Mengapresiasi Inovasi Kalung Anti Corona Layaknya Jokes ‘Buwung Puyoh’

Mengapresiasi Inovasi Kalung Anti Corona Layaknya Jokes ‘Buwung Puyoh’

Mengapresiasi Inovasi Kalung Anti Corona Layaknya Jokes ‘Buwung Puyoh’

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Kalung anti Corona ala Kementerian Pertanian sebenarnya patut untuk meraih atensi yang positif.

Thexandria.com – Berbagai lini masa belakangan ini dihiasi pemberitaan terkait Kementerian Pertanian (Kementan) dalam upaya melawan wabah Covid-19. Sebagian besar dari kita tentu sudah mengetahui bahwa Kementan berwacana memproduksi sebuah kalung yang katanya “Anti Covid-19”. Tak ingin berlarut terlalu lama, melalui sang menteri, Syahrul Yasin Limpo, beliau meluruskan bahwasannya itu bukan “kalung anti Covid-19” melainkan “kalung anti virus Corona”—wait, emang saya yang nggak faham apa gimana, ya? Spill dong, nder.

Lahirnya kesimpang-siuran informasi di atas mengasumsikan bahwa Kementan tidak percaya diri atau bahkan belum yakin dengan terobosan mereka sendiri.

Terlepas dari apapun nama dan fungsinya, produk tersebut cukup banyak dibanjiri respon negatif. Mulai dari pertanyaan publik terhadap relevansi Kementan dalam penanganan pandemi saat ini, hingga munculnya kecurigaan yang cukup klise: permainan dana untuk proyek ini.

Kementan dianggap bukanlah ‘orang yang tepat’ untuk melakukan hal ini. Pertanyaan-pertanyaan muncul terkait hal tersebut seperti “Kenapa Kementerian Pertanian tidak memikirkan saja bagaimana ketahanan pangan selama masa pandemi ini?” hingga plesetan “Mengapa tak sekalian Kementan mengurusi problem ekspor benih lobster?”—tenang, konsep crossover ini layak untuk dicoba, kok, tapi jangan keseringan.

Produk pengembangan yang dianggap kurang adaptif dengan kebutuhan saat ini melahirkan sebuah sarkas yang cukup pedas “Baiklah bunda, mari kita simak sebuah cara menghabiskan uang dengan cara bercanda.”

Dari segi utilitas, dijelaskan bahwa kalung ini dapat membunuh 42 persen virus Corona dalam waktu 15 menit. Hal tersebut yang kemudian menghadirkan perbandingannya dengan sabun cuci tangan biasa yang mampu membunuh 100 persen virus Corona dalam waktu 20 detik saja.

Komposisi utama dari kalung ini ialah eucalyptus, yang menurut Balitbang Kementan berpotensi menetralisir atau membunuh virus Corona. Ya, masih berpotensi.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kalung anti Corona ini belum teruji secara klinis sehingga untuk keabsahannya masih tentatif. Uji klinis sendiri merupakan tahap penting yang harus dilalui yang akan memakan waktu hingga 1,5 tahun. Hingga akhirnya, banyak warganet yang menawarkan solusi efisien untuk membuat sabun batangan menjadi kalung karena lebih efektif ketimbang eucalyptus.

Cukup Tertawanya, Berikan Apresiasi

Mengapresiasi Kalung Anti Virus Corona
Gambar hanya ilustrasi

Respon negatif yang begitu deras dari masyarakat cukup menjadi ironi bagi dunia penelitian dan pengembangan. Memang, di berbagai negara maju pengembangan vaksin untuk Covid-19 sudah banyak dilakukan, namun hingga saat ini hasilnya masih nihil juga. Monopoli kepentingan oleh beberapa pihak dalam urusan vaksin ini cukup menghantui, kemudian menimbulkan masalah baru di dalam sebuah masalah besar. Laten semacam itu yang melatarbelakangi eksistensi teori konspirasi hingga dugaan komersialisasi dunia farmasi.

Kondisi saat ini yang tak kunjung membaik, menjadikan vaksin sebagai kebutuhan darurat yang dibutuhkan oleh dunia—yang sepengetahuan saya, pengembangan vaksin sendiri tidaklah mudah, butuh waktu bertahun-tahun untuk memproduksinya dalam kategori ‘siap pakai’.

Baca Juga Menyoal Etika Kepemimpinan Bu Risma yang Nangis Sambil Sujud

Kalung anti Corona ala Kementerian Pertanian sebenarnya patut untuk meraih atensi yang positif. Faktor teknologi yang masih tertinggal dari negara maju lainnya menjadi salah satu alasan untuk mengapresiasi upaya pengembangan kalung tersebut.

Komposisi yang dipakai dalam kalung ini pun identik dengan kultur tradisional ‘pengobatan alternatif’ yang memakai eucalyptus atau kayu putih. Masalah teknis dan anggaran ada baiknya dikelola dengan sebijak-bijaknya agar tak ada lagi ‘blunder’ di tengah musibah besar ini.

Pun banyak karya anak bangsa yang dianggap sebelah mata hingga akhirnya diklaim oleh pihak luar, kemudian menyesal dan teriak-teriak belakangan. Saya sendiri sangat yakin dengan kualitas anak bangsa—sebegitu yakinnya semenjak saya memilih lebih percaya pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) daripada NASA-nya Amerika.

Getirnya kondisi yang tak kunjung membaik pada pandemi saat ini menjadikan berita baik sebagai kebutuhan masyarakat dalam spasial relaksasi. Berita rencana pengembangan ini merupakan sebuah wacana yang baik. Berita lain semacam isu bangkitnya PKI, ditariknya pembahasan RUU PKS, hingga penangkapan pejabat daerah oleh KPK hanya menambah runyam pikiran masyarakat.

Situasi pandemi dengan angka pasien semakin hari semakin meningkat, tentu kita ingin berdistraksi untuk melahirkan ‘positive-vibes’—bahkan beberapa orang sudah berhenti mengikuti angka pertumbuhan pasien positif sehingga nekat untuk kembali ke rutinitas biasanya.

Sekali lagi, wacana kalung anti Corona ini merupakan sebuah berita baik, khusunya bagi dunia penelitian dan pengembangan. Penting disoroti adalah keberanian untuk mencoba dari Kementerian Pertanian. Budaya memberi apresiasi sekecil apapun di Indonesia sendiri dirasa masih kurang. Lihatlah bagaimana seringnya orang tua di sini yang hobi membandingkan anaknya dengan pencapaian anak tetangga. Duh.

Semangat dan keberanian Kementan begitu mirip dengan semangat seorang peserta audisi Raja Lawak Malaysia yang viral akhir-akhir ini. Dengan monolog khas-nya “Wung ape tu man? Wung Puyo.” meskipun tak seberapa lucu, namun juri saat itu tetap mengapresiasi keberaniannya.

Selayaknya sang juri, seperti itulah sepatutnya kita menyikapi dan mengapresiasi. Juga memberi respon positif seperti yang disampaikan sang juri:

“Satu percubaan yang mantap..”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.