Memori Tentang Melengkapi, Sebuah Imajinasi Yang Terealisasi

Memori Tentang Melengkapi , Sebuah Imajinasi Yang Terealisasi

Memori Tentang Melengkapi, Sebuah Imajinasi Yang Terealisasi

Penulis Adi Perdiana | Fotografer Zain Sinjay

Thexandria.com – Hai kau yang disana, aku ingin berbagi cerita denganmu, kalau boleh juga ingin menjalin pertemanan, karena aku senang sekali jika memiliki banyak teman untuk berbagi cerita. Sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Aku adalah sebuah lensa. Ya hanya sebuah lensa biasa dengan segudang cerita. Kali ini aku ingin bercerita tentang salah satu perjalanan besar yang telah kulalui. Tanpa panjang lebar sebaiknya cerita ini aku mulai sehingga kalian dapat menyimaknya.

Lalu inilah awal dari semua cerita itu bermula.

Menikmati.

Kota ini adalah kota kelahiranku, aku menikmati segala kesibukan yang ada di dalamnya. Dimana ada banyak orang dengan segala keperluannya melakukan kegiatan keseharian. Imajinasi telah membawaku sampai di sebuah pasar. Setiap orang di pasar memiliki tujuannya masing-masing, mulai dari pembeli yang ingin mencari bahan baku masakan untuk dapurnya, hingga penjual yang ingin dagangannya segera laris dan segera kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga.

Aku menemukan kembali jiwa pasar tradisional, yang kini mulai tersisih karena mulai menjamurnya pasar modern di kota Balikpapan. Berdeda dengan pasar modern, pasar tradisional memiliki bentuk tampilan fisik berbeda dengan pasar modern, seringkali becek sehingga disebut juga sebagai pasar basah, namun keunikannya adalah terdapat proses tawar menawar antara penjual dan pembelinya. Menjadikannya selalu terdapat ekspresi yang luar biasa.

Tak hanya manusia, pun hewan yang hampir selalu ada di setiap pasar tak kalah ekspresif dalam perjuangannya mencari makanan di pasar. Aku memanggilnya kucing pasar.

Ada yang monoton dan ada pula yang bertemu dengan orang berbeda setiap harinya karena tuntutan pekerjaan mereka. Tidak hanya di pasar, pun jalanan selalu disesaki oleh pengendara yang ingin segera sampai tujuannya, tak lepas dari mata lensaku yang tajam. Di kota ini aku menikmati ekspresi yang muncul pada wajah setiap orang.

Segera ku abadikan. Abadikan. Dan abadikan.

Aku bahagia dengan apa telah kulakukan. Terbuai oleh suatu kenikmatan maka aku merekam lebih banyak lagi ekspresi yang beragam hingga tiba-tiba aku berakhir pada sebuah titik dimana, aku.

Aku tidak lagi menemukan ekspresi yang berbeda diantara wajah setiap orang.

Selalu saja ada yang hal-hal yang menjadikan si mata lensa tua ini merasakan kekosongan yang hampa, apa itu sebenarnya aku tak tahu penyebab pastinya. Mungkin hiruk pikuk kota telah menjadikan mata lensaku sedikit membuta.

Resah.

Mata lensa tua ini senantiasa bekerja, mangabadikan momen bahagia, senda, tawa dan segala macamnya hingga ia lupa akan dirinya, lupa akan bahagia, lupa akan cintanya.

Aku hampa.

Aku kembali berkeliling mencari di seluruh sudut-sudut kota, berharap ekpsresi bahagia yang ditangkap mata lensaku mampu kembali mengisi kehampaan ini. Namun aku gagal menemukannya. Dalam pencarian aku mencoba segalanya. Namun tetap tidak menemukan jawabnya.

Aku tak kuasa meskipun telah berusaha, masih saja tak kutemukan. Hingga akhirnya aku dihadapkan pada dua persimpang yang sama-sama bisa menjatuhkanku ke jurang yang amat dalam.

Akhirnya aku terjatuh. Terjerembab di dasar jurang gelap yang begitu dalamnya. Mata lensaku lebih membuta lagi dari sebelumnya, aku buta akan arah, tak tau mau kemana, teriakan tak membantuku. Segala usahaku hanya membawaku ke arah keputusasaan.

Aku merenung. Merenungkan apa saja yang terlintas di pikiran, yang dulu tak pernah sempat untuk dilakukan. Saat ini aku merenungkan segalanya.

Aku kembali melambai meminta pertolongan, naas tak ada jawaban. Aku ketakutan. Sebagai suatu respon akan ancaman kegelapan maka aku mengalami ketakutan.

Aku menyerah.

Di ujung kepustusasaan aku berdoa, pasrah tentang apa yang akan terjadi nantinya. Dan ajaibnya seketika dengan sedikit mata lensa yang bertahan untuk tetap terbuka ini, aku melihat sebuah cahaya datang dari atas dan berjalan perlahan ke arah mataku. Hingga akhinya cahaya itu benar-benar menyentuhku. Mata lensaku masih mencoba tetap terbuka mencari-cari dimana posisi segaris cahaya itu. Berhasil kutemukan, lalu aku menarik cahaya itu erat-erat dan berusaha mengabadikannya.

Aku meraihnya.

Mata lensa ini mencoba memanjat cahaya itu, berjuang untuk keluar dari jurang keterpurukan.

Tak kusangka setelah usaha keras ini, aku berhasil selamat dan keluar dari suatu hal yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Suatu hal yang telah membuatku ketakutan dan kehilangan arah.

Bebas.

Mata lensa ini berlinang air mata, aku berlari sekencang-kencangnya lebih cepat dari yang pernah ku bisa, aku melompat lebih tinggi dari lompatan manapun yang pernah kulakukan. Aku menumpahkan kebahagiaan setelah berhasil menang atas perjuangan hidup dan mati sebelumnya.

Kini mata lensaku terbuka dengan lebarnya, aku teringat masa ketika di dalam jurang. Betapa banyaknya aku merenung, dan hasilnya aku menemukan banyak sekali jawaban tentang pertanyaanku selama ini.

Kekosongan?

Kehampaan?

Aku harus bertualang. Keputusan untuk bertualang adalah jawaban dari segala pertanyaan selama ini.

Dengan bermodalkan mata lensa tua ini, aku memberanikan diri untuk pergi menjauh dari gemerlap kota yang menyilaukan mata dengan segala riuh dan hiruk pikuknya. Walau tidak tau arah awalnya aku pergi mengikuti mata lensa ini membawa, hingga sampai pada sebuah perjalanan yang ku yakin akan membuat mata lensa ini mendapatkan momen luar biasa tak terkira.

Baca Juga: Merangkul Kawan yang Terjatuh di Titik Jenuh

Perjalanan Baru.

Awal mula perjalanan.

Sebuah oase yang diselimuti oleh perkebunan dan pepohonan yang dapat memanjakan mata penikmatnya, dimana sejauh mata memandang hamparan hijau memanjakan mata. Gunung Embun namanya. Udara yang sejuk dengan mudahnya menyegarkan dada di setiap tarikan nafasku. Namun tak terhenti disana, seakan sangat rindu dan kehausan akan perjalalan di alam, lugas mata lensa ini berkata jika ia masih ingin mengembara. Aku terus dan terus berjalan.

Menyusuri jalan petak tanah sejauh 4 kilometer. Lalu berjalan kembali sejauh 1 kilometer menyusuri hutan pepohonan serta perkebunan yang teduh. Memasuki daerah ini telah membuatku merasakan suasana yang berbeda. Dalam perjalanan aku melihat susunan bebatuan alam yang dengan kokoh membelah perbukitan seakan meniduri bumi yang ada di bawahnya. Tak heran jika orang-orang menjulukinya sebagai tembok raksasa Indonesia. Rupanya ia bernama Batu Dinding.

Aku jatuh cinta. Tempat ini akan memberikan sebuah memori yang luar biasa dan tak terlupakan.

Dengan bersemangat menikmati nyanyian alam melalui seluruh inderaku, terpancing gairah mata lensa ini untuk menangkap momen yang menyegarkan. Dikelilingi bukit dan pepohonan serta dipeluk oleh embun pagi yang jaraknya hanya sejengkal di atas kepala. Sungguh merupakan sebuah ekspresi alam yang membuatku sangat bahagia, tak kalah riangnya di banding ekspresi wajah seorang anak manusia yang berseri-seri.

Kumulai meracik segelas kopi hitam dengan sedikit gula lalu menikmatinya. Bau kopi yang nikmat seakan memeluk aroma alami dari lingkungan sekitar yang sejuk lalu merasuk kedalam dadaku.

Ahhh…

Aku menikmatinya. Sungguh sesuatu yang tiada tara yang tak akan pernah bisa kudapatkan di tengah kota.

Setelah mengosongkan gelas yang sebelumnya penuh terisi kopi hitam nan nikmat aku bergegas.

Matahari mulai turun dan bulan segera menunjukkan indahnya.

Aku punya banyak ingatan tentang api unggun dan orang-orang yang mengelilinginya, sambil makan bersama dan berbagi kisah dengan mereka. Dan juga mata lensaku telah merekam banyak ekspresi, emosi, gairah, sedih, bahagia, hinga gagasan serta pesan dalam bentuk foto yang telah diabadikan.

Namun kali ini tekanan yang cukup besar muncul, bukan dari udara dan atmosfernya tetapi dari sang langit malam yang merupakan objek indah telah meronta meminta diabadikan dengan hasil terbaik dalam setiap jepretan matak lensaku. Meskipun aku hanya sekedar lensa biasa yang seadanya namun aku selalu berusaha mendapatkan hasil yang luar biasa dengan keterampilan dan kejelian. Serta sense of art dari mata lensaku.

Kuabadikan.

Aku menutup mata lensaku setelah berhasil mengabadikan nuansa malam nan indah diselimuti milyaran bintang di langit sana. Cahaya alami yang gemerlap dalam malam berwangi mimpi, terlucut debu.

Akhir Cerita

Kita semua pasti menyukai suatu kegiatan dalam kehidupan ini. Mempelajarinya lebih dalam dan semakin dalam. Lalu sampai pada titik kehampaan. Itulah saatnya bagi kita untuk mulai keluar dan mencoba lagi dengan sudut pandang yang berbeda. Karena titik jenuh tidak untuk dipasrahkan.

Ia adalah sebuah pembelajaran untuk menata kembali kehidupan yang pernah kurang.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.