Memaknai Kebersamaan dalam Filter “Truth or Dare”

Memaknai Kebersamaan dalam Filter Truth or Dare

Memaknai Kebersamaan dalam Filter “Truth or Dare”

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“Ceritain hal nakal yang perrnah kamu lakuin?”

Sebuah pertanyaan yang disodorkan teman saya sembari merekam wajah berminyak ini saat menunggu datangnya es teh dan nasi padang pada jam makan siang. Nggak ada angin, nggak ada hujan, saya yang lagi fokus ngecek grup WA kantor cukup kikuk diberi pertanyaan seperti itu.

Saya sendiri sebenarnya perlu meruntut kembali kenakalan saya dari SD sampai menjadi orang dewasa saat ini. Karena durasi rekam pada platform yang terbatas saya dituntut untuk menjawabnya begitu cepat.

Ya benar, 15 detik untuk mencari ratusan arsip “kenakalan” selama 23 tahun hidup, saya rasa nggak bakalan cukup. Otak saya seolah dialihfungsikan menjadi mesin telusur online pada saat itu.

Itu semua karena sebuah filter Instagram bernama “Truth or Dare”, yang beberapa bulan terakhir sering terlihat di instastory semua kalangan. Mulai selebriti papan atas sampai tetangga yang setiap pagi berjualan nasi pecel, semua menggunakan filter tersebut.

Sebuah digitalisasi dari kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan tanpa gawai, dalam bersosialisasi di dunia nyata sebenarnya kita tinggal menanyakan saja kepada orangnya langsung.

*****

“Senakal apa kamu pas zaman sekolah?”

Pertanyaan tersebut juga sering menghampiri jauh sebelum filter Truth or Dare hadir saat saya duduk di bangku pergururan tinggi. Kemudian pertanyaan semacam itu terbungkus seru ketika mengenali permainan Truth or Dare versi dunia nyata.

Permainan tersebut secara teknis dimainkan oleh dua orang atau lebih, yang kemudian dilakukan pemutaran random untuk mencari pemain yang akan “dihakimi”, biasanya pemutaran dilakukan dengan memutar botol atau cara lainnya.

Setelah botol diputar, pemain yang tertunjuk botol akan menjadi terdakwa dan kemudian diharuskan memilih dua pilihan hukuman, yaitu Truth atau Dare. Saat pilihan jatuh kepada truth beberapa teman memasang ekspresi kegirangan bukan kepalang dan akan menanyakan pertanyaan yang menjurus ke aib yang dalam hal tersebut sebenarnya hanya untuk guyon semata.

Pilihan dare sendiri sebenarnya juga nggak kalah seru, karena kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya juga bakal membuat pemain yang kalah akan menjadi bahan tertawaan, tentunya tantangan dare ini masih di batas wajar dan nggak sampe membahayakan, kok.

Dari permainan Truth or Dare versi dunia nyata ini, banyak banget manfaat yang baik untuk hubungan pertemanan. Karena dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan menyentuh pengalaman pribadi yang kemudian membuat beberapa orang “bablas” mencurahkan segala yang telah dilalui dan secara mendadak menmbentuk acara konseling dengan saling berbagi cerita.

Meskipun nggak bisa dipungkiri ada beberapa hal yang nggak berhasil dikorek karena memang hal itu sangat privasi.

Biasanya teman-teman sangat menghargai untuk urusan privasi keluarga, untuk beberapa lainnya dengan terbahak-bahak ketika membahas tentang percintaan dengan mantan.

Pertanyaan semacam “Kenapa dulu putus sama Sri?”, atau “Dulu pacaran sama Sri tiga tahun udah ngapain aja?” emang nggilani, sih.

Tapi sekali lagi, meskipun beberapa pertanyaan ngehek seperti di atas nggak dijawab, dari situlah ajang untuk membuat teman-teman tertawa dan saling mengetahui pengalaman lampau masing-masing.

Makin kesini, permainan tersebut sudah jarang banget dimainkan kecuali kalau lagi liburan bareng ke gunung atau pantai karena emang nggak setiap hari liburan bareng.

*****

Namun untuk zaman yang sudah sangat canggih ini, beberapa masalah dapat diatasi dengan mudah dengan hadirnya teknologi.

Bernostalgia dengan masa kecil dan sekolah pun sangat mudah, beberapa media audio maupun visual cukup membangkitkan memori masa lalu yang sulit banget buat diulang.

Ketika kangen masa SMP, buka saja Youtubedengan memutar beberapa lagu yang bikin baper pada masa itu, atau membuka Facebook untuk sekedar melihat potret masa lalu yang masih kurus dan beberapa teman yang wajahnya masih berjerawat dan berminyak pada masa itu.

Kangen dengan game yang sering dimainkan saat masa kecil pun sangat mudah untuk mengatasinya, ketersediaan permainan pada Playstation maupun Nintendo dapat dijembatani oleh hadirnya emulator. Ya, sekali lagi berterimakasihlah kepada teknologi.

Walaupun untuk permainan Truth or Dare baru sekitar 1-2 tahunan sudah nggak bermain dengan para sahabat, tapi kok tetap kangen, ya.

Ditambah dengan kesibukan masing-masing yang semakin membuat intensitas ngumpul bareng menurun, untuk sekadar bercerita basa-basi pun susah banget, cuy. Yaudahlah nggakpapa, emang udah fasenya untuk menjadi orang dewasa.

Baca Juga: Analog Ketjil, Potret dan Cerita

Sosial media pun menjadi solusi tepat untuk senggaknya mengetahui kabar dari para sahabat dan berbasa-basi, sampai untuk membaca beberapa artikel dari Mojok untuk menghibur diri yang suntuk.

Dilihat dari traffic, Instagram dan Twitter menjadi sosial media yang cukup ramai warganya. Bahkan beberapa bulan terakhir ini, Instagram menghadirkan fitur bernama Filter yang kemudian seiring perkembangannya banyak menghadirkan banyak varian.

Satu filter yang membuat saya mengingat para sahabat lama adalah filter yang memuat permainan Truth or Dare. Walaupun bungkusnya berbeda, namun esensinya tetaplah sama, antara melakukan atau diberi pertanyaan.

Dalam filter tersebut memang nggak memilih secara acak pemain yang akan dihakimi, dengan teknis baru yaitu siapa yang disorot kamera akan menjadi pemain yang dihukum.

Tapi di sini, esensi permainan Truth or Dare melalui filter Instgram lebih kepada have fun saja, atau mungkin beberapa ingin pencitraan, entah apa yang ingin dicitrakan.

Nggak seperti bermain di dunia nyata, yang dengan bebas kita menanyakan apapun dan meminta melakukan apa saja kepada teman yang dihakimi.

Kemudian setelah itu akan banyak cerita baru yang didapatkan dari Truth or Dare dunia nyata.

Tapi cobalah untuk terus berusaha berfikir positif terhadap sesuatu, senggaknya dari filter Truth or Dare itu obrolan di jam makan siang atau ngopi malam hari nggak memiliki jeda tanpa obrolan yang membuat hening dengan gawai masing-masing.

Mungkin kita nggak tau saja, mungkin ada cerita yang nggak terungkap bisa keluar saat bermain dengan filter tersebut.

Bahkan beberapa pertanyaan dan perintah dari filter tersebut akan melahirkan jawaban yang lucu dan kemudian memecahkan suasana dengan gelak-tawa.

Se-nggaknya itu yang banyak terlihat di linimasa.

Sumber Foto: Dyas BP

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.