Melihat Kontroversi Foto Tara Basro dari Esensinya, Bukan dari Betapa Menawan Parasnya

Kontroversi Foto Tara Basro Body Shaming

Melihat Kontroversi Foto Tara Basro dari Esensinya, Bukan dari Betapa Menawan Parasnya

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Aktris cantik nan manis berusia 29 tahun, Tara Basro, memiliki inner beauty yang kuat, akting yang bagus, dan juga memiliki sederet penghargaan di dunia perfilman Indonesia.

Baru-baru ini, Tara Basro memicu kehebohan di jagad sosial media. Alasannya, Tara mengunggah foto yang buat sebagian pihak terlalu vulgar, terutama, pemerintah melalui Kemenkominfo.

Adapun alasan Tara Basro mengapa ia menggunggah foto dirinya tersebut, adalah sebuah kampanye melawan body shaming. Tara Basro mencoba mengekspose dirinya sendiri, dengan sebuah kejujuran, bahwa here’s her body, dan ia mencintai dirinya yang seutuhnya.

Tara Basro berusaha “berbicara” dengan segala lingkup bahasa tubuh, jika memang tidak ada yang sempurna terkait tubuh yang kita miliki, namun hal tersebut tidak boleh menjadi pembenaran dari aksi body shaming yang ujung-ujungnya selalu memberikan gelombang kejut insecuritas yang kuat.

Tara sebenarnya berusaha mengajak kita “berdamai dengan segala apa yang kita miliki”, dan meminta kita untuk love your self di atas segala-galanya. Dan masa bodohlah dengan para pelaku body shaming, karena para pelaku body shaming, muskil hilang dalam waktu singkat. Sebaliknya, para pelaku body shaming akan terus ada, karena minimnya edukasi yang tersedia, dan juga dilindungi oleh istilah populer seperti “baper”.

Para pelaku body shaming, biasanya hidup seperti “parasit” didalam lingkup koehersi sosial, seperti halnya jokes dan jemari di sosial media.

Body shaming erat kaitanya dengan “penyerangan langsung” ke psikologis. Body shaming memberikan efek rasa tidak percaya diri yang begitu akut. Kita tidak bisa dengan mudahnya mejustifikasi kedewasaan orang dalam tongkrongan. “Ah, si A baper banget. Kurang jauh main lo”, “Coba dong kayak si B, dia cuek aja.”

Kita tidak pernah tahu dimana dan kapan titik-titik urgensi soal eksistensi diri terjadi. Bisa saja, demi terlihat “kuat” dan diakui sebagai orang yang berstandar dewasa dalam pergaulan, kita menyikapi perilaku body shaming dengan sedikit haha-hihi. Pertanyaanya sekarang adalah, Standar apa? Standar yang mana?

Kami juga menjadi memaklumi, jika kita memiliki kerabat atau teman yang enggan memiliki sosial media semisal instagram, karena hal tersebut dapat menjadi salah satu jalan menghadapi fenomena sosial yang sekarang sarat dengan narasi-narasi komparatif. Perbandingan-perbandingan akan kemapanan, kebahagiaan, dan mengumbar kesedihan.

Namun apakah sosial media salah? Tentu tidak. Kita hanya perlu belajar memaklumi tentang privasi-privasi, dan berusaha menjauhi sebisa mungkin, mengomentari urusan-urusan orang lain.

Kemenkominfo Jangan Paranoid

Seperti biasalah, negara kita sering hadir memenuhi kontroversi ketimbang ke esensinya. Entah darimana mulainya, namun terdengar kabar bahwa Kemenkominfo mengeluarkan statement yang terkesan sangat tendensius. Kemenkominfo berkata bahwa apa yang telah dilakukan oleh Tara Basro terindikasi merupakan sebuah kesalahan.

Ini menjadi satu ironi, karena Kemenkominfo sepertinya hanya melihat foto Tara Basro secara mentah, ketimbang mengupas esensi dari niat yang dilakukan oleh Tara. Kami tak ingin mengajak anda berbicara mengenai sisi-sisi etis dan budaya ketimuran. Tapi mari kita fokus pada pesan yang disampaikan Tara Basro dan peran-peran Pemerintah yang hilang.

Baca Juga: Public Display of Affection, PDA Ini Loh Mesra

Kalau sudah begini, kita seperti halnya dibawa pada kekesalan bagaimana Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memotong adegan perkelahian di serial anime Naruto dan mem-blur Sendy si tupai yang mengenakan bikini dalam serial anak-anak Spongebob Squarepants, sementara di satu sisi, sinetron cinta-cintaan ABG yang tak jelas juntrungannya melenggak-lenggok bebas di layar pertelevisian nasional.

Harusnya, apa yang dikampanyekan Tara Basro, menjadi pemantik agar pemerintah, lebih galak dan masif dalam mengkampanyekan anti body shaming dan bullying.

Memang sejauh ini, terkait bullying, pemerintah melalui Kemendikbud dan instansi terkait cukup sering menyuarakan dan meng-edukasi betapa berbahayanya perundungan. Namun, soal body shaming perkara lain, pemerintah sejauh ini belum melihat body shaming menjadi skala prioritas dalam hal edukatif.

Bagaimana mungkin Tara Basro yang berangkat sebagai “corong protesnya” terhadap body shaming, ditimpali ketus oleh Pemerintah? Sementara di kasus-kasus sebelumnya, kita melihat ada anak muda yang melawan petugas, kemudian dijadikan duta narkoba, duta keselamatan lau lintas dan lain-lain.

Tara Basro adalah publik figur, dan ya! Jelas ia memiliki influence yang secara langsung dapat meng-edukasi orang-orang diluar sana yang masih terjebak dalam insecuritas tubuhnya sendiri. Grow up!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.