Mencuri Dengar Percakapan Orang Lain: Perkara Baik dan Buruk, Ternyata Bisa Segetir Ini

Mencuri Dengar Percakapan Orang Lain: Perkara Baik dan Buruk, Ternyata Bisa Segetir Ini

Penulis Zein Lich | Editor Rizaldi Dolly

Sangat lucu, melihat para pelacur dibela mati-matian sedangkan pencuri dan pembunuh diperlakukan sebaliknya. Mereka menganggap pelacur selalu punya justifikasi atas apa yang ia lakukan, sedangkan mereka tidak mau peduli perihal justifikasi milik pencuri dan pembunuh.

Padahal masing-masing dari mereka selalu punya ‘alasan’ atas apa yang masing-masing dari mereka lakukan. Hanya saja yang membedakan, terdapat pada tingkat ‘kengeriannya’.

Hal itu membawa saya pada pemikiran ‘baik atau buruknya manusia’. Baik versi umum dan baik versi individu adalah salah dua ruang yang berbeda, ternyata, kita semua masih terpusat pada: “Yang kamu lakukan itu salah!” disebabkan mayoritas orang berbondong-bondong menyatakan demikian.

Tanpa pernah mau mengikuti interpretasinya sendiri. Ikut-ikutan, adalah salah satu ciri kaum eksakta yang menganggap ‘kesamaan’ adalah benar.

Di penghujung tahun 2019 ini, orang-orang ramai membuat pengharapan untuk kehidupan di tahun berikutnya, rata-rata dari kita menginginkan sebuah pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa ‘baik dan buruk’ hanya masalah perspektif saja? Sedemikian saya ambil contoh dari percakapan sepasang kekasih, tadi—yang duduk berseberangan dengan saya di suatu kedai kopi.

Si perempuan—jika menangkap dari pembicaraan si lelaki—telah mengambil makanan dan menuangkannya ke dalam mulut menggunakan tangan kirinya, si lelaki lantas berkata, “Jangan makan pakai tangan kiri!”

“Emangnya apa yang salah?” Jawab si perempuan—jawaban yang sebenarnya juga akan saya layangkan jika ada seorang yang menanyakan, “Kenapa makanmu lama banget?”

Seperti kebanyakan lelaki pada umumnya, yang selalu berusaha menjadi seseorang yang bisa diandalkan dalam banyak hal serta menjadi guru yang senantiasa memberi tahu—lelaki itu berkata lagi, “Itu nggak baik, kamu cebok pakai tangan kiri, masa makan juga pakai tangan kiri?”

Si perempuan yang tetap pada pendiriannya terus mengelak dan meyakini apa yang telah ia lakukan bukanlah sebuah tindakan yang buruk, “Aku cebok pakai tisu, dan setelahnya aku cuci tangan pakai sabun anti-bakteri dan sekali lagi, di mana letak kesalahannya?”

Si lelaki terdiam, mencari celah.

Sebenarnya saya tidak terlalu sering mencuri dengar percakapan orang lain seperti ini, bahkan kalau pun tidak sengaja terdengar, saya akan melupakannya.

Tapi kali ini berbeda, saya ingin menjadi pencuri percakapan yang bertualang ke mana-mana. Mencari percakapan liar yang paling tidak terselip secuil makna di satu atau dua kata.

Setelah mendapat celah, dan saya yakini adalah jurus pamungkas lelaki jika sedang tertekan, ia berucap “Biar kayak gimana pun alasanmu, itu tetap bukan etika makan yang baik dan sopan.”

Sangat terlihat, wajah muram dan kesal si perempuan itu, mengambil jeda sejenak lalu melancarkan pembelaan terakhirnya yang mana setelah itu terucap, mereka berdua tertendang ke dalam satu ruang yang ambigu dan penuh dengan indolensi.

“Begini ya, yang kamu yakini buruk belum tentu buruk juga bagiku, pun apa yang baik bagi masing-masing dari kita. Sebagai contoh: kamu dengan tasbihmu, aku dengan rosarioku, emangnya ada semacam ‘pembenaran’ dari kedua keyakinan itu? Iya, memang ada, dan tertulis di kitab kita masing-masing.

Tapi yang paling baik dari kedua keyakinan itu? Cuma masalah perspektif doang, kan? Toh, kalau ada pembenaran yang betul-betul benar di dunia ini: kita semua bakalan sama, berkeyakinan sama, dengan ideologi satu. Dan terakhir, kita bakal nikah tanpa penghalang.”

Nikah-tanpa-penghalang, saya rasa sudah cukup sampai di situ saja. Saya getir mendengarnya, ngeri sekali.

Sampai sepulangan saya dari sana dan lantas menulis ini, saya selalu terngiang-ngiang, apakah benar bahwa kita semua sebenarnya hidup tanpa pembenaran yang paling benar; yang paling mutlak dan tak terbantah?

Kalau memang ada pembenaran semacam itu, bisakah kita membayangkan hidup di bumi yang mana semua orang tidak ada bedanya, dan sama sekali tidak ada varian jiwa-jiwa yang melenceng dari ajaran pembenaran tersebut? Apa bedanya itu dengan pandangan Nihilsm yang menganggap bahwa “Kita hidup tanpa ada artinya”?

Baca Juga: Selamat Datang di Kesendirian: “Selamat Berjuang untuk Tidak Sendirian (lagi)”

Saya pribadi secara terang-terangan lebih suka hidup berdampingan dengan ragam perspektif, tak ada yang memaksa dan dipaksa, persetan dengan baik dan buruk bagi mayoritas, persetan dengan mengkafir-kafirkan.

Bila mana di suatu masa, ‘pembenaran yang paling benar’ itu muncul dan mencuat ke permukaan, saya sangat yakin itulah akhir dari dunia kita. Seluruh dari kita dipaksa menjadi satu, satu dan satu, yang melahirkan berbagai penolakan sadar atau pun tidak—kita justru akan terpecah dan musnah.

Sekali lagi, baik dan buruk, biarkan kedua hal itu tetap menjadi misteri yang dicari-cari kebenarannya, hingga melahirkan ragam sudut pandang yang baru, tanpa adanya keterpaksaan dari orang-orang yang dipaksa mengamininya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.