Membaca Urgensi Perubahan Doktrin Militer Indonesia yang Selaras dengan Visi; Indonesia Poros Maritim Dunia

Indonesia Poros Maritim Dunia

Membaca Urgensi Perubahan Doktrin Militer Indonesia yang Selaras dengan Visi; Indonesia Poros Maritim Dunia

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Setiap negara memiliki arah dan tujuan (doktrin) di bidang pertahanan. Doktrin Pertahanan yang dimaksud disini, meliputi banyak aspek, seperti doktrin militer, anggaran dan sdm, serta bidang industrial dalam negeri guna memenuhi kebutuhan pertahanan secara mandiri.

Mengacu pada kontestasi geopolitik dunia. Cukup banyak negara-negara yang merubah doktrin pertahanannya, yang berimplikasi langsung terhadap aspek-aspek yang kami sebutkan diatas.

Yang paling kentara mungkin adalah Jepang. Setelah menyerah tanpa syarat dengan Amerika Serikat pada saat perang dunia ke dua. Jepang terikat perjanjian yang dimana mereka tak boleh lagi mengembangkan kekuatan militernya secara bebas, yang dimana konsekuensinya adalah, pertahanan dalam negerinya dilindungi secara langsung oleh militer Amerika Serikat. Bahkan bisa dikatakan, Jepang tak lagi berdaulat penuh atas militernya.

Kemudian yang baru-baru ini, dalam dekade terakhir, kita dapat melihat bagaimana dua negara besar di benua Asia, juga turut merubah doktrin pertahanannya. Dua negara tersebut adalah China dan India.

China dengan perubahan doktrin pertahanannya, mungkin adalah yang paling terasa bagi geopolitik dunia. Setelah sukses menggembleng perekonomiannya, China terus mengembangkan postur militernya. Dengan memiliki sebuah kapal induk, bahkan menuju dua buah kapal induk.

Doktrin pertahanan China otomatis berubah, yang dulunya sangat tertutup, kini mulai memainkan peran dan pengaruhnya ke arah selatan, atau provokasi laut China Selatan. China telah berupaya mengembangkan angkatan lautnya menuju blue water navy.

India, sebuah negara yang terus dibayangi potensi konfrontasi dengan tetangganya, Pakistan, menjelma menjadi sebuah kekuatan dominan di kawasan, setelah merubah doktrin militernya, India menyebutnya dengan istilah “look east”, yang mengacu pada keberpalingan dari barat ke Rusia.

Bahkan kini, India telah memiliki dua buah kapal induk, sedikit lagi menuju blue water navy.

Bagaimana Dengan Doktrin Pertahanan Indonesia?

Pertama-tama, kami ingin memberi pengertian, bahwa roadmap pertahanan adalah misi jangka panjang, semisal, bagaimana kondisi dan kekuatan militer Indonesia pada 2045?

Kenapa di judul kami memberikan kata-kata ‘kontradiktif’? Jawabannya ada pada visi pemerintahan Indonesia sendiri.

Indonesia berencana atau bercita-cita menjadi poros maritim dunia, once again, dunia! Bukan main-main, keinginan Indonesia untuk menjadi poros maritim skala global adalah visi Presiden Jokowi sejak 2014.

Berbicara mengenai pusat maritim dunia, sebenarnya adalah manifestasi dari geografis, geopolitik, dan geostrategis Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, diapit oleh dua benua dan dua samudra, maka adalah kemutlakan Indonesia mengklaim atau berkeinginan untuk menjadi poros maritim dunia.

Lalu apa yang jelas-jelas harus dilakukan Indonesia guna menyongsong cita-citanya tersebut? Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah angkatan lautnya serta dukungan angkatan udara.

Untuk menjadi pusat kelautan dunia, Indonesia haruslah memiliki angkatan laut yang kuat–sangat kuat. Karena elemen terpenting dalam geopolitik, bukan hanya diukur dari GDP, potensi sdm dan sda, ataupun daya tawar diplomasi Indonesia, melainkan unsur kekuatan militer sebagai show of force dalam lingkup geopolitik tadi.

Kita harus cukup fair mengucapkan terimakasih kepada Susilo Bambang Yudhoyono, karena berkat SBY, sewaktu ia menjabat, SBY telah mengeluarkan kebijakan di aspek pertahanan yang sangat tepat, yaitu, MEF, atau Minimum Esential Force.

MEF terus berlangsung dalam realisasinya menuju kekuatan minimum sebuah angkatan bersenjata. Dan jangan salah, meskipun dikatakan sebuah kekuatan minimum, tapi melihat bagaimana luas wilayah dan besarnya penduduk Indonesia, MEF sempat membuat negara-negara tetangga seperti Australia, Singapura, dan Malaysia protes dengan dalih Indonesia akan menimbulkan perlombaan senjata di kawasan Asia Tenggara-pasifik.

Kita dapat melihat hasilnya sekarang, meskipun belum tuntas secara keseluruhan, namun peringkat dalam global power, Indonesia menjadi yang terkuat di Asia Tenggara. Maksud kami begini, MEF adalah landasan untuk pengembangan arah kebijakan pertahanan kita yang selain kala itu mendesak, juga visioner.

Back to the topic. Ada alasan sederhana mengapa kami bisa mengatakan bahwa doktrin militer Indonesia kontradiktif atau bertabrakan dengan visi Indonesia sendiri. Untuk menjadi sebuah negara poros maritim dunia, keberadaan angkatan lautnya yang menjadi varian utama, dan oleh karena itu, TNI berada pada kondisi yang cukup dilematis sebetulnya, karena tidak mungkin Indonesia menjadi poros maritim dunia tanpa menjadikan TNI Angkatan Laut menjadi blue water navy.

Kenapa kami katakan dilematis? Karena apabila militer Indonesia berusaha menuju blue water navy, maka, doktrin militer Indonesia harus dirubah, yang tadinya defensif, mau tidak mau akan ofensif, atau paling tidak, defensif aktif.

Angkatan laut yang sudah berkategori blue water navy, adalah kekuatan angkatan laut yang tidah hanya mampu menjaga wilayah lautnya, namun juga mampu menggelar armada tempurnya ke seluruh penjuru dunia untuk national interestnya.

Let’s see USA, saya teringat dulu, saat dosen mata kuliah ekonomi saya mengatakan, bahwa Amerika, jika mengalami suatu masalah atau menghadapi perundingan diplomatik yang buntu, presiden AS tinggal memerintahkan kapal induknya.

Karena kehadiran armada kapal induk AS, adalah representasi kehadiran pemerintah AS sendiri.

Dan negara yang berkategori blue water navy, adalah negara yang dianggap agresor.

Beranikah Indonesia, yang Angkatan Lautnya berkategori green water navy, atau Angkatan Laut yang mampu menjaga wilayah lautnya sendiri, menuju blue water navy?

Sekali lagi, jika mengacu pada geografis dan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, maka pengembangan besar-besaran menuju blue water navy adalah logika pertahanan yang make sense.

Di akhir tulisan ini, kami ingin memberitahukan bahwa pembelian alutsista dan industri dalam negeri kita, boleh dikatakan telah mengalami kemajuan yang signifikan dan selaras dengan program MEF.

Yang paling bikin gregetan mungkin adalah pembelian pesawat tempur, Indonesia yang semenjak 3 tahun lalu berencana membeli 11 unit jet tempur Sukhoi Su-35 senilai US$1,14 miliar atau setara Rp15,57 triliun, nampaknya mulai menuju titik terang, meskipun masih dibayang-bayangi oleh CASA, tekanan embargo militer dari AS.

Baca Juga: Hiruk Pikuk Dunia, Keping Kedua; Amerika Serikat

Langkah alternatif sudah dilakukan, rencana pembelian pesawat tempur Rafale dari Prancis juga berhembus kuat. Kami berkeyakinan, realisasi pengadaan Sukhoi Su-35 adalah langkah yang lebih baik.

Di laut, kedatangan kapal selam KRI Alugoro di galangan PT PAL Surabaya yang akan digunakan TNI AL, sekali lagi adalah pembuktian industri dalam negeri. Karena dirakit oleh anak bangsa melalui kerjasama ToT (Transfer of Technology) dari galangan perusahaan pertahanan asal Korsel, dan Indonesia, adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang sejauh ini mampu melakukannya.

Di sektor darat, Indonesia membuktikan mampu menjadi produsen, tidak hanya konsumen. Pembelian yang dilakukan Angkatan Darat Philipina atas tank kelas menengah, tank “harimau”, produksi kerjasama PT Pindad dan perusahaan Turki, membuat para pemerhati militer takjub. Sebelum tank “harimau”, kendaraan tempur Anoa telah lebih dulu dipakai oleh tidak hanya TNI AD, namun juga Angkatan Darat Malaysia, Philipina dan beberapa negara Afrika.

Semoga kita sama-sama mengerti betapa pentingnya sektor pertahanan Indonesia. Sektor pertahanan tidak boleh hanya disorot ketika terjadinya perang, namun saat masa damailah, kita harus mengawal dan mengkritik aspek pertahanan kita bila perlu.

Bila ingin damai, maka bersiaplah untuk berperang. Si Vis Pacem, Para Bellum!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.