“Mengudara”

Thexandria Mengudara

Mengudara

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria lahir dikarenakan dua hal mendasar. Pertama, kebingungan dan yang kedua kegagalan.

Di usia yang menginjak 23 tahun ini, saya semakin gencar mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang menghinggap di kepala saya. Untuk apa saya di bumi? Mengapa saya menjadi manusia? Bagaimana rasanya ketika nanti saya mati? Kemana jiwa saya akan pergi?

Apakah ke-skeptis-an akan cinta lumrah menghinggapi manusia? Mengapa jatuh cinta itu seringkali menyakiti? Apa yang lebih bermakna dibanding surga dan neraka? Benarkah peradaban di abad 21 adalah puncak dari kemajuan manusia? Bagaimana jika abad 21 hanyalah puing-puing dari kemegahan peradaban masa lalu? apakah astronot kuno benar-benar ada? Apakah Tuhan meresap ke seluruh semesta? Bahkan ke urat nadi? Dan setumpuk berkas pertanyaan yang meluap tak cukup di lemari memori otak saya.

Sederhananya, saya sedang berkelumit di fase half quarter crisis. Saya mulai mempertanyakan value yang sebelumnya saya yakini. Saya berkontemplasi.

Yang kedua adalah kegagalan. Adalah hal yang wajar bila manusia mengalami sebuah kegagalan. Namun, saya juga percaya bahwa masa depan adalah milik orang-orang yang menolak hilang, orang-orang yang kembali bangkit dari jurang keterpurukan.

Dan thexandria.com, adalah monumen perjuangan yang sedang saya bangun bersama rekan-rekan saya, serta sebagai pengingat bahwa waktu akan menggilas siapa saja yang diam dan hanya mengeluh.

Saya memiliki hobi yang sederhana, membaca dan menulis. Saya masih ingat, ketika saya menyusuri jalan Barito di daerah Jakarta Selatan, sewaktu saya masih bekerja sebagai pelayan di sebuah coffe shop. Saya mulai berpikir untuk menjadi penulis lepas.

Hingga akhirnya, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa menyalurkan minat saya dengan menjadi kontributor pada sebuah media online di Jakarta. Saya ditempatkan sebagai penulis di bidang Lingkungan Hidup dan Politik. Saya tidak berhenti disitu, saya tetap berusaha mengirim tulisan dan opini saya ke media-media alternatif populer semisal Vice Indonesia, Asumsi, Tirto, Mojok, dan lain-lain.

Beberapa kali saya mendapat penolakan, di salah satu media, bahkan saya hattrick ditolak! Itupun masih baik, beberapa diantaranya, tulisan saya hanya “digantung” Alias tak jelas rimbanya. Ternyata benar, mengetahui kebenaran walau pahit itu lebih baik, dibanding dibuat menunggu.

Kemudian untuk menjewantahkan dan menyalurkan tulisan-tulisan saya, saya memerlukan medium yang bisa saya kontrol 100%. Saya memutuskan untuk membuat dan mengembangkan media online sendiri.

Dimana disini, saya dapat menulis isu-isu yang menurut saya penting, saya dapat berbagi “keresahan” Pada suatu permasalahan baik yang happening maupun lampau, abstrak ataupun empiris. Di thexandria, di tim kecil yang saya lead, saya bertindak sebagai pengarah dan penanggung jawab tim secara keseluruhan.

Saya tidak sendirian, saya akan memperkenalkan tim kecil saya yang juga sebagai co-founderthexandria.

1. Adi Perdiana, Vice Director

Seorang Sarjana Teknik Perminyakan. Sapaan akrabnya adalah “Bokir”, saya lupa persisnya mengapa ia dipanggil Bokir, yang kebetulan saya juga yang menjulukinya bokir sewaktu SMK. Dia adalah teman karib saya yang sangat setia.

Bahkan untuk sekedar menghindari razia rambut dan celana? Ia bersekongkol dengan saya untuk sebuah “rencana pelarian sehari penuh” Yang ujung-ujungnya kami hanya menyantap gorengan dan menikmati “surya” di tepi pantai. Jika kalian mengenalnya? Kalian tidak akan pernah menyangka bahwa Bokir memiliki “jiwa pembangkang” Yang tidak bisa diremehkan. Dia adalah partner of crime dalam artian yang sesungguhnya.

Namun disisi lain, satu hal yang membuat saya yakin bahwa ia bisa membantu saya mengembangkan thexandria selain loyality, ialah, he often acts on track, and he is also the most patient person I have ever known!

Bokir adalah orang yang sangat konstruktif.

2. Zain Sinjay, Head of Visual Content Creator

Dia yang mengurusi segala bentuk foto dan video thexandria, sentuhan estetika nya diharapkan mampu membuat thexandria lepas dari tampilan-tampilan formal khas berita. Orang yang kesulitan dalam komunikasi verbal, jadi lewat lensa lah, ia mampu “berbicara” dengan rima.

Satu hal yang membuat thexandria bergerak cepat, tak lepas dari pikiran-pikiranya, karna dia adalah a man who doesn’t much theorize, a direct action is his DNA.

3. Al Fikrie, Vice Head of Visual Content Creator

Seorang fans fanatik Sheila on 7. Dia adalah tangan kanan Zain Sinjay yang juga memiliki artistic taste yang baik. Seorang yang loyal dan tidak mengenal pamrih.

Dalam berbagai kesempatan, dia sering menjadi “lone wolf”, dikarenakan perbedaan domisili. Ia juga yang membantu dalam hal segmentasi wilayah thexandria, yang sejauh ini masih terbatas.

Sebagai yang paling muda diantara kami, atau lets say, “Anak bawang”, dia terus berproses dan berkembang dengan apik bersama kami. Menolak stagnansi.

4. Dyas Bintang Perdana, Business Development

Karib lama dari zaman sekolah, ia juga merupakan teman baik dari Adi Perdiana. Seorang pendengar setia Efek Rumah Kaca dan pencinta nasi pecel. Sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu universitas negeri di Malang. Sama halnya dengan Al Fikrie, ia juga seringkali menjadi “lone wolf” guna memperluas segmentasi jangkauan thexandria.

Salah satu kontributor utama yang memiliki daya kritis yang tajam. Lewat analisa dan advice nya lah, thexandria mengambil keputusan dan terus berkembang.

Kebutuhan informasi dewasa ini telah menjadi sebuah kebutuhan pokok. Bahkan ada sebuah anekdot yang mengatakan bahwa 4 sehat, 6 sempurna. Ke enam nya adalah akses informasi itu sendiri.

Di era globalisasi, dunia semakin mengecil dan tak lagi bersekat. Kejadian demi kejadian baik di London, Frankfurt, Moskow, New York, Tokyo, KL, Jakarta, atau bahkan di kedalaman palung mariana sekalipun, mutlak menjadi santapan publik yang karna keadaan zaman, turut andil menggairahkan ke-kepo-an homo sapiens.

Pergerakan laju teknologi juga memangkas waktu dan biaya dalam memperoleh akses informasi. Sekarang, ponsel pintar dapat dialihfungsikan menjadi apa saja sesuai kebutuhan. Bisa menjadi laptop, TV, video game, atau bahkan surat kabar.

Berdasarkan riset dari Nielsen Indonesia yang dihimpun dari katadata.co, menyatakan bahwa di Indonesia, saat ini pembaca media digital sudah lebih banyak ketimbang media cetak. Jumlah pembeli koran terus merosot dalam empat tahun terakhir karena masyarakat beranggapan bahwa informasi seharusnya bisa didapat secara gratis.

Media-media konvensional pun kini telah men-digitalisasi platform media mereka agar dapat menjangkau generasi z, dan agar tidak terbunuh oleh zaman.

Kami berkesimpulan jika para generasi z, terproses pada sebuah paradigma yang instan dan praktis. Paradigma yang bermetafora menjadi kultur pop.

Dan thexandria.com memberanikan diri turut berpartisipasi dalam mengisi kepopuleran kultur tersebut.

Pun juga sebagai “tanggung jawab sosial” dalam membangkitkan daya literasi media di Indonesia.

Kami hadir tidak hanya sebatas tulisan-tulisan artikel, namun kami juga menghadirkan rubrik ibu dari segala seni, yaitu puisi… Serta rubrik Lintas Lensa dan Liputan yang berisi galeri foto dan video dokumenter, karna kami juga memaklumi, jika ada sebagian orang yang lebih tertarik dengan visual ketimbang literasi. Pun dalam regulasi dan operasionalnya, kami dibantu oleh Tim Internal Affairs, yaitu, Aditya Darmawan dan Geisyal Aldemar.

Akhir kata, membacalah! Maka kita akan mampu melihat dunia dari sebuah jendela. Jendela berukuran kecil, dan selalu dibawa setiap hari. Your cellphone.

Pray for us and be the air for us. We are from Thexandria.com , on air!

Baca Juga: Langit yang Iba Kepada “Ibu”

Share Artikel:

2 thoughts on ““Mengudara”

Leave a Reply

Your email address will not be published.