anggotanya. Sekilas terdengar adil, namun terlalu naif jika kita sandingkan dengan political interest masing-masing negara.

Inggris yang pernah memiliki imperium terluas di bumi ini, tentu memiliki ego sektoral sendiri dan itu merupakan sebuah keniscayaan bahkan k-e-w-a-j-a-r-a-n!

Inggris itu salah satu contoh model hukum dunia, Inggris itu bahasanya dipakai dan diakui sebagai bahasa internasional, Inggris itu adalah asal muasal sepak bola, Inggris itu telah melahirkan The Beatles, Queen, dan Oasis, Inggris itu–oh darling, there’s so much a good thing’s about UK!

Baca Juga: Hiruk Pikuk Dunia, Keping Kedua; Amerika Serikat

Hal-hal besar tentang Inggris dan kehebatannya disadari betul oleh pemerintahannya, namun bagaimana selama mereka menjadi a part of UE? Mereka bahkan merasa tak berdaulat penuh dengan standar hukum dan ekonominya, karena tidak bisa memberlakukan pajak terhadap barang-barang yang masuk ke negaranya, dan ironisnya, ketidakberdayaan itu dikarenakan oleh importirnya yang juga adalah anggota UE, dan ada sebuah hukum yang menetapkan zona bebas pajak.

Bahkan untuk menjalin mitra strategis dengan negara-negara diluar eropa, harus melalui konsensus Uni Eropa, jika tidak, maka akan ditemukan konsekuensi ekonomi dari Uni Eropa. Singkat cerita, Inggris merasa ‘diantai’.

Analogi sederhananya, 27 orang mengikuti lomba lari, namun kesepakatannya, tidak boleh ada yang tertinggal dan harus finish bersama. Wow, seperti yang kami katakan, sekilas terasa adil, namun begitu NAIF.

Tidak ada dalam logika sebuah perlombaan, dimana semua peserta harus menang bersamaan. Hanya akan ada satu pemenang utama. Dan ingat, dunia kini berada di perdagangan bebas dan persaingan ekonomi yang begitu ketat.

Well, congrats Brebes British!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.