Mengenali Pelecehan Seksual di Kehidupan Sehari-hari dan Catcalling Bukanlah Sebuah Pujian

Catcalling adalah Pelecehan Seksual

Mengenali Pelecehan Seksual di Kehidupan Sehari-hari dan Catcalling Bukanlah Sebuah Pujian

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

Sampai kapanpun yang namanya pelecehan seksual itu enggak ada benarnya.

Thexandria.com“Ugh” mengawali tulisan ini dengan ugh, boleh, enggak? Pulang yang seharusnya tenang dan nyaman namun kali ini disiul-siulin enggak jelas sama beberapa orang di jalan. Bukan hal baru memang di kehidupan sehari-hari, namun ternyata masih aja ada yang menormalkan atau menganggap “baik-baik aja” dengan siulan (pelecehan seksual) yang orang lain lontarkan sehingga membuat mereka merasa dengan melakukan catcalling adalah hal wajar.

“Ya, SiApA sUrUh pakE bAjU kEbUkA?”

Eh, nyet, lo tau jenis-jenis pelecehan seksual, enggak?

Apa itu sexual harassment (pelecehan seksual)?

Pelecehan seksual (sexual harassment) didefinisikan sebagai perilaku verbal atau fisik yang tidak diinginkan yang bersifat seksual. Itu bisa membuat orang merasa tidak aman, malu, tersinggung atau terintimidasi. Pelecehan seksual dapat terjadi kapan aja, di mana aja, dan bisa dilakukan oleh siapa aja—laki-laki maupun perempuan. Bahkan ketika kamu memiliki pemahaman tentang apa definisi hukum pelecehan seksual itu, mengenalinya dalam kehidupan sehari-harimu kadang-kadang bisa menjadi tantangan tersendiri.

Kayak gimana sih, jenis-jenis pelecehan seksual?

Sampai kapanpun yang namanya pelecehan seksual itu enggak ada benarnya—apalagi sampai menjadi orang yang melecehkan. Mungkin beberapa orang (sebagai korban pelecehan atau yang melecehkan) menyadari bahwa “Halah, gitu doang.. enggak ada masalah, kok” sambil nyengir, terus yang dilecehkan entah enggak sadar.

Beberapa contoh jenis pelecehan seksual yang terjadi sehari-hari:

  • Catcalling: Ketika seseorang atau segerombolan orang membuat komentar atau gerakan seksual yang enggak pantas (bersiul, “neng/bang, cantik/cakep benerrr.. temenin, dong..”) ketika orang lain sedang berjalan. I’ve told you, catcalling enggak ada benarnya, itu termasuk pelecehan seksual di jalanan sehingga membuat korbannya merasa takut, terintimidasi dan tersinggung.
  • Menyebarkan rumor seksual: Baik di dunia maya dan nyata—menyebarkan desas-desus seksual tentang seseorang mana ada pernah benar (misalnya kamu tau seseorang pernah “main” sana “main” sini kemudian kamu nyebarin ke orang lain). Ini membuat reputasi orang tersebut rusak dan memengaruhi harga dirinya. Ya udah, sih, enggak usah urusin urusan selangkangan orang lain.
  • Mengirim dan meminta gambar berbau seksual: Ketika seseorang mengirim gambar seksual, kartun berbau seksual, atau bahkan isi celana sendiri kepada orang yang tidak meminta atau menginginkannya. Nih, ya, bukan hanya mengirim melainkan meminta gambar seksual pun termasuk pelecehan seksual, lho, ditambah memakai cara paksa sehingga membuat orang lain merasa enggak nyaman.
  • Menatap terus-terusan: Bukan, bukan menatap terus-terusan untuk cari tau “Oh, itu bener dia, kan? Mantannya Ucok?,” bukan, ya. Melainkan menatap orang lain terus-terusan dengan cara yang membuat mereka merasa enggak nyaman dan enggak aman. Berbahaya bisa dibilang, karena sulit untuk mengindentifikasi mana yang benar-benar ke arah seksual mana yang enggak. Namun, kalau dirasa kamu enggak nyaman ketika ada seseorang yang menatapmu terus-terusan, jangan takut untuk menegurnya, ya.. meskipun kadang terasa susah.
  • Perhatian khusus: Perilaku tertentu di sekolah, kampus, atau tempat kerja dianggap sebagai pelecehan seksual juga, lho. Gini, misalnya si atasan tiba-tiba pijetin sekretarisnya atau seorang guru yang mengorek terlalu dalam kisah cinta muridnya atau parahnya seorang dosen yang memberi perhatian khusus kepada salah satu mahasiswinya agar kemauannya yang berbau seksual itu dituruti dengan imbalan nilai yang tinggi.
  • Berasumsi bahwa seseorang menginginkan perhatian seksual: Terlepas dari jenis kelamin, pekerjaan, atau apa yang mereka kenakan, ya.. Aduh, jangan, deh, sampai terbesit “Wah, bisa, nih..” hanya dengan melihat pakaian yang orang lain kenakan. Apalagi sampai bertindak lebih lanjut. Jangaaan!
  • Menguntit (Stalking): Perilaku apapun yang membuat seseorang merasa enggak aman termasuk kunjungan yang enggak diinginkan, panggilan telepon, SMS, email atau surat, memberi hadiah diam-diam atau nungguin rumah orang/sekolah dianggap sebagai pelecehan seksual.
  • Memperkosa: Mau gue jelasin apa lagi perihal tindak kriminal yang satu ini?

Baca Juga Kenapa, sih, Orang-orang Ngelakuin Ghosting?

Alasan lain pelecehan seksual bisa sulit dikenali adalah karena perilaku dan bahasa yang diucapkan “terdengar baik-baik aja” yang sebenarnya enggak baik sama sekali di situasi tertentu atau untuk orang lain. Tindakan seksual tersebut bisa menghasilkan makna yang berbeda tergantung pada niat dan hubungan antara orang-orang yang terlibat.

Contohnya, seperti menanyakan info secara mendetil, pertanyaan yang berulang (perihal hal-hal seksual), perhatian yang berlebih sehingga membuat orang lain merasa enggak nyaman dan yang paling sering dinormalisasi sama kebanyakan orang; lelucon berbau seksual. This is not cool at all, dan catcalling juga sama sekali bukan pujian.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.