Mengulas Rencana Penghapusan Premium dan Pertalite oleh Pertamina yang Sebetulnya Bukan ‘Hal Baru’

Mengulas-Rencana-Penghapusan-Premium-dan-Pertalite-oleh-Pertamina-yang-Sebetulnya-Bukan-‘Hal-Baru’

Mengulas Rencana Penghapusan Premium dan Pertalite oleh Pertamina yang Sebetulnya Bukan ‘Hal Baru’

Penulis Adi Perdiana | Editor R. Dolly

Siapkah kita tanpa Premium dan Pertalite?

Thexandria.com – Beberapa pekan lalu hingga kini masih ramai beredar tentang isu rencana penyederhanaan produk Pertamina yang ujungnya mengerucut pada penghentian penjualan BBM jenis Premium, Pertalite dan Solar.

Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir meminta PT Pertamina (Persero) mengurangi jumlah produk BBM yang dikeluarkan perusahaan. Dalam konferensi pers pekan lalu, ia menilai produk BBM yang dijual ke masyarakat terlalu banyak.

Kemudian setelah beberapa waktu, merespon permintaan Erick Thohir, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, produk BBM yang akan dikurangi mengacu pada aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu mengenai pembatasan Research Octane Number (RON) atau oktan BBM yang dipakai. Hal itu sejalan dengan kesepakatan pemerintah mengurangi emisi gas karbon.

Meskipun cukup disayangkan karena tak disebutkan secara pasti mengenai penghapusan produk BBM yang mana dan aturan KLHK yang dimaksud sehingga menimbulkan beragam isu. Namun dalam catatan kami, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 Tahun 2017 tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru kategori M, N, dan O, yakni bahan bakar yang boleh digunakan adalah BBM dengan standar Euro 4. Spesifikasi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Perlu diketahui bahwa BBM dengan standar euro 4 sendiri berarti bahan bakar yang memiliki nilai RON di atas 91 dan kadar sulfur maksimal 50 ppm. Sedangkan untuk produk diesel, minimal Cetane Number (CN) adalah 51 dan kadar sulfur maksimal 50 ppm.

Sementara dalam produk Pertamina sendiri terdapat BBM yang berada di bawah RON 91 yaitu Premium dengan nilai RON 88, dan juga ada Pertalite yang memiliki nilai RON 90, serta Solar yang memiliki Cetane Number (CN) 48. Maka jika kita berpatokan pada aturan tersebut, sudah jelas bahwa BBM Premium, Pertalite, dan Solar tidaklah sesuai standar karena masih di bawah Euro 4.

Hal tersebut menjadi isu yang meresahkan di masyarakat. Menjadi pertanyaan apakah benar adanya rencana penghapusan BBM Premium dan Pertalite?

Sampai akhirnya manajemen PT Pertamina (Persero) memberikan respon terbaru mengenai kabar yang beredar di masyarakat terkait penghapusan Premium.

“Saat ini, sesuai ketentuan yang ada, Pertamina masih menyalurkan Premium di SPBU,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dalam keterangannya.

Pertamina menyatakan bahwa saat ini pihaknya masih menyediakan dan menyalurkan Premium sebagaimana penugasan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

Wacana Penghapusan Premium Bukan Hal Baru

Mari kita melirik kembali pada beberapa tahun lalu, tepatnya pada 23 Desember 2014, Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang diketuai Faisal Basri pernah merekomendasikan agar impor BBM jenis Premium RON 88 dihentikan.

Dicurigai adanya mafia migas, hal itu dikarenakan impor BBM hanya tersedia minimal untuk RON 92. Maka RON 88 diperoleh dari hasil RON 92 dicampur naphta sehingga membuat harga RON 88 atau premium menjadi lebih mahal.

Tim Reformasi Tata Kelola Migas pada saat itu merekomendasikan agar kilang Premium RON 88 diubah menjadi RON 92 atau sebagai Pertamax.

Akan tetapi dikarenakan belum siapnya kilang Pertamina untuk mengganti premium dengan pertamax maka penghapusan premium belum bisa dilakukan.

Untuk itu Pertamina harus menyelesaikan 4 proyek modifikasi kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) dan pembangunan 2 kilang baru (Grass Root Refinery/GRR).

Proyek RDMP
Gambar hanya ilustrasi

Sebenarnya usulan penghapusan BBM Premium juga telah terjadi sejak lama oleh Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengusulkan supaya bensin Premium RON 88 dihapus karena tidak sesuai dengan teknologi otomotif sekarang.

Pada dasarnya rencana penghapusan BBM Premium dan Pertalite ini memiliki beragam dampak positif dan negatif.

Sisi baiknya adalah tentu saja polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor dapat berkurang karena kualitas bahan bakar minyak (BBM) yang dipakai jauh lebih bagus.

Serta usia kendaraan bermotor yang lebih tahan lama karena menggunakan bahan bakar yang lebih berkualitas.

Baca Juga: Berandai-andai Jika Lahan Bekas Tambang Dihutankan Kembali

Lalu dampak negatif yang bisa saja terjadi ialah meningkatnya impor BBM. Dikarenakan sebagian besar BBM jenis Pertamax series saat ini masih harus impor, kilang-kilang Pertamina juga belum siap seluruhnya untuk memproduksi BBM dengan spesifikasi Euro 4. Kenaikan harga BBM yang menjadi pemicu kenaikan harga barang lain termasuk bahan pokok, dan lain sebagainya.

Maka dari itu diperlukan pengkajian ulang untuk mencari solusi kongkrit apabila penghapusan BBM ‘kotor’ akan dilakukan mengingat sudah sampai di tahap sejauh mana ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi BBM tersebut

Semisal terjadi penghapusan BBM Premium dan Pertalite, maka sudah seharusnya dilakukan penurunan harga pada BBM yang tersisa yakni Pertamax dan Pertamax Turbo biar fair ya pak!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.