Mengenal Sekte Mistik Nusantara: Bhairawa Tantra

Sekte Bhairawa Tantra

Mengenal Sekte Mistik Nusantara: Bhairawa Tantra

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

Ritual Bhairawa dijelaskan dalam Prasasti Suroaso yang berangka tahun 1297 saka.

Thexandria.com – Dalam sejarah perkembangan agama Hindu di Nusantara, disebutkan bahwa sekte Bhairawa pernah berkembang di Indonesia. Bhairawa sendiri adalah Sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha Aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Ni Luh Gede Wariati, M. Fil.H (jurnal Sphatika, Volume 9, No: 1 tahun 2018)

Disebutkan bahwa sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M, di Benggala sebelah timur. Dari sini kemudian Tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk Ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (R. Pitono Hardjowardojo, 1966; 25).

Bhairawa Tantra merupakan bagian dari peradaban Jawa kuno. Banyak raja mengikuti sekte ini karena ritual-ritual dan simbol-simbol Magisnya bisa digunakan untuk menganugerahi atau mengancam para bawahan. Ritual-ritual Bhairawa Tantra juga menetapkan ikatan mistis dan spiritual antara raja dan kawulanya, sehingga memungkinkan raja untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. (Paul Michel Munoz, 2009;172).

Baca Juga Ritual Sakral Suku Dayak; Mangkok Merah, Ngayau (Penggal Kepala), dan Perjanjian Tumbang Anoi

Menurut maknanya, Bhairawa berarti menakutkan atau mengerikan. Bhairawa merupakan salah satu perwujudan Dewa Siwa dalam aspek peleburan dengan perwujudan yang sangat menyeramkan. Bhairawa juga dikenal dalam berbagai bahasa dengan berbagai sebutan, misalnya: Bhairava (Sanskrit), Bheruji (Rajasthan), Vairavar (Tamil) dan bila semua kata tersebut dihubungkan aspek Dewa Siwa, maka makna kata Bhairawa berarti “peleburan” (I Wayan Miasa, 2012:1).

Melansir Historia, pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Ciri-ciri mereka adalah anti asketisme dan anti berpikir. Menurut mereka, pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan secara penuh memanjakan kenikmatan hidup dengan tanpa mengenal kekangan moral ini puncaknya adalah untuk melenyapkan segala hasrat terhadap semua kenikmatan itu. Dengan memenuhi segala hasratnya, seorang pengikut sekte ini akhirnya tidak merasakan apa pun selain rasa jijik terhadap kenikmatan tersebut.

Oleh karena itu, pengikut sekte ini justru melakukan ritual-ritual tertentu yang bagi selain mereka dianggap sebagai larangan. Hal ini sebagai usaha agar manusia bisa secepatnya meniadakan dirinya sendiri dan mempersatukan dirinya dengan Dewanya yang tertinggi. Ritual mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Pancamakarapuja ataumalima (lima Ma) dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Lima Ma tersebut adalah matsya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman), madra (tarian hingga mencapai ekstase), dan maithuna (upacara seksual).

Baca Juga Penghuni Alam 4 Dimensi di Indonesia dan Portal Waktu di Inggris

Jejak Ritualnya di Nusantara

Arca Raja Adiyawarman
Arca Raja Adityawarman

Ritual Bhairawa dijelaskan dalam Prasasti Suroaso yang berangka tahun 1297 saka. Prasasti ini menjelaskan dengan cukup rinci pentahbisan Raja Adityawarman sebagai Ksetrajnya, yang berarti dia menerima pentahbisan tertinggi, yaitu pembebasan bagi Bhairawa.

“Prasasti ini adalah bukti kuat yang tidak tertumbangkan bahwa ada pemujaan Bhairawa di Sumatra tiada berapa lama menjelang masuknya agama Islam di Nusantara,” tulis J.L. Moens dalam Buddhisme di Jawa dan Sumatera dalam Masa Kejayaannya Terakhir.

Baca Juga Mengenai Hakikat Roh Dalam Dogma Islam

Moens menafsirkan Prasasti Suroaso bahwa di sebuah lapangan mayat Raja Adityawarman ditahbiskan sebagai Ksetrajnya dengan nama Wicesadharani, artinya seorang yang memiliki konsentrasi tinggi. Adityawarman ditahbiskan sambil bersemayam dengan sunyi senyap di sebuah tempat duduk berupa tumpukan mayat. Dia digambarkan sambil tertawa-tawa sebagai setan dan minum darah.

“Sementara, korban manusianya yang besar, bernyala-nyala menebarkan bau busuk yang tak tertahankan, tetapi bagi orang yang sudah ditahbiskan berkesan sebagai harumnya berpuluh-puluh ribu juta bunga,” papar Moens menjelaskan isi prasasti.

Pada keterangan lain, ritual semacam ini bukan hanya dilakukan Adityawarman. Raja Singhasari, Kertanegara, pun menganut ajaran serupa, yaitu Tantrayana aliran Kalacakra. Ini dapat disimpulkan melalui kenyataan dia ditahbiskan sebagai Jina di Kuburan Wurara. Hal ini tertera dalam Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211 saka atau 1289 M. Arca pentahbisannya, di mana pada lapiknya tertera berita soal Wurara, merupakan wujud Aksobhya yang kini dikenal dengan nama Joko Dolog.

Ritual di kuburan selalu identik dengan laku Tantrayana. Soal ini, Moens menjelaskan, kuburan atau lapangan mayat menurut penganut ajaran ini dianggap sebagai tempat ikatan Samsara dilepaskan. Tempat di mana kehidupan duniawi berakhir.

“Lapangan mayat adalah tanah suci yang paling tepat untuk melakukan di atasnya tindakan upacara bernilai tinggi, khususnya upacara pembebasan,” tutur Moens.

Islam dan Ritual Bhairawa Tantra

Gambar Selametan
Gambar hanya ilustrasi

Sebagian ahli juga menganggap Bhairawa Tantra adalah bentuk aliran pangiwa (kiri) dari interpretasi ajaran Tantrayana. Sekte ini dikatakan menyimpang dari ajaran Pancamakara pada Kitab Kali Mantra.

Dalam perjalanannya, disebutkan bahwa sekte ini sempat terlibat friksi dengan agama Islam yang kala itu baru masuk ke Nusantara.

Dan pada abad IV, Islam semakin menancapkan pengaruhnya di tanah Jawa. Pelan namun pasti, ajaran Muhammad yang disebarkan ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Wali (Wali Sangha, Walisongo) mulai berhasil meng-Islamkan penduduk Nusantara khususnya Jawa. Namun, keyakinan-keyakinan lama peninggalan moyang mereka, belum sepenuhnya tergusur.

Ketika itu, Bhairawa Tantra masih kuat di daerah Daha (Kediri, Jawa Timur, sekarang). Maulana Makdum Ibrahim atau Kanjeng Susuhunan (manusia mulia, diucapkan Sunan) Bonang, putera Sayyid Ali Rahmad atau Kanjeng Susuhunan ing Ngampeldenta (Sunan Ampel) bergerilya untuk menghilangkan aliran sekte Bhairawa Tantra.

Dari Tuban, Kanjeng Sunan Bonang berjalan ke arah selatan hingga sampai di tepi bengawan Brantas. Daha, basis penganut Bhairawa Tantra berada di sebelah timur Brantas. Sedangkan tempat yang menjadi persinggahan salah satu anggota Majelis Wali itu berada di sebelah barat Brantas, bernama kabuyutan Singkal (Desa Singkal Anyar, Kecamatan Prambon, Nganjuk, Jawa Timur sekarang).

Untuk beberapa waktu, Kanjeng Sunan Bonang menetap di kabuyutan Singkal. Ketika penganut Bhairawa Tantra di seberang timur bengawan Brantas melakukan ritual Pancakamarapuja, sebuah upacara tandingan juga dilakukan di seberang barat bengawan Brantas.

Sunan Bonang mengumpulkan seluruh penduduk laki-laki Singkal, lalu mengarahkan mereka untuk duduk membentuk sebuah cakra atau lingkaran. Berbagai makanan seperti nasi golong, daging ayam, dan sebagainya juga turut disiapkan di sana. Slametan, begitu Sunan Bonang mengenalkannya kepada orang-orang kabuyutan Singkal. Diambil dari bahasa Arab yaslamu-salamun yang artinya selamat. Menyelamatkan orang-orang Daha dari ajaran menyimpang Bhairawa Tantra. Beliau juga menyebutnya sebagai Kendurenan, diadopsi dari bahasa Persia, Kanduri yang berarti upacara makan-makan.

Kemudian slametan atau kendurenan yang digagas Sunan Bonang dengan cepat merebak ke kabuyutan-kabuyutan sekitar Singkal. Dalam beberapa tahun, prosesi sedekah makanan yang “di-akukturasi” tersebut, semakin marak di hampir seluruh tanah Jawa. Pancamakarapuja orang-orang Bhairawa Tantra pun, diyakini tersingkir dari kepercayaan di Nusantara.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.