Membuat Abadi Budaya Gotong Royong Masyarakat Desa Melalui Kesadaran Pendidikan

Gotong Royong Pendidikan di Pedesaan

Membuat Abadi Budaya Gotong Royong Masyarakat Desa Melalui Kesadaran Pendidikan

Penulis Mardi Umbu Andung | Editor Rizaldi Dolly

Kesenjangan yang terjadi pada dimensi pendidikan di desa dan kota begitu kentara.

Thexandria.com – Tahun ajaran baru sebentar lagi bergulir dengan kondisi pandemi yang tak kunjung mereda. Hal ini memaksa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memutar otak untuk penyelenggaraan pendidikan selama pandemi. Salah satunya dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Salah satu langkahnya ialah belajar dari rumah dengan memanfaatkan media online dan pembelajaran dari stasiun TVRI.

Masyarakat juga dihimbau untuk mengedukasi diri terkait protokol kesehatan yang harus dipenuhi.
Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan misalnya refocuse anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dimana alokasi dananya ditujukan untuk membayar gaji guru honorer maksimal 50%, pembelian paket data internet, hingga alat penunjang pencegahan Covid-19 seperti masker, sabun cuci tangan dan handsanitizer.
Hambatan dalam pelaksanaan beberapa program tersebut beberapanya adalah belum meratanya aliran listrik di berbagai daerah dan memiliki jaringan data yang memadai.

Dikutip dari Detik, Presiden Jokowi Widodo menyatakan terdapat 433 desa yang belum dialiri listrik di 4 provinsi diantaranya Papua 325 desa, Papua barat 102 desa, Nusa Tenggara Timur 5 desa, dan Maluku 1 desa. Hal ini begitu memprihatinkan mengingat Indonesia sudah begitu lama berkutat dengan permasalahan pemerataan kualitas pendidikan.

Di samping itu, masyarakat kita pun memiliki karakteristik yang unik, khususnya masyarakat di kawasaan pedesaan. Karakteristik masyarakat desa secara umum masih mempertahankan nilai kebudayaan dan tingkah laku, hingga masih eratnya hubungan kekeluargaan satu sama lain. Wajar saja jika banyak yang mengatakan tradisi desa sangat kental dengan budaya saling menolong dan solidaritas.

Faktor yang mempengaruhi adanya nilai-nilai tersebut di antaranya memiliki mata pencaharian yang sama, wilayah yang sama, dan kesamaan aliran kepercayaan. Adanya virus Corona menjadi hambatan bagi masyarakat pedesaan yang terbiasa saling gotong royong. Wabah ini juga sangat berdampak bagi berbagai aktivitas pendidikan di pedesaan yang sebagian besar tak dialiri listrik dan kualitas jaringan yang buruk. Penerimaan informasi yang terbatas dan akses ke dalam desa yang cukup sulit, tentunya akan sangat menyulitkan guru dalam menjalankan tugasnya.

Proses pembelajaran melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang dicanangkan pemerintah juga akan menemui sebuah titik konflik—tak semua warga desa memiliki televisi, bisa makan hari ini saja sudah syukur.

Lalu bagaimana bisa aktivitas pendidikan bagi anak-anak di kawasan pedesaan bisa berjalan efektif? Melalui tulisan sederhana ini, penulis mencoba ‘meramu’ sebuah strategi dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dengan keterbatasan-keterbatasan di kawasan pedesaan juga keterlibatan masyarakat di dalamnya.

Mengarahkan Budaya Gotong Royong ke Sektor Pendidikan

Kesenjangan Pendidikan
Gambar hanya ilustrasi

Kesenjangan yang terjadi pada dimensi pendidikan di desa dan kota begitu kentara. Jumlah pengajar yang terbatas dan keterbatasan informasi menjadi polemik yang stagnan bagi masyarakat pedesaan. Namun yang pasti, hadirnya wabah pandemi ini juga ‘memaksa’ siswa-siswi kawasan pedesaan harus belajar dari rumah juga.

Sekolah sebagai wadah pembelajaran dirasa perlu melibatkan masyarakat untuk melancarkan proses pembelajaran jarak jauh. Sekolah memberikan pemahaman kepada orang tua untuk bersama-sama memantau dan mendukung pembelajaran. Tentunya akan ada hambatan dalam proses pelibatan masyarakat; kesadaran masyarakat pedesaan yang rendah akan pentingnya pendidikan, kondisi di lapangan yang tak mendukung, hingga letak geografis yang tak strategis.

Baca Juga Mengakali Perkuliahan Daring yang Garing dengan Model Pembelajaran Jurnalisme

Selain pihak sekolah, kerjasama yang sinergis antara orang tua dan pihak pemerintah desa juga sangat perlu. Peran orang tua dalam pengawasan proses pembelajaran dan peran pemerintah desa dengan SDM-nya harus siap siaga memenuhi kebutuhan yang rasional selama proses pembelajaran.

Tugas pemerintah desa berikutnya adalah melakukan survey perihal data kepemilikan fasilitas-fasilitas yang dirasa bisa menunjang proses pembelajaran, seperti televisi, generator energi listrik, dan alat lainnya.

Selanjutnya segenap perangkat desa mendistribusi tugas sekolah yang telah dikoordinasikan bersama guru kepada siswa yang sulit menjangkau informasi. Jarak rumah di kawasan pedesaan yang tak menentu (ada yang jaraknya berdekatan, ada yang jarak antar rumah cukup jauh) membuat perlu adanya pendekatan dengan sosialisasi, dari rumah ke rumah. Dari sosialisasi yang dilakukan diharapkan lahirnya kesadaran akan pentingnya proses pembelajaran, yang kemudian akan banyak melibatkan masyarakat.

Iya, karena pada dasarnya pendidikan anak bangsa adalah tanggung jawab kita bersama dimanapun posisinya baik di perkotaan maupun pedesaan.

Tahap berikutnya, pemerintah desa bersama sekolah berkomunikasi dengan masyarakat untuk membantu proses pembelajaran. Pemerintah desa dan sekolah menghimbau kepada orang tua untuk tetap mengawasi seluruh kegiatan belajar anak. Di sisi lain, ini juga akan menjadi waktu yang tepat bagi perangkat desa untuk mengedukasi masyarakat perihal protokol kesehatan Covid-19.
Sambil menyelam minum es kelapa air.

Strategi di atas tak akan berjalan optimal tanpa kerja sama semua pihak. Berbagai kegiatan di atas sekaligus menjadi ajang pelestarian budaya gotong royong yang sudah diwariskan sejak dahulu. Melalui keterlibatan seluruh pihak yang dibarengi semangat gotong royong tentu akan memperlancar proses pembelajaran siswa. Yang pasti, di balik kesulitan pasti ada kemudahan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.