Mendambakan Mas-mas Berseragam yang Membumi dan yang Terpenting: Gak Cringe!

Polisi Cringe

Mendambakan Mas-mas Berseragam yang Membumi dan yang Terpenting: Gak Cringe!

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

“Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini gak?” [mengokang senjata]

Thexandria.comCringe, cringe, cringe—bunyi sepeda, sepedaku roda dua, kudapat dari ayah, karna rajin membaca—rajin membaca jadi pintar, malas membaca jadi?

Warga Twitter baru-baru ini dibuat gregetan dengan merebaknya sebuah video yang memperlihatkan seorang anggota polisi muda yang “bercanda” dengan mengatakan, “Pacar kamu kaya? Ganteng? Bisa ‘gini’ (kokang senjata) gak?”, yang kemudian menuai banyak kritikan dari warga Twitter.

Pasalnya, video tersebut dinilai warganet sebagai bentuk dari sifat arogan yang dimana—tidak sepantasnya sebuah senjata dijadikan sebagai ajang “bercanda” belaka.

Terlebih lagi, redaksi kalimat yang digunakan dalam video tersebut juga terkesan mengkomparasikan sebuah profesi. Dalam kasus ini, frame yang muncul seolah-olah adalah, “mas-mas berseragam, better than others profession”, dan yang tak kalah penting juga, video tersebut cringe abis. No debate.

Sebenarnya kita bisa menemukan dua buah kemakluman menyikapi video cringe tersebut:

Yang pertama, terlepas dari disayangkannya penggunaan senjata dan betapa cringe-nya seorang anggota polisi dalam video itu? Kita mau tidak mau, suka atau tidak suka harus melihatnya dalam konteks yang utuh. Video tersebut memang hanyalah guyonan semata.

Yang kedua, kita harus memahami dulu bagaimana kultur dalam institusi Kepolisian Republik Indonesia. Anggota Polri, memang dididik untuk bangga menjadi seorang polisi. Harus bangga terhadap korps-nya. Di institusi militer, kebanggan terhadap korps bahkan bisa dibilang merupakan sebuah harga mati. Namun bila kita bertanya, lantas apakah kegeraman warganet—wabil khusus warga Twitter seratus persen salah? Tentu tidak. Bahkan menurut kami, kritikan dan kekecewaan warganet memang merupakan keniscayaan. Mengapa?

Masyarakat Cinta Polri

Bila ditelisik lebih dalam lagi, resonansi yang muncul dari video tersebut sebenarnya adalah kekecewaan dari sebuah harapan. Ya, benar. Dari sebuah H-A-R-A-P-A-N.

Premisnya, masyarakat Indonesia menaruh harapan besar kepada setiap anggota Polri agar menjadi sosok-sosok pengayom yang tak hanya melindungi, namun juga rendah hati. Membumi.

Anggota Polri, terlebih kepada generasi mudanya, diharapkan dapat menjadi contoh dalam bersikap di sosial media.

Selain itu, kekecewaan dan kritikan warga Twitter sebetulnya juga merupakan sebuah pengingat kepada semua anggota Polri terhadap Perintah Kapolri yang dituangkan secara resmi dalam Surat Telegram Rahasia (TR) Nomor ST/30/XI/HUM 3.4/2019/DIVPROPAM tanggal 15 November 2019.

Dalam telegram rahasia itu setidaknya ada tujuh poin yang diserukan kepada seluruh anggota Polri:

1. Tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun di area publik.

2. Senantiasa menjaga diri, menempatkan diri (dengan) pola hidup sederhana di lingkungan internal institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat.

3. Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis, karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

4. Menyesuaikan norma hukum, kepatuhan, kepantasan dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

5. Menggunakan atribut Polri yang sesuai dengan pembagian, untuk penyamarataan.

6. Pimpinan, kasatwil, perwira dapat memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik (dengan) tidak memperlihatkan gaya hidup yang hedonis terutama Bhayangkari dan keluarga besar Polri.

7. Dikenakan sanksi yang tegas bagi anggota Polri yang melanggar.

In case, poin nomor dua dan empat, dalam sepemahaman kami yang bodoh ini, boleh jadi relevan dalam hal bijak menggunakan sosial media. Dan, ngomongin soal mendambakan polisi yang membumi? Kami yakin jumlahnya cukup banyak, dan mereka mengerti sekali tentang menjaga nama baik institusi.

Semua Profesi Hebat

Sebagai warga negara, sudah sepantasnya kita menaruh respect dan penghargaan yang tinggi kepada semua putra-putri Indonesia yang mengabdikan hidupnya kepada negara. Apalagi TNI dan Polri, merekalah yang akan menjaga pertahanan dan keamanan bangsa.

Namun akan sangat disayangkan, jika masih ada; katakanlah oknum atau siapapun, yang “terbuai” dalam kerangka berpikir sesat tentang “superioritas profesi”.

Baca Juga: Satire: Rajin Membaca Jadi Pandai, Malas Membaca Malah Nyetrum Lutfi

Janganlah kemudian mas-mas berseragam mau “dibutakan” atau “terjebak” dalam frase “menjadi aparat berarti adalah kemapanan dan terjamin secara finansial sampai hari tua”. Please, jangan.

Karna terjaminnya kehidupan aparat memang merupakan tugas dan tanggung jawab negara. Sebuah keharusan yang tak perlu di-sitir. Juga menjadi aparat perlu dihayati sebagai sebuah pengorbanan yang paling luhur dan tinggi. Tidak ternilai bahkan dalam ukuran finansial s-e-k-a-l-i-p-u-n. Fundamental.

Bila perspektifnya sudah benar, niscaya dikotomi soal “yang berseragam” dan “yang tidak berseragam” akan terkikis dengan begitu apa adanya. Seperti sungai. Begitu mengalir.

Begitupun untuk kita semua yang profesinya—kebetulan “tidak berseragam”, jangan sampai ada rasa inferior. Keberhasilan ditentukan oleh karakter dan kerja cerdas. Dan lagipula, semua profesi itu hebat!

Apa kita bisa membayangkan apa jadinya dunia tanpa petugas kebersihan? Apa kita bisa membayangkan apa jadinya dunia tanpa seniman, kondektur, penulis, sutradara, engineer, bahkan waitress sekalipun?

Semua manusia punya porsinya masing-masing. Semua manusia memiliki keahlian dan passion masing-masing. Dan selayaknya manusia—yang pelupa, kita memang paling sering melupakan yang namanya MENGHARGAI.

***

Tulisan ini tidak bermaksud atau ditujukan kepada perseorangan ataupun Institusi. Melainkan sebuah refleksi untuk kita semua, agar sekiranya sudi berkontemplasi.

Selain itu, tulisan ini juga merupakan hak menyampaikan pendapat di muka umum yang juga merupakan salah satu hak asasi manusia yang dijamin dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan TULISAN dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.