Melihat Kesenjangan dalam Stratifikasi “Raja-Hamba” Masyarakat Sumba Timur yang Masih Lestari

sumba timur thexandria raja-hamba

Melihat Kesenjangan dalam Stratifikasi “Raja-Hamba” Masyarakat Sumba Timur yang Masih Lestari

Penulis Mardi Umbu Andung | Editor Dyas BP

Secara tradisi, umumnya masyarakat Sumba Timur dibagi menjadi 3 stratifikasi sosial

Thexandria.com – Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar masyarakat Sumba Timur memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan dan nelayan. Masyarakat Sumba Timur hingga saat ini masih memegang teguh kebudayaan mereka. Upacara kematian dan pernikahan adat Sumba Timur merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Secara tradisi, umumnya masyarakat Sumba Timur dibagi menjadi 3 stratifikasi sosial yaitu; Maramba (bangsawan/raja), Kabihu (orang merdeka/rakyat biasa) dan Ata (hamba).

Dari stratifikasi sosial yang lahir, cenderung menghasilkan kesenjangan dengan perbedaan yang sangat mencolok. Hamba yang dibatasi akses pendidikan dan raja yang mempunyai akses pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan kesenjangan dalam pola pikir, karakter, dan akses pendidikan.

Sejarah Terbentuknya Stratifikasi “Raja-Hamba”

Ada berbagai macam versi tentang kedatangan awal orang Sumba. Menurut Pura Woha dalam bukunya berjudul “Sejarah Pemerintahan di Sumba Timur”, penuturan lisan yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikut menceritakan bahwa leluhur orang Sumba berasal dari semenanjung malaka/Malaka tana bara. Mereka secara berkelompok dan bergelombang tiba di Tanjung Sasar yang terletak di tanjung ujung utara pulau Sumba, yang di sebut “Haharu Malai, Kataka Lindi Watu”.

Setelah itu dalam buku “Budaya Sumba” yang ditulis oleh B. Soelarto dikatakan kelompok yang datang ke Sumba berasal dari daerah Indocina dan masih keturunan dari kelompok yang awal datang ke Sumba. Kedatangan kaum imigran dari negara lain dan kedatangan kelompok dari kepulauan Nusa tenggara dengan perbedaan tata hidup, adat-istiadat, bahasa maupun kepercayaan, dan proses asimilasi lewat perkawinan melahirkan angkatan baru dan budaya baru. Dengan demikian kelompok pendatang dalam proses perkembangan sejarah Sumba turut menentukan proses pembentukan struktur masyarakat dan stratifikasi sosial di Sumba.

Saat mencoba mewawancarai salah satu warga desa Praing Kareha, dijelaskan bahwa stratifikasi sosial sudah ada sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda. keturunan raja seringkali memegang tampuk kepemimpinan dan memiliki wilayah/lahan yang luas. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, seorang raja diberikan hak oleh Belanda untuk memimpin wilayahnya yang biasa di sebut Swapraja. Menurut wawancara kami dengan informan, ada 4 stratifikasi sosial yang ada di desa Praing Kareha di antaranya yaitu:

  1. Maurat atau Ratu: Maurat merupakan pemimpin upacara agama kepercayaan Marapu dan pemimpin. Dalam adat, status maurat setara dengan maramba. Pada jaman sekarang jumlah maurat sudah berkurang karena sudah banyak yang memeluk agama Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu.
  2. Maramba atau raja: adalah orang berkuasa atas hamba. Raja mempunyai wilayah yang luas dan di kerjakan oleh hambanya.
  3. Kabihu atau orang merdeka: merupakan orang yang memisahkan ke suatu tempat dan membentuk kelompok/ suku. Orang yang mempunyai status kabihu tidak ada yang memilih status hamba atau raja.
  4. Ata atau hamba: ialah stratifikasi sosial paling rendah dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur. Seorang hamba harus mengabdi kepada raja seumur hidupnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat mengetahui stratifikasi telah terbentuk sejak lama dan sudah budaya masyarakat Sumba Timur. Bahkan sampai sekarang, stratifikasi sosial masih berlaku di beberapa daerah di Sumba Timur, khususnya di desa Praing Kareha.

Kesenjangan Sosial sebagai Penghalang Akses Pendidikan

Menurut pengamatan penulis, ada dua penyebab ketertinggalan pendidikan di desa Praing Kareha yaitu tuntutan adat istiadat perkawinan dan kematian. Penulis telah banyak mengikuti tahapan adat perkawinan dan kematian masyarakat. Dengan segala kerumitannya, mulai dari proses adat, sampai dengan mahalnya mahar/belis untuk perempuan Sumba. Hal positif dalam adat perkawinan dan kematian masyarakat Sumba Timur adalah saling gotong royong dalam menyumbang kebutuhan adat, semua persoalan dalam adat di putuskan secara musyawarah mufakat.

Penulis sendiri memiliki pengalaman mengikuti adat perkawinan masyarakat Praing Kareha. Kedua mempelai akan sah menjadi suami istri secara adat, jika sudah di putuskan. Selama keputusan belum ada, maka para anggota musyawarah/paka’bonggur tidak akan pulang ke rumah masing-masing meskipun memakan waktu 1 -2 hari. Penulis berpikir bahwa nilai-nilai Pancasila terkandung dalam adat Sumba Timur. Hal positif lain yang terdapat dalam adat perkawinan dan kematian adalah saling membantu untuk menyumbang secara sukarela bagi mempelai ataupun membantu proses kematian. Biasanya sumbangan berupa sembako, emas, ternak (kuda, kerbau, sapi, babi).

Hal negatif yang biasa terjadi adalah seseorang rela memberikan ternaknya untuk membantu bahkan mungkin itu ternak satu- satunya. Karena bagi orang Sumba harga diri/respect menjadi hal yang sangat penting. Pada tahun 2015 Penulis pernah bertanya kepada ina (sebutan untuk perempuan dewasa dan telah mempunyai anak) kalwan (nama anak dari ina) “mengapa harga mahar/belis begitu mahal?” ina Kalwan pun menjawab bahwa perempuan maharnya harus banyak. Karena mahar adalah bentuk penghargaan kita pada perempuan. Itu lah pendapat masyarakat secara umum. Mahar yang banyak juga agar mempelai laki -laki dapat di hargai oleh suku dari mempelai perempuan.

Dalam adat kematian hal yang sama juga terjadi. Harga diri menjadi hal yang penting dalam masyarakat Sumba. Siapa yang membawa hewan paling banyak, emas paling banyak, akan lebih dihargai daripada yang membawa sedikit materi. Perhargaan yang diperoleh berupa “nama yang tersohor”. Penulis pernah mendengar satu pepatah dari sumba yang mengatakan “Orang Sumba mati karena nama dan orang Cina mati karena uang”. Artinya bahwa masyarakat Sumba akan rela mengorbankan hartanya bahkan berhutang untuk menyumbang pada adat kematian dan perkawinan.

Biaya mahal yang dikeluarkan untuk upacara adat berdampak pada Pendidikan anak desa Praing Kareha. Adat-istiadat yang diturunkan orang tua kepada anak akan mengikuti budaya tersebut. Hal yang tidak luput dari pengamatan penulis adalah sangat sedikit anak desa yang punya kesempatan untuk kuliah. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh pola pikir, atau pun niat keluarga untuk melanjutkan anaknya. Penulis berpendapat bahwa kelemahan perekonomian akibat mahalnya biaya adat, menjadi salah satu faktor ketertinggalan Pendidikan di desa Praing Kareha.

Akses Pendidikan yang Tak Berimbang

Undang – undang No. 20 pasal 5 ayat 1 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatakan ”Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu” artinya bahwa setiap orang punya hak yang sama untuk menentukan nasibnya sendiri bahkan pendidikannya. Tapi tidak demikian dengan orang yang memiliki status sosial hamba/ata.

Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya bahwa hamba adalah stratifikasi sosial paling rendah di Sumba Timur. Tanggung jawab utama seorang hamba adalah mengabdikan diri kepada Tuannya seumur hidup. Hamba yang membantu tuannya untuk mencari nafkah. Seseorang mempunyai stratifikasi sosial hamba berdasarkan silsilah. Didalam kehidupan sosial masyarakat ada perbedaan perlakuan antara hamba dan bangsawan. Misalnya gelas untuk minum dibedakan dengan tuannya.

Jika anda suatu saat pergi berkunjung ke desa Praing Kareha, pada saat bertamu dan disuguhkan jangan terkejut jika seorang petani yang memiliki status bangsawan diberikan cangkir yang bagus di bandingkan dengan seorang guru atau pun profesi yang “lebih baik” dari petani mendapat gelas kaca. Hal ini menunjukkan bahwa status sosial menjadi hal yang sangat penting. Pada kasus lain, penulis pernah melihat hamba dipukul oleh tuannya, tetapi hamba tak ada perlawanan, dan masyarakat pun tak ada yang membela sang hamba.

Perbedaan perlakuan juga pasti terjadi dalam kesempatan mengenyam pendidikan. Hamba di larang untuk sekolah. Menurut informan, ada beberapa penyebab hamba tidak mendapat akses Pendidikan yang layak diantaranya yaitu: Latar belakang Pendidikan raja.

Salah satu informan mengatakan : Pada zaman dahulu, orang tua kami tidak banyak yang pergi ke sekolah. Kebanyakan masih lulus SMA atau bahkan SMP. Nah atas dasar itulah kaum hamba tidak diizinkan untuk mendapat pendidikan juga, khawatir melawan tuannya” lalu informan lain menambahkan artinya bahwa pendidikan dari raja sangat rendah akhirnya menimbulkan ketakutan bahwa ketika hamba mempunyai pendidikan yang lebih tinggi, ia tidak menghargai bahkan melawan tuannya.

Informan juga menambahkan bahwa kaum raja tidak menutup akses Pendidikan, kaum raja mengijinkan hamba untuk bersekolah. Informan menjelaskan “Kami tidak menutup 100% akses pendidikan untuk mereka. Banyak dari anak – anak hamba yang telah pergi ke sekolah, minimal SD. Karena di desa kami hanya ada 1 SD. Mayoritas seluruh anak di desa kami bersekolah di SD yang sama. Minimal mereka menerima pendidikan baca tulis hitung”. Batasan jenjang Pendidikan yang ditempuh seorang tergantung dari kemauan tuannya. Setelah lulus jenjang sekolah, hamba wajib pulang ke rumah tuannya untuk mengabdi.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, seorang dapat mengenyam akses Pendidikan tergantung dari tuan masing-masing hamba. Dan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kualitas guru dan profesionalisme menjadi penyebab hamba tidak bersekolah. Menurut penjelasan informan, “terkadang para siswa telah rajin untuk berangkat sekolah, namun guru tidak datang mengajar”. Selain itu menurut pengamatan penulis dari keterangan informan, guru yang mengajar di sekolah dasar adalah keturunan Raja dan ada beberapa guru yang memiliki hamba. yang artinya bahwa guru adalah salah seorang yang membatasi hak Pendidikan seorang hamba.

Hamba putus sekolah putus sekolah juga membantu orang tuanya bekerja dan rendahnya kesadaran tentang Pendidikan. Salah satu informan menyarankan Perlu adanya sosialisasi dan berbagi informasi mengenai pentingnya Pendidikan”. Pendidikan bukan hal yang penting bagi hamba. Yang terpenting bagi hamba ada adalah bisa bekerja, setelah cukup umur di carikan istri oleh tuannya. Jika hamba perempuan maka akan menjadi istri dari hamba laki-laki dalam satu tuan atau hamba perempuan akan di-“beli” oleh bangsawan lain untuk dijadikan hamba.

Kesenjangan yang terjadi antar kaum hamba dan raja sangat memprihatinkan. Bagaimanapun, seorang hamba akan tetap setia mengabdi kepada tuannya seumur hidup. Namun, ada beberapa kasus hamba yang melawan dengan cara melarikan diri dengan tujuan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bahkan ke pulau lain, seperti Jawa dan Kalimantan. Hal ini sesuai dengan informasi dari informan “Ya, memang pernah ada. Mereka melarikan diri karena suatu hal, bukan akses pendidikan yang menjadi alasan utama”.

Baca Juga: Membuat Abadi Budaya Gotong Royong Masyarakat Desa Melalui Kesadaran Pendidikan

Penulis juga mengamati bagaimana peran pemerintah desa, hasilnya sama. Kepala desa adalah bangsawan yang memiliki hamba. Stratifikasi sosial sudah menjadi budaya yang sudah mengakar kuat dan akan sulit dihilangkan. Ketika penulis bertanya tentang tanggapannya jika suatu saat hamba di berikan hak untuk pendidikan. Salah satu informan menjawab, “Saya tidak masalah. Karena saya menyadari bahwa pendidikan itu penting untuk masa depan mereka” begitu juga informan lain menjawab.

Akan tetapi perlu digaris bawahi, bahwa status hamba bukan hanya sekedar status sosial namun juga bagian dari adat. Bisa saja mereka mendapat akses pendidikan namun tetap harus menghormati dan menghargai ‘warisan’. Hal ini menjelaskan bahwa Pendidikan adalah hal yang penting, tetapi adat istiadat juga merupakan hal yang penting. Status sosial sebagai hamba tidak akan pernah hilang selamanya, akan tetap berlaku di dalam kehidupan sosial masyarakat desa Praing Kareha.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.