Mengenai Hakikat Roh Dalam Dogma Islam

Mengenai Hakikat Roh Dalam Dogma Islam

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Banyak sekali di alam semesta ini, yang keseluruhannya menyimpan misteri. Tak terkecuali kita, manusia.

Sudah kadung dalam berbagai ajaran dan keyakinan, jika manusia tidak ‘berdiri’ sendiri. Melainkan ada unsur lain yang menggerakan sanubari. Karena raga hanyalah cangkang yang rapuh, yang terikat pada hukum dunia, semisal penuaan dan lain sebagainya.

Apakah yang kami maksud dengan ‘unsur lain yang menggerakan sanubari’? Ia adalah roh.

Roh menjadi satu kekuatan yang lintas dimensional, dikarenakan keberadaannya yang ghaib, tak terlihat, namun terasa begitu mengikat.

Dikatakan bahwa apabila roh, terpisah dari raga, maka kita telah sampai pada kematian. Kami ingin membagikan sudut pandang dan keyakinan mengenai hakikat roh dalam dogma Islam. Sekirannya ini dapat menambah khazanah bagi kita semua, tanpa ada tendensi ke arah keyakinan-keyakinan yang lain.

Apakah Roh itu Makhluk?

Dikatakan bahwa Tuhan menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dan meniupkan Roh-Nya ke dalam tubuh Adam.

Semua rasul sepakat bahwa roh itu baru dan merupakan makhluk (sesuatu yang diciptakan), dibuat, diatur, dan dikuasai.

Yang demikian ini dapat diketahui secara pasti dari agama mereka, bahwa alam ini baru, bahwa kebangkitan raga akan terjadi, bahwa hanya Tuhan semata yang menciptakan dan segala sesuatu selain daripada-Nya adalah makhluk.

Hafizh Ashbahan Abu Abdullah bin Mandah pernah ditanya tentang masalah roh. Maka ia menjawab, “ada seseorang yang bertanya padaku tentang roh yang dijadikan Allah sebagai tiang penyangga jiwa dan raga makhluk (manusia). Ada segolongan orang yang beranggapan bawha roh itu bukan makhluk. Sebagian yang lain ada yang hanya mengkhususkan pada roh kudus (yang suci) yang merupakan bagian dari Dzat Allah. Saya akan menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan para pemuka golongan mereka, dan saya jelaskan pula letak perbedaan para sahabat, tabi’in dan para ulama. Dari sini dapat diketahui bahwa pendapat mereka itu serupa dengan pendapat Jahm (bin Shafwan, pemimpin golongan Jahmiyah) dan rekan-rekannya. Saya katakan bahwa manusia saling berbeda pendapat dalam mengenali roh dan posisinya dari jiwa.”

Sebagian di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa roh itu adalah makhluk. Ini merupakan pendapat Ahlul-Jama’ah Wal-Atsar. Mereka berhujjah dengan sabda Nabi Muhammad, “Roh-roh itu serupa dengan pasukan perang yang dikerahkan. Selagi saling mengenal, maka ia akan bersatu, dan selagi saling mengingkari, maka ia akan berselisih.”

Sebagian yang lain berpendapat, roh termasuk ketetapan Allah, dan Allah menyembunyikan hakikatnya, tidak dapat diketahui makhluk-Mya. Mereka berhujjah dengan firman Allah, “Roh itu termasuk ketetapan Rabbku.” (Al-Isra’:85).

Manakah yang Lebih Dulu Diciptakan? Roh atau Raga?

Ada dua pendapat yang berkembang di kalangan manusia terkait masalah ini, seperti yang dikisahkan Syaikhul-Islam dan lain-lain. Diantara orang yang mengatakan lebih dulu penciptaan roh ialah Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan Muhammad bin Hazm.

Ibnu Hazm mengisahkan bahwa pendapat ini merupakan ijma’.

Orang-orang yang berpendapat bahwa roh lebih dulu diciptakan daripada raga, berhujjah dengan firman Allah,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, lalu Kami bentuk tubuh kalian, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kalian kepada Adam’, maka mereka pun bersujud.” (AL-A’raf: 11)

Mereka berkata, “ini (ayat) dimaksudkan untuk urutan-urutan. Ayat ini mengandung pengertian bahwa roh diciptakan sebelum ada perintah Allah kepada para malaikat agar bersujud kepada Adam. Sebagaimana diketahui secara pasti, raga kita setelah itu. Dengan begitu waktu itu kita masih berupa roh. Hal ini ditunjukkan firman Allah,

“Dan (ingatlah) ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi-sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau adalah Rabb kami)’.” (Al-A’raf:172).

Sementara golongan yang berpendapat lain, berhujjah dengan firman Allah,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.” (Al-Hujarat:13)

Ini merupakan seruan yang ditunjukan kepada manusia yang terdiri dari roh dan badan. Hal ini menunjukan bahwa manusia secara keseluruhannya diciptakan setelah penciptaan kedua orang tuanya. Yang lebih jelas dari ayat ini adalah firman Allah,

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’:1)

Baca Juga: Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Apakah Hakikat Roh Itu?

Apakah hakikat jiwa? Apakah jiwa merupakan bagian-bagian raga? Apakah jiwa merupakan kefanaan-kefanaan raga? Apakah jiwa merupakan fisik yang dapat ditempati ataukah merupakan substansi yang kosong?

Abul-Hasan Al-As’ary berkata dalam Maqalat-nya, “Manusia saling berbeda pendapat tentang roh, jiwa dan kehidupan. Apakah roh itu kehidupan atau bukan? Apakah roh itu fisik atau bukan? An-Nazham mengatakan bahwa roh adalah raga sekaligus jiwa. Menurutnya, roh itu hidup sendiri dan dia mengingkari jika dikatakan bahwa kehidupan dan kekuatan merupakan makna di luar orang yang hidup dan kuat. Sementara yang lain berpendapat, bahwa roh adalah kefanaan.”

Sedikit intermezo, Aristoteles mengatakan bahwa roh adalah makna yang ditinggikan dari kejadian yang tunduk kepada pengaturan, perkembangan dan pengujian. Ia merupakan substansi yang sederhana dan menyebar ke seluruh alam, seperti halnya binatang yang tercermin dalam perbuatan dan pengaturannya, tidak boleh ada sifat banyak atau sedikit yang menguasainya. Dengan sifat kesederhanaannya di alam ini, maka dzat dan bangunannya tidak bisa dibagi-bagi. Meski pun ia berada di setiap binatang di alam ini, toh maknanya tetap satu.

Sementara itu, Abu Al-Hudzail berpendapat bahwa roh merupakan makna selain jiwa, dan roh bukanlah kehidupan. Kehidupan menurutnya merupakan kefanaan. Dia mengatakan bahwa bisa saja manusia pada saat tidur, jiwa dan rohnya dirampas tanpa ada kehidupan. Dia mendasarkan pendapatnya kepada firman Allah,

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (Az-Zumar:41)

Menilik pada uraian yang kami jelaskan di atas, sejatinya pengertian dan hakikat roh mengalami banyak argumentatif yang berlandaskan pada dogma.

Yang juga dapat kami simpulkan, bahwa Tuhan sendiri tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai hakikat roh, melainkan Ia rahasiakan dalam ketetapannya yang sempurna.

Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari tulisan kami kali ini.

Salam.

***

Referensi: Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 1403 Hijriah. Ar-Ruh li Ibnil Qayyim. Beirut:Darul Qalam

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.