Melihat Perang Dunia Shinobi Ke-4 ‘Naruto’ dengan Studi Hubungan Internasional

Perang Dunia Shinobi

Melihat Perang Dunia Shinobi Ke-4 ‘Naruto’ dengan Studi Hubungan Internasional

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Madara Kaum Realis VS Hashirama Kaum Liberalis

Thexandria.com – Serial manga Naruto yang melegenda memang sudah tamat. Naruto Uzumaki, sebagai tokoh utama berhasil meraih mimpinya untuk menjadi Hokage di kemudian hari. Ia juga telah berhasil membawa kembali sahabatnya Sasuke Uchiha ke Konohagakure setelah melalui duel sengit yang mengakibatkan masing-masing tangan mereka putus sebelah.

Manga yang juga diadopsi kedalam bentuk anime ini mencampai klimaks cerita dengan menyajikan jalan cerita peperangan konvensional yang melibatkan seluruh shinobi.

Dimulai dengan konspirasi yang dilakukan oleh Madara Uchiha. Ia yang menaruh dendam kesumat pada dunia shinobi, merancang dan membuat sebuah organisasi rahasia bernama Akatsuki, yang dalam cerita, digambarkan menjadi aktor anarki dunia internasional—yang akhirnya menjadi pemicu dari perang dunia shinobi ke-4.

Baca Juga Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3? Perang Dunia Ndasmu!

Menjadi menarik karena dunia shinobi yang dalam perjalanannya dipenuhi intrik saling bunuh dan perang, kemudian membentuk satu aliansi internasional atau yang disebut dengan aliansi shinobi. Tak ada lagi istilah shinobi Konohagakure, Kirigakure, Tsunagakure, dan lain-lain, yang ada hanyalah; shinobi itu sendiri.

Di tulisan ini kami akan coba mengkaji perang dunia shinobi dalam cerita Naruto, dengan pendekatan studi Hubungan Internasional.

Perang Dunia Shinobi
Gambar hanya ilustrasi

Dua Mazhab Besar Hubungan Internasional: Realisme & Liberalisme

Dalam sejarahnya, perkembangan ilmu Hubungan Internasional (HI) selalu ditandai dengan berbagai peristiwa internasional dan munculnya beragam pemikiran baru dari berbagai tokoh. Hingga studi Hubungan Internasional pada akhirnya mengerucut pada dua pemikiran, atau dalam studi HI, dapat dikatakan dua aliran (mazhab) besar, yaitu; realisme dan liberalisme.

Kedua pemikiran ini memiliki asumsi dasar yang saling bertolak belakang satu sama lain dan sudut pandang yang berbeda dalam kaitannya dengan studi HI.

Kita mulai dengan realisme. Realisme telah menjadi teori yang paling sering digunakan dalam memahami politik internasional sejak awal berdirinya studi tentang HI dan juga memiliki sejarah yang panjang sebelumnya.

Baca Juga Mengadopsi Filosofi Kehidupan Bikini Bottom di Kehidupan Orang Dewasa

Salah seorang pemikir HI, Jackson & Sørensen, membagi ide dan asumsi dasar kaum realis dalam 4 point, yaitu: 1. Pandangan pesimis atas sifat manusia; 2. Keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang; 3. Menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara; 4. Skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik.

Menurut para kaum realis, manusia selalu merasa cemas akan keamanan dirinya dan merasa curiga terhadap orang lain sehingga menganggap yang lain sebagai pesaing yang harus dikalahkan.

Setiap individu akan berjuang untuk mendapatkan yang terkuat dan yang terbaik dalam hubungannya dengan yang lain. Para penganut realisme percaya bahwa setiap orang ingin mendapatkan kekuasaan dan selalu mencegah yang lain mengambil dominasi kekuasaan.

Kemudian munculah paham liberalisme sebagai kritik atas paham realisme. Perdebatan besar antara pesimisme realisme dan optimisme liberalisme terjadi karena sudut pandang masing-masing paham yang saling bertolak belakang.

Asumsi dasar liberalisme sendiri adalah keyakinan terhadap kemajuan.

John Locke, salah seorang pentolan kaum liberalis, melihat potensi yang besar bagi kemajuan manusia dalam komunitas sipil dan perekonomian kapitalis modern yang hanya dapat berkembang di negara yang menjunjung tinggi kebebasan individu. Paham liberalisme memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan negara liberal modern yang didukung oleh proses modernisasi. Kaum liberal memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran dan rasionalitas manusia dimana prinsip-prinsip tersebut dapat digunakan dalam memecahkan masalah-masalah internasional.

Kaum liberalis berpandangan jika manusia mampu menggunakan rasionalitas maka kerjasama yang saling menguntungkan dapat dicapai tidak hanya dalam negara tapi juga antar negara. Kerjasama yang saling menguntungkan akan bertahan dalam jangka waktu yang lama jika tiap negara saling menghargai perjanjian yang telah dibuat satu sama lain sehingga perdamaian abadi dapat terwujud.

Kaum liberalis berkeyakinan, bahwa konflik dan perang memang tidak dapat dihindarkan, namun setidaknya dengan kemajuan dalam pola pikir manusia, resiko yang ada dapat diminimalisir.

Madara Kaum Realis VS Hashirama Kaum Liberalis

Apa yang terjadi dalam alur cerita Naruto, sebenarnya tepat bila ditelisik dengan pendekatan perspektif ilmu HI.

Kita yang pernah nonton atau baca Naruto—tahu bahwa yang melahirkan dunia shinobi adalah Hashirama dari klan Senju dan Madara dari klan Uchiha.

Dua dedengkot dunia shinobi ini terlibat dalam hubungan bernuansa pelik; love and hate situation.

Baca Juga Tensi Geopolitik Global yang Memanas, dan Weton Bokir yang Sial!

Mereka yang sebenarnya bersahabat, dan sama-sama ingin memutus rantai peperangan di dunia shinobi, pada akhirnya memilih jalan masing-masing.

Madara yang banyak mengalami kepedihan dan cenderung sulit mengontrol perasaan serta emosinya, merasa bahwa untuk menciptakan perdamaian abadi, hanya mungkin dilakukan dengan kekuatan. It means, menaklukan negara lain dengan skema peperangan. Mendominasi negara lain dengan metode pemaksaan.

Sampai disini, kita bisa mengatakan bahwa Madara Uchiha adalah seorang penganut paham realisme sejati. Madara berpandangan, bahwa dunia shinobi memang sarat dengan konfliktual, sehingga harus disikapi dengan kekuatan militer.

Pandangan Madara, ditolak dengan keras oleh Hashirama. Hashirama menilai, jika jalan yang dipilih oleh Madara, alih-alih akan menciptakan perdamaian dunia, malah justru akan menciptakan dendam yang tak berkesudahan.

Hashirama melihat dunia, bisa menuju perdamaian abadi dengan pendekatakan yang rasional, sharing power, perjanjian-perjanjian, dan saling menghargai satu sama lain sehingga opsi peperangan tidak akan terjadi atau paling tidak dapat diminimalisir.

Cara pandang Hashirama, mengindikasikan cara pandang kaum liberalis yang lebih ber-moral. Walaupun bagi kaum realis, paham liberalis sangat utopis.

Satu kesimpulan yang bisa ditarik, Madara sebagai kaum realis, melihat dunia sebagaimana adanya; konfliktual, keserakahan, dendam, dan saling curiga. Sementara Hashirama, melihat dunia sebagaimana seharusnya; rasional, saling menghargai, dialogis, dan saling percaya.

Baca Juga Yang Fana itu Waktu, yang Abadi itu One Piece

Madara di penghujung cerita Naruto kembali bangkit dengan mencoba menerapkan perdamaian menggunakan perspektif realisme. Semua shinobi dipaksa hidup dalam ilusi damai dari kekuatan Mugen Tsukoyomi.

Pemikiran liberalisme Hashirama, diteruskan oleh Uzumaki Naruto, yang berhasil menyatukan dunia shinobi dan membuktikan bahwa penerapan paham realisme tidak tepat. Kaum liberalisme pun, memenangkan perang dunia shinobi ke-4. Perdamaian yang ditunggu tercipta, semua negara shinobi terlibat dalam perjanjian damai dan berjanji untuk menghormatinya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.