Memberikan Lima Jempol untuk Program Pembelajaran Via Radio Komunitas

Memberikan Lima Jempol untuk Program Pembelajaran Via Radio Komunitas

Memberikan Lima Jempol untuk Program Pembelajaran Via Radio Komunitas

Penulis Hans Satriyo | Editor Rizaldi Dolly

Melalui metode ini, para guru juga berkesempatan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Thexandria.com“Bagaimana kabar anak-anakku tersayang siswa siswi kelas enam di SDN 01 Tegalontar? Mudah-mudahan kalian tetap sehat dan semangat ya. Kalian pasti sudah menunggu kehadiran bu guru yang siap menemani kalian belajar. Hari ini ibu guru akan menyampaikan pelajaran kesukaanmu.”

Begitu celoteh Sri Windarni saat membuka kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran matematika sepeerti yang dikutip dari BBC Indonesia. Guru kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 01 Tegalontar, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah ini berusaha untuk memberikan suasana yang menyenangkan bagi siswa-siswa yang mendengarkannya melalui program Kelas Mengajar di Radio Komunitas.

Situasi pembelajaran tanpa adanya tatap muka ini mengharuskan ibu Sri mengatur intonasi dan irama suaranya saat pembelajaran agar mudah dimengerti oleh siswa. Beliau menyapa dan mengabsen satu persatu nama siswa di kelas 6 yang diampunya. Demi mendidik anak-anak muridnya, Sri dan beberapa guru lain harus mau tidak mau menjadi seorang penyiar radio dengan konten edukasi.

Guru lainnya merasakan ada perbedaan yang harus mereka kondisikan agar kegiatan pembelajaran bisa optimal. Ibu Ucik Kursih contohnya, dia mengaku sangat grogi karena tak pernah pernah menjadi seorang penyiar atau bahkan sekadar berhadapan dengan mikrofon dan alat perekam suara. Awalnya ia sangat merasa grogi karena harus melakukan improvisasi selain mengikuti naskah yang telah disiapkan—suasana yang menyenangkan harus tetap tercipta agar siswa betah mengikuti pembelajaran.

“Tetapi setelah beberapa kali mencoba, pakai naskah yang disiapkan sama pengelola radio, ternyata malah ketagihan,” ungkapnya.

Semua kegiatan ini dinaungi oleh program yang bernama Kelas Mengajar Radio Komunitas (Kejar Rakom). Program ini tayang setiap pukul 10.00 WIB dan siaran ulangnya diputar pada pukul 16.00 WIB. Secara teknis setiap guru memiliki waktu selama setengah jam untuk menyampaikan materi, dengan gaya bicara layaknya penyiar radio.

Adanya inisiatif mengadakan program ini dilatar belakangi oleh belum meratanya kemudahan akses internet masyarakat selama pandemi. Kuota data yang mahal dan jaringan yang buruk membuat pembelajaran jarak jauh susah untuk mencapai kata optimal. Persoalan tersebut nyata dihadapi oleh sebagian besar murid SDN 01 Tegalontar. Menurut sang Kepala Sekolah, setengah jumlah muridnya yang mencapai 145 siswa tidak dapat menjangkau pembelajaran daring karena keterbatasan yang telah disebutkan.

Baca Juga: Membuat Abadi Budaya Gotong Royong Masyarakat Desa Melalui Kesadaran Pendidikan

Karena masih dalam proses pertama kali, program ini bisa dibilang sebagai uji coba prototype. Siaran yang dilakukan, semenatara khusus untuk murid-murid kelas 5 dan kelas 6. Pertimbangannya adalah karena urgensi dan prioritas siswa kelas 5 dan 6 untuk menghadapi jenjang yang lebih tinggi pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk menjaga esensi pembelajaran, materi yang digunakan saat siaran adaptif dengan kurikulum 2013 dengan pendekatan tematik-integratif.

Melalui metode ini, para guru juga berkesempatan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Amunisi utama mengajar yang kini berganti perekam suara, mikrofon dan naskah membuat para guru mengetahui dunia baru yang belum mereka ketahui sebelumnya.

“Sama sekali buta tentang radio, bagaimana menjadi seorang penyiar. Apalagi dengan alat-alat itu. Awalnya kurang fokus, mikrofon kurang mendekat atau posisi ke di bawah mulut jadi hasilnya suara kurang jelas,” tutur Sri Windarni kepada Noni Arnee, wartawan di Pekalongan yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Source: BBC Indonesia / Gambar hanya ilustrasi

Sementara para siswa saat ditemui di rumah mereka, begitu seksama mengikuti pembelajaran. Ada beberapa siswa yang berkumpul duduk melingkar di sebuah pendopo dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Di tengah mereka ada sebuah radio menemani mereka belajar disertai alat tulis yang mereka bawa masing-masing—meskipun kendalanya adalah gelombang radio yang tidak stabil sehinga suara terkadang jelas dan terkadang menghilang.

Dari orangtua, banyak yang merasa terbantu dengan hadirnya pembelajaran via siaran radio ini. Pembelajaran daring yang biasanya kerap monoton membuat siswa jenuh dan menjadikan pembelajaran via grup Whatsapp tidak efektif.

“Dikasih tugas terus dikumpulkan ternyata anak bosan, jenuh, ingin ke sekolah, ketemu guru. Pakai WA kadang kendala beli kuota. Ya senang ketimbang dulu pakai WA dikasih tugas halaman sekian dikerjain sekian-sekian. Si anak lebih mendengarkan gurunya. Ya mending enakan sekarang, berarti si anak bisa dengeri suara gurunya, dikasih materi, ada penjelasan. Kadang dikasih yel-yel sama bu guru untuk menambah semangat,” ungkap Kusnaeni, salah satu orangtua siswa.

Program pembelajaran yang mampu memangkas keterbatasan akses ini membuat anggota Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) wilayah lain terkesima. Rencanya program ini akan coba diadaptasi dan diujicoba di Lampung, Jawa Barat, Sulawesi dan Wamena.

Salute, lima jempol untuk semua pihak yang terlibat!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.