Mengenai Déjà Vu dan Saya Membencinya

Mengenai Deja Vu dan Saya Membencinya

Mengenai Deja Vu dan Saya Membencinya

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Dejavu adalah suatu keadaan di mana Anda merasa familiar dengan kondisi sekitar Anda, seolah-olah Anda sudah pernah mengalami hal tersebut dengan keadaan yang persis sama, padahal apa yang sedang Anda alami sekarang mungkin adalah pengalaman pertama Anda. Kejadian ini bisa berlangsung 10 sampai 30 detik, dan lebih dari satu kali.

Dejavu alias “déjà vu” berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah melihat”. Sebutan ini pertama kali dicetuskan oleh Émile Boirac, seorang filosofis dan ilmuwan asal Prancis pada tahun 1876. Banyak filosofis dan ilmuwan lain yang mencoba menjelaskan mengapa dejavu bisa terjadi. Menurut Sigmund Freud, terjadinya dejavu berhubungan dengan keinginan yang terpendam. Sementara menurut Carl Jung, dejavu berhubungan dengan alam bawah sadar kita.

Penjelasan pasti terkait alasan terjadinya déjà vu sulit untuk dicari karena studi tentang dejavu sendiri tidak mudah untuk dilakukan. Peneliti hanya bisa berpegang pada pengalaman dejavu seseorang yang bersifat retrospektif sehingga sulit mencari stimulus yang memicu dejavu.

Sebenarnya ada tiga fenomena serupa yang jarang dibahas. Pertama, “Jamais vu” (tak pernah dilihat) atau perasaan bahwa sesuatu yang dilihat tiba-tiba terasa sangat asing/tidak familiar. Kedua, “Presque vu” (hampir terlihat) atau perasaan di tengah-tengah pencerahan dan realisasi. Ketiga, “déjà entendu” (sudah pernah didengar) atau perasaan pernah mendengar sesuatu sebelumnya seperti potongan percakapan atau sepenggal lagu.

Profesor Alan Brown dari South Methodist University adalah salah satu psikolog pionir yang memiliki minat atas fenomena deja vu secara khusus. Menurut hasil risetnya dalam buku “The Déjà Vu Illusion: Current Directions in Psychological Science”, dua pertiga populasi dunia pernah mengalami deja vu. Riset lain menyebut angka 60-80 persen populasi dan paling sering dialami oleh kelompok usia 15-25 tahun.

Intinya, deja vu adalah fenomena populer. Namun rupanya hingga saat ini sains masih menganggapnya sebagai sebuah misteri. Ada beberapa penelitian yang telah diterbitkan untuk mencoba menjabarkan deja vu, namun para ilmuwan belum bisa memberikan jawaban secara pasti dan komprehensif atas apa yang menyebabkan deja vu terjadi.

Di antara sekian banyak teori tentang apa yang menyebabkan deja vu, Prof. Alan Brown merangkumnya menjadi tiga pokok. Pertama, berkaitan dengan familiaritas yang secara implisit tersaji di depan seseorang. Secara sederhana, teori ini menyatakan bahwa pengalaman deja vu erat kaitannya dengan kondisi tertentu yang dilalui seseorang namun telah dilupakan dan ketika dihadapkan pada kondisi yang sama, ingatannya kembali hadir walau hanya sebagian.

Teori kedua dari Alan Brown berkenaan dengan persepsi yang terbagi atau divided perception. Menurut Alan, saat kita terdistraksi dengan hal lain, kita tetap bisa mengingat apa yang ada di sekitar namun proses ini terjadi di bawah alam sadar.

Dr. O’Connor berkata bahwa deja vu kerap dialami oleh para penderita penyakit yang berhubungan dengan otak. Ini berkesesuaian dengan teori ketiga Alan Brown, bahwa deja vu bisa terjadi akibat disfungsi biologis. Dalam catatan Brown dan O’Connor, mereka yang kerap mengalami deja vu adalah para penderita epilepsi atau demensia.

Sementara itu, terdapat sebuah kasus unik dimana terdapat seorang pria yang terjebak deja vu selama bertahun-tahun. Kasus ini dialami oleh seorang warga negara Inggris berusia 23 tahun.

Sekelompok peneliti dari Inggris, Perancis dan Kanada yang mempelajari kasus seorang pria dengan “déjà vu kronis” berpikir bahwa kegelisahan mungkin menjadi penyebab fenomena tersebut.

Kondisi pria tersebut sungguh parah sehingga ia menghindar dari menonton televisi, mendengarkan radio dan membaca koran karena ia merasa sudah pernah “mengalami itu semua”.

Dr Chris Moulin, seorang neuropsikolog kognitif dari University of Bourgogne yang melakukan penelitian ini, mengatakan pria itu sangat sehat namun memiliki riwayat depresi dan kecemasan, dan pernah mengkonsumsi LSD selama kuliah. “Kasus ini menarik perhatian karena pria ini masih muda, sadar diri, namun sangat trauma dengan sensasi konstan yang ada dalam pikirannya,” katanya.

Selama beberapa menit, atau bahkan lebih lama, pasien ini merasakan bahwa ia mengalami lagi kejadian yang sudah dilaluinya. Ia mengibaratkan episode “menakutkan” itu seperti berada dalam film thriller Donnie Darko.

Selama delapan tahun, pria itu merasa “terperangkap dalam lingkaran waktu”. Ia menjadi tertekan dan kondisinya pun makin buruk.

Bagaimanapun, deja vu merupakan kejadian yang seakan menghentikan waktu, dan membuat kita merasakan suatu sensasi aneh seperti, “saya pernah melakukan ini!” Atau “saya pernah disini”. Seringkali berujung menyebalkan, karna pada akhirnya kita tak menemukan jawaban pasti.

Baca Juga: Yang Terjauh Bukan Jarak, Tetapi ‘Long Distance Religionship’

Saya teringat dengan obrolan saya dengan seorang teman. Ia saat itu berpikir liar mengenai konsep waktu.

Menurutnya, bisa saja hari-hari yang kita lewati adalah waktu yang sebenarnya tak bergerak. Tak ada yang namanya hari kemarin atau esok. Yang ada hanya hari ini. Dan apa yang kita pikirkan tentang hari kemarin, tak lain hanyalah “permainan” otak belaka. Semacam pantulan dari proyektor.

Deja vu, mungkin juga merupakan satu hal yang linier dengan “permainan” otak tersebut. Sinyal memori dikirim kembali ke alam bawah sadar, hingga memproyeksikan kejadian yang disebut sebagai deja vu tadi.

Atau mungkin, bila kita berpegangan pada konsep reinkarnasi? Diri kita yang dulu, memang pernah mengalami atau berkunjung ke suatu tempat di kehidupan sebelumnya? Entahlah.

Yang jelas, saya benci ketika mengalami deja vu, saya seperti dihadapkan pada suatu kondisi dimana saya diharuskan “memperkosa” ingatan saya.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.