Mengenal Sisi Lain Sigmund Freud melalui Serial Netflix

Sigmund Freud Netflix-Thexandria.com

Mengenal Sisi Lain Sigmund Freud melalui Serial Netflix

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Freud mengungkapkan bukunya yang berjudul “The Interpretation of Dreams” pada tahun 1900 sebagai favorit pribadinya yang juga memiliki kontribusi paling signifikan untuk memahami pemikiran manusia.

Thexandria.com – Seorang pemikir berusia 53 tahun menempuh perjalanan melintasi dunia dari Benua Eropa ke Benua Amerika sepanjang lebih dari 6.000 kilometer jauhnya untuk berbicara mengenai isi pikirannya. Pemikiran Sigmund Freud pada fase awal abad 20an sudah mulai menunjukkan kematangan teorinya.

Pada 1909 ia memberikan lima kuliah tentang Psikoanalisis di Amerika, sebuah pemaparan ide-idenya secara pendek yang pertama kali dilakukan dan paling terkenal. Bisa dikatakan jika inilah gerbang yang menunjukan ketertarikan dunia terhadap teori-teori Freud yang mulai terkenal, bahwa psikoanalisis tidak lagi dianggap sebuah delusi apalagi sihir, melainkan sebagai sebuah bidang keilmuan yang nyata.

Sigmund Freud sebagai pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi, lahir di Moravia pada tahun 1856, pada tahun 1860 keluarganya pindah ke Wina, ia tumbuh dan besar di Wina namun meninggal di London pada tahun 1939 pada umur 83 tahun. Apa yang telah membuat Freud dikenal oleh dunia adalah ia menemukan psikoanalisis oleh sistematisasi ide dan informasi yang datang dari teori dan klinis dengan arah yang berbeda.

Baca Juga Narasi Pemimpin Negeri dan Pepatah “Leiden is lijden”

Sementara ilmu psikologi mulai diakui sebagai ilmu yang mandiri sejak tahun 1879 saat Wilhelm Mundt mendirikan laboratorium psikologi di Jerman. Sejak saat itu, ilmu psikologi berkembang pesat yang ditandai dengan lahirnya berbagai aliran-aliran di dalamnya.

Di tengah-tengah psikologi yang memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan memandang kesadaran manusia sebagai aspek utama dari kehidupan mental. Sigmund Freud mengemukakan gagasan bahwa kesadaran itu hanyalah bagian kecil saja dari kehidupan mental, sedangkan bagian yang terbesarnya adalah justru ketidaksadaran atau biasa kita sebut alam bawah sadar. Freud mengibaratkan alam sadar dan bawah sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul ke permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (alam bawah sadar).

Pada masanya Psikoanalisis Freud dapat dikategorikan sebagai ilmu baru tentang manusia yang mengalami banyak pertentangan. Bahkan hingga sekarang, teori ini juga masih banyak mendapat kritikan dari para ahli yang berseberangan.

Dari sekian banyak karyanya, Freud mengungkapkan bukunya yang berjudul “The Interpretation of Dreams” pada tahun 1900 sebagai favorit pribadinya yang juga memiliki kontribusi paling signifikan untuk memahami pemikiran manusia. Buku tersebut merupakan buku yang berisi dasar-dasar teori dan ide yang membentuk psikoanalisis.

Pada akhirnya Psikoanalisis Freud merupakan teori yang ia kembangkan untuk menganalisis psikologis manusia. Menurutnya, tingkah laku manusia justru didominasi oleh alam bawah sadar yang berisi id, ego, dan super ego. Id (libido) mendorong manusia untuk melakukan segala sesuatu yang berprinsip pada kesenangan, namun dorongan ini dibatasi oleh ego yang berprinsip pada realitas sehingga perilaku yang dimunculkan manusia sebagai tindakan adalah  super  ego.

Serial Netflix ‘Freud’, Interpretasi Kisah Hipotesis Awal Sigmund Freud

Freud – Netflix

Sigmund Freud yang selama ini dikenal sebagai tokoh pendiri psikoanalisis di bidang psikologi, memiliki series berjudul ‘Freud’ merupakan series yang dirilis Netflix pada awal 2020. Dalam series ‘Freud’ disajikan penampilan seorang pria muda cerdas yang tak pernah puas dalam keyakinan soal keilmuan.

Freud muda adalah seseorang yang haus akan jawaban dan menghabiskan banyak waktunya untuk meyakinkan metode hipnosis menjadi salah satu cara yang akan berhasil untuk mengobati penyakit mental. Sementara ilmuwan pada masa itu tidak siap dan meragukan teori tersebut, bahkan mengolok-olok Freud.

Meskipun mungkin banyak dari kita akan merasa sedikit kecewa jika ingin ingin melihat ketenaran Sigmund Freud sebagai seorang yang berjuang dan menghabiskan waktunya dengan buku-buku, penelitian, serta teori-teori dan analisis mengenai psikoanalis dalam series ini. Di sini Freud muda masih jauh dari menjadi tokoh ternama yang dihormati dunia. Konsep Freud tentang alam bawah sadar dan penggunaan hypnosis malah menarik ejekan di sekitarnya dan ia bahkan dikucilkan dalam lingkaran medis saat itu.

Namun yang tak kalah menarik Marvin Kren selaku sutradara dan penulis menceritakan tokoh Freud muda sebagai sosok yang melakukan pencarian tak kenal lelah, berapi-api, liar, dan tentunya kecanduan kokain, semua itu dikemas sebagai cerita yang mengungkap sejumlah peristiwa pembunuhan yang terjadi di kota Wina pada pertengahan abad ke-19 sekaligus mengiringi pembuktian Freud mengenai hipotesisnya termasuk metode hipnosis dan alam bawah sadar.

Ketegangan series ini dimulai ketika terapi hipnosis Freud pada seorang perempuan cenayang berbakat bernama Fleur Salome yang secara kebetulan mereka berhasil mengetahui lokasi hilangnya seorang anak perempuan yang diumumkan oleh kepolisian Wina keesokan harinya.

Marvin mengatakan “Saya ingin menunjukkan sosok ‘Freud’ yang tidak kita kenal dan belum pernah dilihat sebelumnya – seorang pria yang mencari pengakuan, seseorang yang terjebak di antara dua wanita, antara akal sehat dan naluri. Psikoanalisis dan konsep id, ego, dan super-egonya tidak diciptakan dalam ruang hampa, melainkan didasarkan pada pengalaman si genius problematik yang telah menjelajahi semua sisi kemanusiaan.”

Sungguh menurut saya series Netflix berjudul ‘Freud’ cukup menarik untuk melihat bagaimana sosok Sigmund Freud dengan penggambaran cukup berbeda dari bayangan selama ini. Dan pastinya secara pribadi saya menanti kelanjutan dari kisah Sigmund Freud dari season kedua series ini.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.