Memahami Keputusan Teman untuk Balikan dengan Mantan yang Sebelumnya Dikatain Brengsek

Teman Balikan dengan Mantan

Memahami Keputusan Teman untuk Balikan dengan Mantan yang Sebelumnya Dikatain Brengsek

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

“kirain musim dingin, ternyata lagi musim balikan ke mantan yang dulu dikatain brengsek.”

Thexandria.com – Beberapa hari lalu, saya begitu sibuk menjadi ‘konsultan cinta’ untuk beberapa teman yang sedang mengalami masalah dalam hubungan percintaannya. Dilihat dari ‘atribut’ yang sekadar pernah memiliki hubungan bertahun-tahun namun kandas juga, sebenarnya bisa dikatakan saya bukanlah pakar yang tepat soal cinta. Secara pribadi, sejak lama diri ini juga sudah ‘membulatkan’ bahwa cinta sebenarnya sebuah entitas yang begitu universal.

Kategorisasi oleh peradaban Yunani kuno selalu menjadi rujukan saya soal definisi cinta: eros (cinta berdasarkan hawa nafsu), philia (cinta berdasarkan kepribadian), dan agape (cinta berlandaskan kebijaksanaan atau nothing to lose). Sehingga, apabila secara spontan saat di kafe, di seminar atau bahkan di trotoar seseorang bertanya: “Cinta itu apa, sih?”, jelas saya akan balik bertanya: Apa anda sejauh ini belum pernah mencintai sesuatu?

Untungnya teman yang curhat kepada saya tidak mempertanyakan hal tersebut. Meskipun hanya memberikan solusi yang normatif, saya berusaha memposisikan diri sebagai ‘the good listener’ untuk kisah mereka. Saya pun meminta izin kepada salah satu teman dengan cerita yang sudah sering saya temui langsung yang biasa disebut CLBK (Cerita Lama Bersatu Kembali), yang kemudian dia sendiri fine-fine saja untuk diartikel-kan secara implisit.

Baca Juga Ospek Virtual Unesa: Memberikan Hiburan Baru Lewat ‘Marah-Marah Online’ Soal Ikat Pinggang

Prolognya: dia adalah seorang wanita yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun namun terjebak dalam toxic-relationship yang cenderung lebih ke saling curiga dan posesif satu sama lain—padahal ya sebenarnya yang mereka curigai hanyalah prasangka buruk saja. Ditambah beberapa faktor lain yang menjadi keburukan sang pasangan. Hingga pada akhirnya dia mengungkapkan kebencian kepada pasangannya itu. Tingkat kebenciannya pun bahkan dianalogikan seperti ini: “Kalau aku punya pistol dengan dua peluru kemudian berada dalam satu ruangan bersama dengan doi, Adolf Hitler, dan Osama bin Laden, aku akan memilih menembak kepala doi dua kali. Brengsek dia itu!” Wow. [terkedjoet]

Sampai titik itu saya mengajaknya untuk ber-positif-thinking agar tidak berpikiran yang tidak semestinya. Namun, tetap saja, ‘awan gelap’ tetap menaungi perasaannya saat itu. Akhirnya opsi untuk membiarkannya untuk menenangkan diri—karena saya begitu yakin dengan analogi: akan ada pelangi atau cuaca cerah setelah awan mendung (pergolakan perasaan) dan hujan yang turun (fase kesedihan).

Benar saja, akhirnya apa yang saya prediksi perihal cuaca cerah atau pelangi benar terjadi. Beberapa hari kemudian dia pun kembali meng-update story bersama.. ya, mantannya yang kemarin dia ceritakan. Saya tak merespon apa-apa, bukan karena alasan tertentu namun saya merasa tugas sebagai ‘konsultan’ cukup pada saat dia curhat saja. Karena selebihnya yang menjadi pengambil keputusan adalah dirinya sendiri.

Baca Juga Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Sebuah cerita yang menjadi sebuah pengalaman empiris untuk kemudian menghasilkan pandangan baru secara induktif: Cinta juga cukup dinamis. Kemaren bilangnya apa, eh besoknya beda lagi. Sudah kurang-lebih namun tak sama dengan dunia politik, yha. Mirip juga dengan adagium politik “Esuk dele, sore tempe (Pagi kedelai, sore tempe)” yang menggambarkan sebuah inkonsistensi dalam berkata atau pun mengambil sikap.

Pemakluman saya tidak berhenti sampai di situ saja. Bahwa memang ada beberapa faktor kunci yang tidak bisa dihapuskan begitu saja dalam sebuah hubungan; Cinta juga cukup rumit. Menjalani pasang-surut hubungan dalam jangka waktu yang cukup panjang ibarat mencoret papan tulis dengan spidol permanen. Menghapus segala ‘coretan’ yang ada pada papan tulis tentu membutuhkan usaha keras dan akan ada saja bercak coretan tertinggal agar papan tulis bersih kembali. Mungkin bagi mereka, ketimbang bersusah payah ‘menghapus coretan’ lebih baik memperbaiki coretannya agar lebih rapi—menggunakan spidol permanen lainnya yang berwarna-warni, mungkin.

Ditambah faktor usia yang sudah di kepala dua, tentu soal hubungan orientasi akhirnya adalah hubungan yang serius. Mencari ‘orang baru’ bagi mereka tentu akan rumit dengan berharap tidak dinaungi bayang-bayang orang sebelumnya. Toh, siapa juga yang mampu menjamin jika dengan ‘orang baru’ akan lebih baik dari sebelumnya? Karena rasa yang tak mampu dibeli adalah rasa nyaman dan mengenal orang baru butuh sebuah penyesuaian. Bayangkan betapa merepotkannya penyesuaian dalam kondisi yang ‘tidak baik-baik saja’.

Baca Juga The Other Side; Masuk List Close Friend Instagram Ukhti yang Melepas Hijab dan Hanya Memakai Tanktop

Akan selalu ada rasa bosan, cemburu, dan hal buruk lainnya yang muncul dari seseorang selama kita mengenalnya. Dan saya pun yakin, waktu adalah obat terbaik untuk setiap rasa sakit. Dan juga, harapan tidak muncul begitu saja, tetapi harus kita sendiri yang menciptakannya dalam jiwa dan raga. Waktu dan harapan dalam introspeksi diri antar pasangan akan menghadirkan kedewasaan untuk mengarungi ‘ombak’ yang lebih besar berikutnya. Busedh, bijak amadh bos.

Jadi, jika kemarin saya masih bebas mengeluarkan satire “kirain musim dingin, ternyata lagi musim balikan ke mantan yang dulu dikatain brengsek.” sekarang saya sudah lebih dewasa menyikapinya—karena itu hak fundamental masing-masing orang, saya-nya aja yang nyinyir.

Kiri Iri bilang, bos.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.