Melihat Hidup, Sekali Lagi…

Melihat Hidup, Sekali Lagi

Melihat Hidup, Sekali Lagi…

What you looking for?

Thexandria.com – Aku sempat bingung bagaimana harus memulai artikel ini. Dari pukul dua pagi, sampai matahari bangkit dari kaki langit, kuhabiskan seperempat malam dengan meraba pemahaman atas humaniora—yang malahan menemukanku dengan kesadaran baru.

Sadar bahwa sebenarnya aku tak sekalipun sadar. Ketidaksadaranku adalah kesadaran itu sendiri. Begitupun sebaliknya.

Karena belakangan melulu nulis politik. Hari ini aku ingin menulis sesukaku saja. Sebahagiaku. Seketidaksadaranku yang sadar ini.

Kadang, kita sukar mengerti proses keberlangsungan sebuah hidup; yang di dalamnya terdapat parameter-parameter tertentu. Entah itu mimpi, harapan, kenyataan, rejection, atau apapun yang melekat seiring nafas berhembus dikandung badan.

Untuk itu, melihat ‘hidup’ sekali lagi, bisa menjadi rekreasi tujuan yang cukup menyenangkan.

Orang bilang, lihatlah dirimu sendiri sebelum kamu melihat orang lain. Sejurus kemudian, aku cepat-cepat bercermin. Kutatapi wajahku dengan bingung, ini jerawat kapan munculnya?! Enggak, bukan itu! Lagi, aku mengambil konsentrasi. Kutatapi wajahku dengan bingung. What you looking for?

Sepakat dengan bayanganku sendiri di cermin, aku mendapati jawaban yang mengesalkan. I don’t even fully know what I’m really looking for.

Oh really?! Kembali kupercepat langkahku, kali ini ke dapur, menyeduh kopi yang gagal total. Saat kuseruput, paduan rasanya bukan pahit-pahit manis, tapi pahit-pahit asin. Gila, ya, menjadi lupa dan bingung bisa sebodoh ini? Aku salah memasukan gula, malah garam ternyata. Bangsat.

Setelah agak tenangan, aku kembali berusaha melihat ‘duniaku’. Melihat kembali diriku sendiri.

Karena tak kutemukan jawaban setelahnya. Aku berinisiatif melihat dunia-dunia yang lain. Dunia teman-temanku sendiri.

Langkah kaki-kaki anak manusia. Ternyata memang bisa saling mempengaruhi. Seorang teman yang dari lahir sampai kerja, menghabiskan seluruh waktunya berkutat di balik kesibukan Kota Jakarta. Dengan bahagia, melepas kepergiannya sendiri menuju kehidupan baru di pulau dewata, Bali.

Setelah 25 tahun ia hidup. Untuk kali pertama, ia mengaku baru berani mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Memperjuangkan hidup dari nol lagi.

Berikut kucantumkan isi pesannya:

“Heyyy dool!

hahaha kepikiran kenapa sih… i’m still trying hard to figure it out what’s really happen on my own thoughts.

Gue ke Bali….

karena…gue udah gak kerja lagi di JIG, so many things happen and it’s like a shit. Kayak gak ada stop nya shit happens HAHAHAHA

and, yea… i decide to moved in Bali just because i’m so scared.

Gue ketakutan. Gue takut gue kehilangan momen ‘berjuang’ gue, gue takut kalo gue bener-bener ‘ga enjoy’ sama hidup gue di masa muda.

Mumpung ada waktu nya, ada kesempatan nya… dan terlebih kali ini gak ada hati yg harus dijaga untuk gue pergi dan melakukan apapun yg gue mau. Gue pilih bali karena gue merasa bali bisa menerima gue… seeee-apa-adanya gue.

That’s a lot of plan untuk gue disini.

Gue emang udah males sih jadi budak korporet lagi, gue mau memperluas relasi dan ilmu gue juga disini. Ya walaupun gue jg kudu realistis untuk tetep cari kerjaan sih….”

See? Dia benar-benar melakukannya dengan satu kesadaran yang kontemplatif, lugu, dan berapi-api.

Melihatnya seperti menemukan sebuah titik balik dalam hidupnya sendiri. Itu cukup membuatku juga ‘tertular’. Tertular dengan bagaimana ia memberi sentuhan-sentuhan keberanian dalam chapter baru kehidupannya. She’s a really tough girl.

Pencarian
Pencarian / Gambar Ilustrasi

Lalu kupalingkan diriku ke teman yang lain. Kemarin, boleh jadi adalah hari terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Menjadi seorang ayah di usia 24 tahun. Seorang teman yang atraktif, kini, memiliki seorang putri yang cantik.

Setelah mengucapkan selamat, aku menjenguknya dengan sapaan, “bagaimana rasanya kini menjadi seorang ayah?”, Lama dia mengetik, kupikir ia akan menuliskan jawaban yang panjang, sepanjang kasih sayang serta luapan bahagianya atas karunia kelahiran putrinya.

Berikut kucantumkan pesannya:

“Hmmmm senang, bahagia, makin berwarna lah dol”

Ah, aku salah, ternyata jawabannya sangat singkat. Untuk orang se-atraktif dirinya, jawaban sesingkat itu barangkali adalah kebuntuan kosakata, karena hatinya sedang melulu bahagia. Kadang, banyak cerita indah yang sulit tuk dilukiskan, bukan?

Rasanya menyenangkan. Mendengar dunia mereka laksana pelangi sehabis hujan.

Aku berdiri, bergegas pergi entah kemana, sekedar mendengar lagu, lalu menyimak kembali bagaimana semestinya duniaku bekerja.

Jujur saja, keberanian dan kebahagiaan mereka seperti memberi stimulus untukku. Aku sumringah, rasanya tak mengapa belum mengerti benar arah dan tujuan hidup. Ini bukan sesuatu yang buruk.

Baca Juga Inilah ‘Kunci’ yang Bisa Bikin Kamu Cantik Selamanya! No Clickbait

Dan untukmu—entah siapa yang membaca ini. Kalau dengan melihat dirimu sendiri, namun belum juga menemukan jawaban yang kamu cari?

Lihatlah sekelilingmu. Dunia teman-temanmu. Niscaya, akan selalu ada pelangi sehabis hujan. Dan kau tak harus memilikinya. Pandangi saja, yang namanya pelangi, sudah pasti ciptaan Tuhan.

Kan, ada lagunya:

Pelangi, pelangi…

Ciptaan Tuhan!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.