Menangkap Pelangi

Menangkap Pelangi

Menangkap Pelangi

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Dahulu kala, ada seekor beruang bernama Barry yang tinggal bersama Ibu dan seorang adik perempuannya bernama Olivia di sebuah hutan yang besar. Mereka tinggal di desa kecil bernama Desa Sukacita. Mereka menyebut Desa Sukacita karena desa ini penuh sukacita dan diberkati. Ayahnya meninggal setahun lalu karena kecelakaan. Jadi, Barry lah yang menjadi penjaga untuk Ibu dan adik kecilnya.

Barry adalah beruang yang ceria dan suka membantu orang lain, dia punya banyak teman di sekitarnya karena hatinya yang baik. Barry tahu cara membuat mainan dari kayu, jadi dia ingin membuat mainan dengan beruang lain.

“Siapa yang kayu lagi?” Kata Barry ..

“Aku!” Kata beruang kecil lainnya.

“Satu beruang, satu kayu, ya.”

Beruang-beruang kecil itu tampak bahagia bermain dengan kayu-kayu yang diberikan oleh Barry.

“Ayo main!” Teriak Barry dengan gembira.

“Yeay, ayo main!” Beruang Lainnya berteriak.

Mereka bermain bersama sampai malam tiba, ketika malam tiba mereka kembali ke rumah mereka dengan gembira, tentu saja dengan mainan di tangan mereka.

Barry pulang dengan senyum di wajahnya. Dia membawa mainan untuk Olivia, Olivia tampak senang. Tampak juga makan malam yang lezat tersedia di atas meja makan.

“Bagaimana harimu, Barry?” Ibunya bertanya kepadanya.

“Baik, Ibu. Tadi Barry bermain dengan teman-teman dan membuat mainan dari kayu. Barry senang!”

“Dan .. bagaimana harimu, Olivia?” Ibu bertanya pada Olivia.

“Hari Olivia membosankan, kak Barry nggak ngajak Olivia main.” Ketus Olivia.

“Hahaha .. kakak minta maaf, gadis kecil, besok kak Barry akan membawamu ke tempat yang bagus, percaya deh!” Kata Barry.

“Janji, ya?”

“Berjanji!” Kata Barry.

“Besok, Ibu akan pergi ke hutan bersama pamanmu untuk mengambil beberapa buah. Jaga adikmu ya, Barry.” Kata ibu.

“Baik, Bu!.”

—-

Keesokan harinya, Ibu pergi ke belakang hutan bersama paman dan beberapa beruang lainnya, mereka berencana mencari buah-buahan. Di sepanjang jalan langit yang biasanya biru kini hitam, sepertinya akan turun hujan yang deras.

“Kita harus kembali!” Kata Paman.                     

“Kenapa? Kita harus mendapatkan buah itu untuk anak-anak kita. Kita tidak akan mendapatkannya lagi setelah ini.” Kata Ibu.

Mereka terus berjalan sampai mendapatkan buahnya. Langit pun semakin gelap.

Sementara itu, Barry dan Olivia pergi ke tempat dengan pemandangan yang bagus. Mereka berlarian dan bermain di sana. Pemandangannya sangat bagus, ada danau, bukit, dan rumah pohon. Rumputnya sangat hijau, dan ada beberapa bunga lily di sana. Barry dan Olivia menikmati momen itu bersama.

Di tempat lain, Ibu, paman, dan beruang lainnya menghadapi angin yang sangat kencang. Mereka ingin kembali pulang, tetapi sudah terlambat. Mereka pun berlari dengan kencang, namun sudah sangat terlambat. Pohon besar di sisi jalan menimpa Ibu yang sedang berlari . Mereka berusaha membantu tetapi kondisinya tidak memungkinkan.

“Apa itu, Kak Barry?” Tanya Olivia cemas.

“Ada badai di sebelah sana.” Barry tampak khawatir.

Barry panik, dan menggandeng Olivia sambil berlari. Mereka berlari sangat cepat, ada perasaan buruk. Mereka berharap bahwa Ibu mereka akan baik-baik saja.

Setibanya Barry dan Olivia di tempat kejadian, mereka melihat kondisi begitu kacau. Pohon-pohon berjatuhan, beberapa beruang terlihat terluka. Mereka mencari Ibu mereka, hanya paman yang bisa mereka lihat.

“Di mana Ibu, Paman?” Tanya Olivia menangis.

“Di mana dia?” Kata Barry, dengan tampak begitu khawatir.

Paman tidak bisa berbicara lebih banyak, dia membawa Barry dan Olivia ke tempat di mana Ibu berada.

Hati Barry dan Olivia begitu hancur. Mereka melihat Ibu mereka tidak bisa bernafas lagi. Air mata mengalir di wajah mereka, Olivia berusaha mendekati ibunya, dan memeluknya erat-erat. Barry yang tertunduk tidak bisa berkata-kata selain hanya isak tangis yang terdengar. Barry mencoba menguatkan Olivia.

Setelah Barry mulai kuat, ia berkata kepada adiknya.

“Olivia, Kak Barry ingin menunjukkanmu sesuatu.” Kata Barry.

“Tapi Olivia ingin tetap di sini dengan Ibu.” Olivia masih menangis.

“Ibu akan sedih jika Olivia menangis seperti ini.” Barry tersenyum pada adik perempuannya, masih mencoba menguatkan dan menghibur adiknya.

Barry membawa Olivia ke tempat yang tenang, untuk menenangkannya.

“Olivia, kak Barry tahu ini sulit bagi kita. Ibu dan Ayah telah pergi. Hanya kita yang tersisa. Olivia dan kak Barry. Kak Barry harus menjaga Olivia seperti yang Ibu bilang disaat Ibu tidak ada. Kak Barry tidak ingin kehilangan orang yang Kak Barry sayang untuk kesekian kalinya.”

“Tapi Olivia ingin bertemu Ibu dan Ayah.” Kata Olivia.

“Iya, suatu hari nanti. Sekarang, mereka ingin melihat kita tersenyum dan sehat. Ayah dan juga Ibu ingin anak-anak mereka tidak sedih. Mereka akan sedih jika melihat kita menangis. ”

Olivia belum tenang, tetapi Barry berusaha lebih keras untuk membuatnya tenang.

“Lihat! Lihatlah Pelangi itu! Apakah Olivia ingin lari untuk mendapatkan pelangi itu?” Teriak Barry.

“Mau! Ayo kita menangkap pelangi, kak Barry! Untuk orang tua kita di surga!” Teriak Olivia sambil mengusap tangis.

“Ayo! Ayo lari!”

Mereka berlari, berlari, dan terus berlari untuk mendapatkan pelangi itu. Olivia merasa senang karena Barry berkata bahwa pelangi akan menjadi hadiah bagi orang tua mereka di surga.

TAMAT

Baca Juga: KAARA (4)

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.