Mengadopsi Filosofi Kehidupan Bikini Bottom di Kehidupan Orang Dewasa

Filosofi Kehidupan

Mengadopsi Filosofi Kehidupan Bikini Bottom di Kehidupan Orang Dewasa

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Teman-teman kerjanya udah pada keren-keren banget, aku masih gini-gini aja.”

Thexandria.com – Memulai usia kepala kedua, realita kehidupan semakin nyata menghampiri mulai dari pengalaman baru, siklus pertemanan yang datang dan pergi, hingga rasa insecure yang kerap muncul dengan sendirinya. Banyak yang menilai hal itu sangatlah wajar karena merupakan bagian dari fase quarter life crisis.

Sedikit intro bagi yang belum tahu, mengutip dari Hello Sehat penjelasan tentang quarter life crisis ialah sebuah masa di mana seseorang merasa cemas, ragu, gelisah dan galau terhadap tujuan hidupnya. Tidak hanya tujuan, kondisi ini terjadi pula pada orang yang ragu pada masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, asmara, hubungan dengan orang lain, hingga keuangan.

Krisis ini sangat sering terjadi saat mulai memasuki usia 20-30 tahun. Walaupun demikian, ada saja orang-orang yang menghadapi krisis ini usia 18 tahun. Akan tetapi, karena kasus tersebut sangat langka, krisis usia seperempat abad ini umumnya terjadi pada kalangan milenial.

Sebagai bentuk respon atas krisis yang terjadi seseorang akan mengalami turbulensi dalam diri yang banyak disebut dengan anxiety, insecure, hingga overthinking 3 am thought.

Melihat banyak teman di sekitar dengan pencapaian yang cukup baik dan bahkan sukses membuat rasa insecure muncul apabila dibandingkan dengan diri kita yang “belum menghasilkan apa-apa”. Pada malam hari sebelum tidur, derita tersebut semakin disempurnakan dengan kegiatan overthinking yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Belum lagi ditambah ke-isengan tangan saat berselancar di gadget yang terkadang melakukan hal yang sepatutnya tidak harus dilakukan, mengilas balik kenangan dengan mantan pacar misalnya. Semakin tenggelam dalam lautan luka dalam ini mah namanya..

Overthinking
Gambar hanya ilustrasi

Sebenarnya banyak cara untuk menyikapi beberapa pencapaian teman yang jauh lebih baik dari kita agar tak sampai overthinking. Paling utama adalah berhenti membandingkan diri dengan teman yang lebih sukses, cukup jadikan salah satu sudut pandang, bukan sudut pandang utama. Sadarilah kalau setiap individu di dunia ini memiliki cara tersendiri untuk bahagia, tidak mesti sama.

Lihatlah bagaimana Spongebob bisa sangat bahagia walau hanya bekerja di Krusty Krab, tidak dengan Squidward yang bekerja karena memang tuntutan kebutuhan. Dalam ilmu filsafat, salah satu aliran filsafat Stoicism mengajarkan manusia akan dikotomi kendali bagi diri sendiri untuk menentukan kebahagiaan sendiri yang tidak berpatokan pada kebahagiaan orang lain. Bahkan bersifat ‘bodo amat’ menjadi salah satu opsi yang susah-susah-gampang untuk dilakukan. Merujuk pada Patrick yang justru sangat bahagia dan tidak terlihat beban meskipun tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa.

Dalam perjalanannya entah bagaimana bisa sebuah spons kuning menciptakan balada baru kepada para penikmat layar kaca. Bikini Bottom tidak hanya sekadar kota dasar laut yang dipenuhi bunga, terlebih menghadirkan banyak pengalaman bagi Spongebob yang mampu berbaur dengan kehidupan biota laut.

Agak sulit menolak fakta bahwa Spongebob adalah salah satu makhluk dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Karena kehidupan tak melulu bahagia, maka wajar apabila melihat adegan Spongebob begitu sesenggukan menangis dan kembali meminum air matanya. Terpenting yang bisa diteladani dari seorang Spongebob adalah ia menjadikan kebahagiaan sebagai tonggak dan tujuan utama kehidupan tanpa adanya rasa dendam dan ingin menyakiti orang lain.

Artistoteles menjelaskan bahwa dia menemukan konsep dari kebahagiaan justru dari dua sisi yang berlawanan, kebaikan dan kejahatan. Sejalan dengan episode serial ini yang berjudul “Dying for Pie” yang menampilkan adegan Spongebob memakan kue pie pemberian Squidward, bukannya mengecam atau membalas dendam, ia malah mengatakan “Bila aku mati, meledak berkeping-keping karena kecerobohan seorang teman, baiklah tak apa.” dengan suasana yang haru.

Hal itu semakin menguatkan, bahwa sekalipun kejahatan yang menimpa kita, jika kita begitu ikhlas dan mengatur itu sebagai sebuah kebahagiaan, maka jadilah suka meskipun kenyataannya duka.

Baca Juga: Tonight Show Akhirnya Comeback: Kala Cinta Lebih dari Sekadar Rating

Sementara untuk karakter Squidward sendiri merupakan cerminan perpaduan pribadi yang individual dan narsistik. Butuh waktu cukup lama untuk melihat kepedulian Squidward saat rumah Patrick kebakaran. Bahkan saat keluar pun yang dia teriakkan adalah “Woy berisik sekali kalian, bisa tidak kalian berhenti melakukan hal-hal bodoh!”

Alunan klarinet yang tidak bagus-bagus amat dan lukisannya yang justru bisa dikatakan buruk malah dia puji sebagai mahakarya terbaik abad ini. Ya namanya juga narsistik, tidak peduli penilaian orang lain, namun cara itu yang menjadi standar baku bagi Squidward untuk bahagia.

Sementara untuk sahabat Spongebob, si Patrick adalah seorang nihilism yang tidak memiliki orientasi maupun tujuan dalam hidup. Bahkan ia mampu bersahabat tanpa syarat dengan Spongebob walau hanya sekadar bermain gelembung dan simulasi berumah-tangga dengan memelihara bayi kerang.

Dalam spektrum ekonomi, kita bisa meninjau bagiamana oportunis dan kapitalis-nya Mr Krab. Menghadirkan Plankton sebagai rivalnya merupakan hal yang tepat karena pemilik Chum Bucket itu selalu berusaha meruntuhkan dominasi Krusty Krab. Monopoli yang diupayakannya pun samar-samar menjadi representasi seorang komunis yang berpegang teguh pada Marxisme.

Tetapi apa yang disebutkan di atas merupakan rujukan karakter fiksi; jika dikomparasikan tidak sepenuhnya bisa relevan dengan kehidupan nyata. Cukup ambil bagaimana bahagia bisa diupayakan se-sederhana Spongebob dan Patrick dengan menangkap ubur-ubur, Squidward dengan permainan klarinet-nya, sampai Tuan Krab dengan menemukan uang koin di jalanan.

Yha, karena kita sendiri yang menentukan kebahagiaan kita, bukan melihat standar orang lain.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.