Menebak-nebak Opini Miskin dan Kaya dari Nadin Amizah

Menebak Opini Miskin dan Kaya Nadin Amizah

Menebak-nebak Opini Miskin dan Kaya dari Nadin Amizah

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Kami memang orang miskin. Di mata orang kota, kemiskinan itu kesalahan. Lupa mereka lauk yang dimakannya itu kerja kami.

Pramoedya Ananta Toer

Thexandria.com – Jagat Twitter akhir-akhir ini bak perhelatan Piala Dunia yang terus membakar euforianya— selalu saja menghadirkan ‘pertandingan’ panas yang menarik bagi para penggunanya. Belum reda pembahasan tentang bule-bule overstay yang nggak tau diri dan pamitnya mang Aden si “master of darkjokes in Twitterland”, kini perbincangan menyasar salah satu publik figur, Nadin Amizah. Penyanyi muda yang akrab dengan karakter melankolis itu harus menerima kenyataan ‘dirujak’ oleh warga Twitter.

Permasalahan muncul dari potongan video pernyataan Nadin Amizah dalam podcast Deddy Corbuzier. Video yang tayang sejak 13 Januari tersebut mendadak ramai dan bahkan menjadi trending topic. Memang, dalam rekaman tersebut apa yang diucapkan oleh Nadin sangat rawan akan multi-interpretasi dan bisa memicu kontroversi bagi banyak orang.

“Jadilah orang kaya, karena kalau kamu kaya kamu akan lebih mudah jadi orang baik. Dan saat kita miskin, rasa benci kita pada dunia itu sudah terlalu besar sampai kita gak punya waktu untuk baik sama orang lain lagi.” begitulah yang diucapkan penyanyi 20 tahun dalam video tersebut.

Bila dirunut dari video aslinya, Deddy Corbuzier selaku tuan rumah melempar sebuah meme yang menarik baginya, yang menggambarkan bocah yang kurang mampu sedang makan. “Tulisannya begini: Mereka yang mengatakan bahagia itu tidak selalu dari uang, itu hanya orang-orang kaya. Mereka mengambil foto kami saat lagi tertawa lalu membuat kata-kata tersebut,” kata Deddy Corbuzier.

Nadin Amizah kemudian menanggapi, “Menurut aku saat seseorang itu miskin, bukan—dalam artian miskin ekonomi ya, bukan miskin bahagia dan lain-lain—mereka tertekan secara ekonomi, mereka bisa jadi, balik lagi, projecting-nya malah ke hal-hal, you know, yang malah jadi lebih enggak baik.”

Hal tersebut kemudian menyebabkan warganet yang doyan dengan keributan harus ‘turun gunung’ menyambangi akun @rahasiabulan sebagai akun personal Nadin Amizah. Berbagai interpretasi terhadap pernyataan Nadin membuat Twitter menghadirkan diskursus baru yang lumayan berimbang—slalu ada pro dan kontra. Sempat terjadi perdebatan sengit antara Nadin dengan beberapa pengguna yang dia anggap misinterpretasi, meski pada akhirnya dia meminta maaf atas pernyataannya tersebut. Dalam hal ini, diketahui ayah dari Nadin sendiri sampai harus turun tangan dengan menelpon salah satu influencer di Twitter yang tak terima dengan pernyataan Nadin dan akhirnya berdamai.

Pertanyaan untuk Mbak Nadin

Apa yang dikatakan Nadin pantas saja mendapat respon negatif dari mayoritas warga Twitter. Bagaimana bisa pernyataan tersebut keluar dalam lingkup negara berkembang dengan berjuta problematika—terutama soal kemiskinan. Ya barang tentu hal ini akan menciptakan stigma atau bahkan mempertegas makna peyoratif yang terkurung dalam sifat “kemiskinan”. Karena segala sesuatu yang berdampingan dengan kata “miskin” (miskin akhlak, miskin ilmu, miskin empati, dan miskin lainnya) banyak menghasilkan tafsir yang buruk dan selalu ‘kekurangan’, meskipun ya tidak semua.

Perlu dipertanyakan bagaimana opini bias tersebut bisa lahir dari pikiran dan ucapan seorang Nadin Amizah. Apakah memang itu berangkat dari pengalaman mbak Nadin yang (mungkin) pernah menjalani hidup dalam lingkup kemiskinan? Apakah mbak Nadin dengan sabar dan teliti melakukan riset terhadap proyeksi orang-orang miskin di sekitarnya? Kalau memang benar begitu, tentu kita bisa mentolerir karena ihwal tersebut berdasarkan pengalaman pribadi atau studi fenomenologi. Tetapi, satu hal yang perlu digarisbawahi oleh mbak Nadin: masyarakat kita sudah kadung terjebak dalam kebiasaan mensimplifikasi secara general terhadap suatu permasalahan. Inilah yang menjadi salah satu pekerjaan rumah berat bagi para awak media, tindak preventif dengan menyelipkan termin “oknum” atau “terduga” saat menyiarkan pemberitaan terkait sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.

Baca Juga Tantangan Umum Apa yang Dihadapi Generasi Muda Saat Ini

Pernyataan mbak Nadin yang mendorong kita untuk menjadi orang kaya dahulu untuk lebih mudah berbuat baik tentu sangat kontraproduktif dengan realitas. Landasan historis dari stigma kaum borjuis yang kerap menindas rakyat kecil memang menjadi dasar utama mengapa sebagian warga Twitter tidak setuju dengan pernyataan mbak Nadin. Terakhir, beberapa pejabat dengan bergelimang harta justru merampas uang rakyat yang semakin menciptakan dampak traumatis akan sebuah ‘kemapanan’ yang tidak kolektif.

Btw, pernyataan Nadin Amizah ini rupanya senada dengan pernyataan Ahmad Yurianto, jubir penanganan Covid-19, yang memproyeksikan sapiens-sapiens ‘kere’ dengan segala framing dan stereotip amoralnya. Apa kita tidak ingat saat Ahmad Yurianto berkata: “yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya.“—What the? semacam Stockholm Syndrome terhadap kapitalisme.

Jika ditelusuri dengan pikiran positif, mungkin yang dimaksud oleh mbak Nadin adalah kondisi kemiskinan bisa menjadi salah satu pemicu hadirnya proyeksi hal-hal yang tidak baik. Tentu tak sedikit kejahatan lahir dari orang-orang kondisi miskin dan ekonomi sulit—pencurian, perampokan hinggal begal yang sadis. “Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi untuk bersedekah?” Mungkin begitu pikir mbak Nadin. Yeps, semua itu berputar bagai pusaran di dalam sistem yang kerap disebut sebagai fenomena “kemiskinan struktural”.

Well, mbak Nadin kira-kira kaget nggak ya kalau tau ada orang ‘miskin’ yang masih mampu memberi makan anak yatim tiap bulannya? Atau melihat orang dengan penghasilan yang kita anggap ‘sedikit’ tapi tetap mampu membangun rumah ibadah? Atau, ini hanya gimmick dari mbak Nadin untuk menormalisasi kebiasaan bersedekah yang mungkin, targetnya adalah para konglomerat, pejabat dan para oligarki.

Mulia sekali jika benar begitu.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.