Melihat Perjuangan Raja Mataram Dalam Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta

Perjuangan Raja Mataram Ke-3 Film Sultan Agung

Melihat Perjuangan Raja Mataram Dalam Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

“Takhtaku adalah amanah dari Kanjeng Sunan Kalijaga”

Thexandria.com – Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta memang telah tayang cukup lawas yakni sejak dua tahun lalu, tepatnya pada agustus 2018. Namun film ini rasanya abadi melalui nilai-nilainya yang sarat akan sejarah dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Kisah tentang leluhur bangsa ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari kehidupan Raja Mataram ke-3 yang dikenal sebagi Sultan Agung Hanyokrokusumo, seorang yang juga merupakan pahlawan nasional. Dengan latar waktu 3,5 abad sebelum Indonesia merdeka, film ini tak hanya menawarkan alur cerita yang menarik tetapi juga sarat akan nilai-nilai perjuangan Sultan Agung dalam melindungi rakyat dari jajahan VOC.

Film bergenre drama kolosal ini mencoba merangkai sejumlah potongan sejarah tetapi tidak serta merta sepenuhnya bisa dijadikan rujukan sejarah. “Namun, masyarakat dapat mengambil pelajaran yang positif dari film Sultan Agung, seperti; melestarikan tradisi Jawa dan karya-karya budaya Indonesia yang masih banyak belum kita ketahui,” pungkas Hanung Bramantyo yang menyutradarai film ini.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, ada sejumlah hal yang coba digambarkan oleh Hanung Bramantyo, pada karakter Sultan Agung. Kita bisa melihat penggambaran pesan kepemimpinan, serta makna yang cukup mendalam. Secara garis besar menceritakan perjalanan hidup Sultan Agung dari masa muda sampai menjadi Raja Mataram. Untuk sampai ke tahap itu ia melewati banyak perjuangan yang harus dilakukan, pun demikian dengan segala rintangan yang menghadang.

Cerita Dimulai

Sejak kecil, Raden Mas Rangsang (nama asli Sultan Agung) yang merupakan anak dari Raja Mataram dikirim untuk belajar di padepokan Jejeran layaknya rakyat biasa, namun indentitas aslinya dirahasiakan. Hanya segelintir orang yang tahu mengenai identitas asli dari Raden Mas Rangsang adalah seorang pangeran yang akan diangkat menjadi Raja Mataram setelah ayahnya, Panembahan Hanyokrowati wafat. Awalnya hanya sang guru padepokan yaitu Ki Jejer, seorang pengawalnya dan juga cinta sejatinya Lembayung seorang wanita yang belakangan juga mengetahui indentitas aslinya.

Cerita berlanjut, pada mulanya Raden Mas Rangsang menolak diangkat jadi Raja karena dia bukanlah putra mahkota, sementara putra mahkota adalah Pangeran Martopuro yang memiliki keterbatasan mental, dan masih berusia delapan tahun, sehingga masa depan Mataram jelas akan mengkhawatirkan jika takhta diduduki oleh sosok yang paling legal namun bukan yang paling baik. Tetapi karena wasiat dari Raja Mataram, maka Raden Mas Rangsang pun menerima tahta itu untuk menjadi Raja Mataram pada usia 20 tahun dan dikemudian hari ia bergelar sebagai Sultan Agung.

Bendera Kerajaan Mataram Islam
Bendera Kerajaan Mataram Islam

“Takhtaku adalah amanah dari Kanjeng Sunan Kalijaga” ucap sang Sultan Agung.

Begitu dilantik, tekad bulat Sultan Agung menjaga amanah Kanjeng Sunan Kalijaga untuk melindungi rakyat, dimana sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit semua adipati-adipati di timur, utara, dan barat tercerai-berai dan akan disatukan kembali di bawah panji-panji Mataram. Sumpah ini di ucapkan sendiri oleh Sultan Agung usai dilantik jadi Raja.

Apalagi para penjelajah dari Eropa sudah mulai menggunakan kekejamannya untuk menjarah rempah-rempah dan sumber makanan rakyat lainnya. Keadaan politik akibat VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen menghawatirkan negeri Mataram.

Ia menolak kerjasama dengan VOC, bahkan menolak hadiah pemberian VOC berupa sutra, perhiasan dari Cailong, koin emas, dan sebagainya. Malah Sultan Agung menyita senapan dan pistol milik VOC. Senjata-senjata tersebut kemudian dibuat replikanya untuk melawan VOC. Meskipun ia mendapat tentangan dari beberapa adipati yang tidak setuju dengan sikap tegas Sultan Agung yang tidak memperbolehkan VOC bebas berdagang di daerah kekuasaannya.

Hal itu dikarenakan Sultan Agung mengetahui taktik VOC adalah untuk merampas sumberdaya dan menjadikan rakyat Mataram menjadi kacung dengan belajar dari pengalaman beberapa kerajaan yang runtuh akibat VOC sebelumnya. Ia sangat takut akan kesengsaraan anak cucunya akibat VOC serta takut akan tidak bisa menjalankan amanah dari Kanjeng Sunan Kalijaga.

Akhirnya kemarahannya kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui bahwa VOC melanggar perjanjian dagang Mataram dengan membangun kantor dagang sendiri di Batavia.

Maka ia mengutus mata-mata dan mempersiapkan pasukan Mataram untuk menyerang markas VOC di Batavia. Disamping itu Sultan Agung harus banyak meredam penghianatan yang dilakukan oleh adipati-adipati di sekitar daerah kekuasaannya.

Sampai akhirnya, saat yang ditunggu tiba, rakyat Mataram telah dipersiapkan dengan baik untuk bertempur, menggunakan senjata api, panah, pedang, dan dibekali dengan kemampuan olah kanuragan, pencak silat, dan itu semua untuk menyerang benteng Hollandia milik VOC di Batavia.

Dengan lantangnya, Sultan Agung berikrar “Siap mukti utowo mati” yang membakar seluruh petinggi Mataram. Waktu yang ditunggu tiba, Sultan Agung berpidato berapi-api membakar semangat pasukan Mataram, “Tegakkan kepalamu, sebentar lagi namamu akan dikenang sebagai pahlawan Mataram. Prajurit-prajuritku yang gagah dengan berat hati aku harus menitipkan perjuangan ini kepada kalian. Perang ini bukan untuk ingsun (dimaknai perang itu bukan untuk kalian. Tapi untuk mengingatkan generasi berikutnya), ini perang suci untuk meneruskan perjuangan Maha Patih Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara! Dengan menyebut Asma Gusti Kang Akaryo Jagad! Aku titahkan kalian untuk mukti utowo mati newu Sunda Kelapa! (menang atau mati di Sunda Kelapa)”.

Baca Juga Kilasan Sejarah Oeang Republik Indonesia: ORI Mata Uang Pertama Milik Negeri

Sampai di sini baru setengah cerita secara garis besarnya, sila nantikan ulasan lebih pada artikel selanjutnya.

Meskipun sudah banyak yang menonton film Sultan Agung ini, mungkin buat yang belum kamu bisa tonton di beberapa layanan streaming. Terakhir di ending film ini dibawakan juga sebuah lagu yang ditulis oleh Sunan Kalijaga yang berjudul Lir-ilir. Lagu tersebut menyelipkan nilai filosofi kehidupan yang mendalam.

Maka seakan menggenapi keseluruhan film ini akan mengingatkan tentang jati diri kita, kita sebagai orang yang berjuang, kita yang memiliki harga diri, kita yang menolak penjajahan bangsa asing, kita yang berusaha memasa depankan kejayaan masa lalu. Dan kita, adalah orang-orang yang percaya bahwa tiada kesia-siaan dalam perjuangan.










Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.