Memaklumi Pertamina yang Merugi 11 Triliun Rupiah

Pertamina Merugi 11 Triliun

Memaklumi Pertamina yang Merugi 11 Triliun Rupiah

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Apakah kita telah sampai di titik memaklumi bahwasanya memang harus mengakui kerugian BUMN adalah hal yang biasa.

Thexandria.com – PT Pertamina (Persero) mencatatkan rugi bersih sebesar 767,92 juta Dollar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp 11,13 triliun (kurs Rp 14.500/Dollar AS) pada semester I 2020.

Tercatat dalam situs resmi perusahaan disebutkan bahwa Pertamina merugi 11 Triliun pada semester I 2020, padahal bila ditarik dalam rentang satu tahun sebelumnya, di periode yang sama di tahun 2019 berbanding terbalik. Catatan keuangan Pertamina masih membukukan laba sebesar US$ 659,96 juta atau setara Rp 9,56 triliun. Tentu catatan kerugian ini menjadi suatu hal yang penting.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di laman resmi perusahaan, Penurunan drastis laba Pertamina ini tak lepas dari kinerja penjualan perusahaan pada semester I-2020 yang anjlok 19,84% menjadi US$ 20,48 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat US$ 25,55 miliar.

Berusaha menjawab banyak pertanyaan terkait kerugian tersebut, VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan bahwa sepanjang semester I 2020 pihaknya menghadapi triple shock, yakni Pertama penurunan harga minyak mentah dunia, kedua penurunan konsumsi BBM di dalam negeri, kemudian pergerakan nilai tukar dollar sehingga terjadi selisih kurs yang cukup signifikan.

Melansir dari kompas.com, “Pandemi Covid-19, dampaknya sangat signifikan bagi Pertamina. Dengan penurunan demand, depresiasi rupiah, dan juga crude price yang berfluktuasi yang sangat tajam membuat kinerja keuangan kita sangat terdampak,” tuturnya, dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2020).

Baca Juga Pertamina Tak Lagi Masuk Fortune 500

Menurut Fajriyah, penurunan permintaan terlihat pada konsumsi BBM secara nasional yang sampai Juni 2020 hanya sekitar 117.000 kilo liter (KL) per hari atau turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat 135.000 KL per hari.

Bahkan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar terjadi penurunan demand mencapai 50-60 persen.

Hasil penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak Pertamina turun dari 20,94 miliar Dollar AS menjdi 16,56 miliar Dollar AS pada periode ini.

Selain itu, beban produksi hulu dan lifting juga naik dari 2,38 miliar Dollar AS pada periode Januari-Juni 2019 menjadi 2,43 miliar dollar AS pada Januari-Juni 2020. Selanjutnya, beban dari aktivitas operasi lainnya yang melonjak dari 803,7 juta dollar AS menjadi 960,98 juta dollar AS pada semester I 2020.

BUMN yang Merugi Semester I 2020

BUMN yang Merugi 2020
Gambar hanya ilustrasi

Kami merangkum beberapa daftar BUMN yang juga mengalami kerugian pada Semester I 2020 diantaranya;

PT Angkasa Pura I (Persero) mencatat laporan keuangan negatif sepanjang semester I 2020 Angkasa Pura I rugi Rp 1,16 triliun. Sementara pada semester I 2019, BUMN pengelola 15 bandara tersebut mencatatkan laba bersih Rp 719,27 miliar.

Kemudian Angkasa Pura II sebagai BUMN pengelola 19 bandara ini rugi Rp 838,26 miliar sepanjang semester I 2020. Angka ini melonjak tajam dari periode yang sama di 2019, yang ketika itu masih mencetak laba bersih Rp 363,17 miliar.

Maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengalami kerugian pada semester I 2020 sebesar USD 712,73 juta atau setara Rp 10,40 triliun (kurs USD 1 = Rp 14.600). Sementara pada semester yang sama di 2019, Garuda Indonesia tercatat masih untung USD 24,11 juta.

Kemudian yang tengah ramai mendapati sorotan yakni PT Pertamina (Persero) yang mencatatkan kerugian senilai USD 767,92 juta pada tahun berjalan semester I 2020 yang setara dengan Rp 11,13 triliun (kurs Rp 14.500)

Daftar BUMN yang merugi tersebut membuat kita mempertanyakan kembali proses penyehatan BUMN yang selalu menjadi kajian yang seolah-olah berulang. Padahal perusahaan dengan status tersebut memiliki privilage yang tidak dimiliki perusahaan swasta.

Apakah kita telah sampai di titik memaklumi bahwasanya memang harus mengakui kerugian BUMN adalah hal yang biasa belaka. Dan memaklumi karena memang banyak BUMN yang merugi, bahkan berkali-kali.

Namun, yang menjadi perbedaan jika BUMN yang merugi tersebut adalah BUMN yang dipimpin oleh sosok yang punya banyak haters. Segala cecar dikeluarkan, sorotan di media sosial menjadi semakin besar. Hal itulah yang kini sedang terjadi pada Pertamina.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ramai menjadi sorotan, banyak yang mempertanyakan kinerja Pak Ahok.

Pasalnya memang beberapa waktu yang lalu saat diwawancarai, Pak Ahok pernah berkata bahwa Pertamina ini asalkan diawasi dengan benar, pasti untung.

“Kalau enggak diawasi dengan baik, direksi Pertamina enggak punya KPI. Padahal KPI sifatnya administrasi semua. Jadi merem juga untung,” kata Ahok kala itu. Lah akhirnya kejadian kan Pertamina merugi juga.

Mungkin memang Pak dirut sedang kena Apes lagi?

Dilain hal, kita juga tak boleh gegabah menuding kerugian yang dialami pertamina adalah kesalahan manajemen internal, tanpa mempelajari faktor eksternalnya, ya, guys!

Thumbnail : pertaminaborneo

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.