Mengakali Perkuliahan Daring yang Garing dengan Model Pembelajaran Jurnalisme

Mengakali Perkuliahan Daring yang Garing

Mengakali Perkuliahan Daring yang Garing dengan Model Pembelajaran Jurnalisme

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Informasi juga menjadi sebuah komoditas vital yang berperan untuk mengedukasi masyarakat.

Thexandria.com – Kondisi yang tak stabil dalam masa pandemi Covid-19 jelas merugikan banyak pihak dan aspek. Bahkan, prakiraan waktu akan kapan selesainya bencana global ini belum dapat dipastikan hingga kapan. Dunia pendidikan menjadi salah satu spektrum yang terkena imbas besar dari adanya wabah pandemi ini. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sigap menelurkan beberapa kebijakan yang dirasa mampu memberikan dampak dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

Seluruh penyelenggaraan kegiatan pendidikan dialihkan, diundur bahkan ditiadakan. Mulai ditiadakannya ujian nasional (UN), belajar di rumah bagi para siswa hingga masa kuliah online mahasiswa yang pada awalnya diperpanjang hingga 29 Mei 2020.

Pada awal pelaksanaannya, banyak pihak yang setuju dengan kebijakan ini karena, mungkin, terbuai asumsi awal yang salah kaprah—sekolah atau kuliah online, bukan libur.
Bahkan saat ini berhembus kabar bahwa ada wacana seluruh kegiatan pembelajaran akan berlangsung secara daring hingga akhir tahun 2020. Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa tahun akademik perguruan tinggi tetap dimulai pada bulan Agustus mendatang meskipun pandemi belum kunjung reda. Sang menteri yakin bahwa perguruan tinggi lebih mampu menjalankan sistem pembelajaran daring ketimbang jenjang pendidikan menengah dan dasar.

“Karena keselamatan adalah yang nomor satu, saat ini perguruan tinggi masih melakukan secara online sampai ke depannya mungkin kebijakan berubah. Tapi, sampai saat ini belum berubah, jadi masih melakukan secara daring. Itu adalah keputusan dari Kemendikbud saat ini,” terang Nadiem dalam konferensi video Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, Senin (15/6/2020).

Pada tingkat perguruan tinggi, banyak ketidaknyamanan dalam pelaksanaan kuliah online yang terpantau dari berbagai linimasa sosial media. Keluhan atas ketidaknyamanan tersebut bukan tanpa alasan, yang apabila ditilik secara mendalam merambah beberapa aspek penting. Sebagian besar merasakan betapa beratnya perkuliahan online dibandingkan perkuliahan konvensional.

Pembelajaran online pada pelaksanaannya membutuhkan dukungan perangkat-perangkat mobile seperti telepon pintar, tablet, laptop dan hati yang sudah move on yang dapat digunakan untuk mengakses informasi dimana saja dan kapan saja. Penggunaan teknologi mobile memiliki kontribusi besar di dunia pendidikan, termasuk di dalamnya adalah pembelajaran jarak jauh.

Kuliah Daring
Gambar hanya ilustrasi

Secara psikologi juga berdampak pada kesehatan mental sebagian besar mahasiswa. Penyebab utama stres yang dialami ini ialah terbatasnya ruang sosialisasi saat di rumah. Karena perkuliahan dalam kelas dinilai lebih mampu memberikan penyegaran fikiran tiap-tiap individu di dalamnya. Pada prosesnya terjadi interaksi, komunikasi, afiliasi, hingga menyukai teman dalam diam dengan individu lain yang mampu memberikan pengalaman baru dan pembelajaran diri. Sekaligus menjadi justifikasi bahwa memang benar, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Tugas yang represif dan tidak adaptif dengan kondisi yang dialami mahasiswa saat ini ditenggarai menjadi akar permasalahan utama ketidak-optimalan perkuliahan online. Sehingga perlu adanya penyegaran dengan pengurangan intensitas pemberian tugas yang telalu banyak. Alternatif lain yang bisa dilakukan untuk menyegarkan suasana kegiatan pembelajaran adalah peralihan model pembelajaran yang berbeda dan variatif.

Sebuah Penyegaran

Salah satu cara untuk membuat pembelajaran menarik adalah pembahasan topik di luar mata kuliah terkait. Mengangkat bahasan yang aktual khususnya wabah pandemi Covid-19 diharapkan juga dapat mengedukasi mahasiswa-mahasiswa dan orang di sekitarnya. Terlebih pembahasan tersebut dapat dibuat sedemikian unik bagi mahasiswa untuk mencoba hal baru.

Mahasiswa diajak untuk berperan serta dalam mengedukasi masyarakat di tengah masa pandemi Covid-19 dengan menyampaikan informasi yang valid. Karena arus informasi yang saat ini beragam dan tak semua kredibel, bahkan beberapa ada yang menyampaikan pemberitaan berdasarkan sebuah kepentingan hingga hadirnya berita-berita palsu (hoax).

Khususnya dalam masa pandemi Covid-19, keterbukaan informasi yang valid menjadi kebutuhan masyarakat untuk tetap waspada dalam beraktivitas. Informasi juga menjadi sebuah komoditas vital yang berperan mengedukasi masyarakat.

Masyarakat tidak puas hanya memperoleh informasi dari satu sumber saja, yang kemudian melakukan pencarian ke sumber informasi lainnya. Sementara itu hal tersebut didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat. Masyarakat pun juga sangat memungkinkan untuk berperan serta sebagai penyampai informasi.

Banyaknya faktor di atas yang kemudian melahirkan sebuah fenomena baru dalam bidang jurnalisme yaitu “citizen journalism” atau “civic journalism”.

Mempraktekkan civic journalism berangkat dari sebuah perangkat nilai yang kemudian dikembangkan dalam praktek, sehingga keduanya menjadi sebuah aktivitas jurnalisme. Jurnalisme hadir di tengah situasi sosial tertentu, tidak berada di ruang hampa, sehingga jurnalisme memiliki kewajiban terhadap kehidupan publik. Civic journalism tidak hanya menjadi wadah untuk lalu lintasnya sebuah informasi atau peristiwa, tetapi jurnalisme turut mempengaruhi dan berkontribusi secara kongkrit (Pew Center for Civic Journalism).

Model Pembelajaran Sistem Jurnalisme

Dosen sebagai tenaga pengajar diposisikan sebagai penanggung jawab terhadap seluruh kegiatan dalam model pembelajaran. Diharapkan keterlibatan langsung dosen dalam setiap tahapan yang dilakukan agar dapat menjaga kualitas konten yang dihasilkan. Sebelum masuk ke dalam tahap produksi, tentunya mahasiswa harus tahu terlebih dahulu sejauh apa batasan dalam pembuatan konten tersebut. Di dalam konten tersebut harus mengedepankan prinsip edukatif dan infromatif sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Baca Juga RUU Haluan Ideologi Pancasila yang Tak Lebih Urgen dari Membalik Tempe di Penggorengan

Berikutnya mahasiswa harus melakukan riset dari berbagai sumber termasuk daerahnya sendiri. Tahap ini merupakan tahapan yang sangat vital dalam model pembelajaran ini. Mahasiswa diminta untuk melakukan riset secara mendalam dengan menerapkan prinsip dunia jurnalistik, yaitu check and re-check. Salah satu elemen penting yang harus dipegang seorang jurnalis adalah “Independensi terhadap sumber berita”. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya bias informasi. Penyampaian infromasi dari daerah masing-masing juga sangat diperlukan untuk membuat beragamnya keadaan yang terjadi secara aktual.

Mahasiswa diminta untuk membawakan script berita yang telah mereka susun dengan gaya seorang reporter saat menyampaikan berita. Hal ini memberikan sebuah pengalaman baru bagi mahasiwa untuk menemukan potensi lain pada dirinya dan juga menumbuhkan rasa percaya diri. Sekaligus sebagai bentuk realisasi sebuah stigma bahwa “mahasiswa sebagai agen perubahan” yang sangat diharapkan perannya bagi masyarakat.

Setelah melakukan rangkaian panjang di atas, maka output yang diharapkan adalah sebuah video karya jurnalistik. Dimana nantinya video tersebut dipublikasikan atau diupload ke salah satu sosial media tertentu atau website yang didukung oleh pihak kampus dalam mempromosikan sebuah produk kegiatan pembelajaran.
Metode ini sebenarnya sudah banyak dipakai oleh banyak media sebagai salah satu sumber informasi bagi publik, termasuk Thexandria sendiri—terlepas dari masuk atau tidaknya gagasan ini.

Btw, semoga lancar-lancar ya kuliahnya kawan-kawan mahasiswa.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.