Melihat POP, Program Organisasi Penggerak yang Menuai Polemik

Melihat POP, Program Organisasi Penggerak yang Menuai Polemik

Melihat POP, Program Organisasi Penggerak yang Menuai Polemik

Penulis Adi Perdiana | Editor Dyas BP

Gajah, Macan, Kijang

Thexandria.com – Program ini digagas oleh Nadiem Makarim selaku Mendikbud sebagai upaya meningkatkan kualitas pedidikan Indonesia dan pertama kali diluncurkan pada Maret lalu.

Program Organisasi Penggerak merupakan program pemberdayaan masyarakat secara masif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru, tenaga pendidikan dan kepala sekolah.

Dasar hukum dari pelaksanaan program ini adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 32 Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kemendikbud. Serta, Peraturan Sekjen Kemendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Bantuan.

Dalam pelaksanaan program organisasi penggerak, ormas pendidikan dapat membentuk sebuah konsorsium dengan ormas lain. Nantinya, salah satu ormas menjadi pimpinan program dan bertanggung jawab dalam pengajuan proposal. Meski ditujukan bagi ormas pendidikan yang telah berpengalaman, namun dengan adanya konsorsium tersebut, ormas non pengalaman dapat bergabung sebagai anggota.

Pelaksanaan POP dilakukan dengan melibatkan sejumlah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan. Satuan pendidikan yang menjadi sasaran yaitu pendidikan anak usia dini, sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP).

Program Organisasi Penggerak membuka pendaftaran sejak tanggal 16 Maret hingga 16 April 2020.

Melansir dari laman Kemendikbud, terdapat beberapa langkah untuk menjadi bagian dari Program Organisasi Penggerak ini. Mulai dari adanya tahap pengiriman proposal, tahap seleksi, tahap implementasi dan tahap integrasi. Dalam Program Organisasi Penggerak (POP) ini pun terdapat tiga jenis program yang ditawarkan.

Program Gajah
Organisasi yang mengikuti ‘Program Gajah’ akan mendapatkan bantuan pemerintah selama dua (2) tahun dari 2020-2022 untuk menjalankan program di lebih dari 100 PAUD/SD/SMP.

Program Macan
Organisasi yang mengikuti ‘Program Macan’ akan mendapatkan bantuan pemerintah selama dua (2) tahun dari 2020-2022 untuk menjalankan program di 21-100 PAUD/SD/SMP.

Program Kijang
Organisasi yang mengikuti ‘Program Kijang’ akan mendapatkan bantuan pemerintah selama dua (2) tahun dari 2020-2022 untuk menjalankan program di 5-20 PAUD/SD/SMP.

Organisasi yang terpilih akan mendapat hibah untuk menunjang program proposal yang mereka ajukan. Kemendikbud membaginya menjadi 3 kategori yakni kategori Gajah dengan bantuan maksimal Rp 20 miliar, kategori Macan sebesar Rp 5 miliar, dan Kijang Rp 1 miliar per tahun. Dengan target program ini adalah 2 tahun. Pada tahun 2020-2022 program organisasi penggerak (POP) memiliki sasaran peningkatan meningkatkan kompetensi 50.000 guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan di 5.000 PAUD, SD dan SMP.

Polemik Program Organiasi Penggerak

Polemik Program Organiasi Penggerak
Foto hanya ilustrasi

Beragam protes dilontarkan banyak pihak atas program organisasi penggerak (POP) Kemendikbud. Program yang digagas Mendikbud Nadiem Makarim ini dinilai tidak tepat sasaran dan rawan pemborosan karena menganggarkan Rp 595 miliar per tahun. Karena besaran angka tersebut dinilai memiliki banyak celah yang bisa memicu penyimpangan.

Dari sebanyak 4.464 ormas yang mengajukan proposal POP, terdapat 156 organisasi yang lolos seleksi evaluasi.

Termasuk Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation menjadi organisasi yang terpilih kategori Gajah. Keputusan ini menjadi polemik lantaran kedua perusahaan tersebut masuk dalam program CSR yang tak seharusnya didanai pemerintah. Namun, Tanoto menegaskan perusahaan mereka bukan CSR dan membiayai program POP dengan dana mandiri sebesar Rp 50 miliar.

Merespon kabar tersebut Sampoerna memastikan mereka juga bukan CSR. Berbeda dengan Tanoto, Sampoerna menggunakan dana mandiri dan APBN (dana pendamping) senilai Rp 70 miliar dan Rp 90 miliar.

Kini sejumlah organisasi masyarakat dan organisasi pendidikan menyatakan mundur dari Program organisasi penggerak. Pasalnya di saat seleksi masuk POP, organisasi tidak punya pembeda apakah mendapat kategori Gajah, Macan, atau Kijang, hal itu dinilai tak jelas.

Setidaknya, ada tiga organisasi yang telah menyatakan mundur, yaitu Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), dan Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI).

Baca Juga Ironi Rutan Salemba: Kepingan Tersembunyi Kehidupan Penjara di Indonesia yang Suram

Salah satu alasan ketiga organisasi tersebut mundur dari POP yakni karena merasa janggal dengan program tersebut, proses seleksinya pun disebut tak transparan.

Selain alasan di atas, ketiga organisasi tersebut sepakat bahwa anggaran program ini dapat dialokasikan untuk keperluan lain yang lebih mendesak di bidang pendidikan.

Tak hanya meminta untuk realokasi, bahkan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak agar Komisi Pemberantasan Korupsi turut mengawasi program tersebut.

Pada 24 Juli 2020, Kemendikbud menggelar konferensi pers secara virtual, dan menyatakan bakal menggelar evaluasi lanjutan terkait program organisasi penggerak (POP) dengan melibatkan ormas-ormas yang selama ini telah berperan dan berkiprah bagi pendidikan di Tanah Air. Evaluasi disebut bakal berlangsung selama tiga hingga empat pekan ke depan dan dilakukan secara intensif melibatkan banyak pihak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyatakan proses dalam POP akan dievaluasi. “Kami ingin memastikan bahwa yang telah kita lakukan, dengan standar integritas yang tinggi,” ujar Nadiem. Ia meminta lembaga yang sudah masuk seleksi tak perlu cemas, evaluasi lanjutan itu untuk memastikan integritas program tersebut terjamin.

Proses evaluasi lanjutan yang sedang disiapkan tentang tata laksana Program Organisasi Penggerak meliputi: verifikasi yang lebih ketat mengenai kredibilitas organisasi peserta program yang di dalamnya termasuk memerhatikan rekam jejak integritas dari organisasi tersebut, koordinasi keamanan serta keselamatan pelaksanaan program selama masa pandemi Covid-19, serta menerapkan proses audit keseluruhan dari proses yang telah dilakukan. Semuanya dilandasi semangat agar visi awal POP akan terlindungi secara berkelanjutan.

Share Artikel:

One thought on “Melihat POP, Program Organisasi Penggerak yang Menuai Polemik

Leave a Reply

Your email address will not be published.