Melihat Fenomena Letusan Gunung Api Lumpur Kesongo di Blora

Letusan Gunung Api Lumpur Kesongo di Blora

Melihat Fenomena Letusan Gunung Api Lumpur Kesongo di Blora

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Letusan seperti ini sering kali terjadi di kawasan gunung api lumpur Kesongo, namun tidak sebesar letusan kali ini.

Thexandria.com – Semburan lumpur bercampur gas kembali terjadi di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan atau KPH Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Semburan tersebut merupakan fenomena letusan gunung api lumpur Kesongo di Desa Gabusan. Peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Prof Dr Ir Jan Sopaheluwakan MSc, menerangkan, mud volcano atau gunung api lumpur adalah gejala menyemburnya lumpur menyerupai letusan gunung berapi, dilansir dari kompas.com.

Dampak letusan gunung api lumpur tersebut dikatahui menyebabkan empat warga terdampak peristiwa mengalami gejala keracunan dan dilarikan ke rumah sakit. Saat ini semuanya sudah dinyatakan sembuh.

Baca Juga Upaya “Pembungkaman” Terhadap Media yang Kritis Melalui Peretasan

Selain itu ada 17 kerbau milik warga juga dikabarkan hilang diduga terperosok saat lumpur menyembur di kawasan saat kejadian. Satu ekor kerbau berhasil diselamatkan warga dari timbunan lumpur.

Gunung api lumpur Kesongo meletus pada Kamis (27/8) pagi. Kemudian letusannya tidak cuma menyemburkan lumpur dan gas tetapi juga getaran yang terasa sampai radius satu kilometer.

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Balai Wilayah Kendeng Selatan menyebut, semburan lumpur bercampur gas yang terjadi di Desa Gabusan Kecamatan Jati Kabupaten Blora merupakan letusan mud vulkano biasa. Semburan tersebut terjadi secara alamiah.

“Semburan itu erupsi biasa. Dan terjadi alami bukan faktor kesengajaan manusia,” kata Budi Setyawan Kasi Geologi dan Mineral Dinas ESDM Balai Wilayah Kendeng Selatan, Jumat (28/8). Disebutkan, semburan yang terjadi kali ini memang tergolong cukup besar. Namun saat ini semburan itu sudah berhenti.

Budi menjelaskan bahwa jika letusannya tersebut memang besar bisa menutupi lahan seluas 3,29 hektar dengan ketebalan lumpur mencapai 1-1,5 meter.

Diketahui sebelumnya, letusan seperti ini sering kali terjadi di kawasan gunung api lumpur Kesongo, namun tidak sebesar letusan kali ini. Setiap tahun ada dua atau tiga letusan, dengan ketinggian semburan lumpur dan gas kisaran antara satu sampai dua meter.

Namun letusan kamis pagi lalu mengingatkan akan letusan gunung api lumpur yang pernah terjadi pada tahun 2009 dan 2013 di lokasi yang sama, dimana membuat beberapa warga keracunan karena menghirup kandungan gas.

Letusan besar jarang sekali terjadi di gunung api lumpur Kesongo, namun letusan pertama pada Kamis pagi lalu, ketinggiannya mencapai sekitar 20 meter lebih. Adapun letusan kedua pada Jumat (28/08) pagi, rata-rata ketinggian sekitar delapan dan 10 meter.

Baca Juga Memaklumi Pertamina yang Merugi 11 Triliun Rupiah

Saat ini kondisinya memang sudah landai dan semburan lumpur telah berhenti. Namun police line dan papan bertulis larangan mendekat telah terpasang dengan jarak ke pusat semburan sekitar 200 meter. Sebagai peringatan agar masyarakat tetap jangan mendekat ke lokasi demi keamanan.

Sebab viralnya video semburan lumpur akibat letusan gunung api lumpur Kesongo tersebut berhasil mengundang banyak warga yang penasaran mengunjungi lokasi tersebut.

Kawasan Wisata Geologi

Kawasan Wisata Geologi
Source : sigijateng.id

Semburan lumpur membuat tidak ada pepohonan mampu tumbuh di daerah gunung api lumpur Kesongo. Hanya rerumputan dan semak belukar yang mendominasi. Warga sekitar lebih mengenalnya sebagai oro-oro karena banyak rumput untuk gembala ternak. Kawasan Kesongo sendiri merupakan kawasan wisata geologi Kesongo di Blora Jawa Tengah, keunikan fenomena alamnya adalah berupa hamparan padang rumput dan rawa yang luas, terkadang muncul semburan lumpur menyerupai fenomena Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan.

Akan tetapi perlu diperhatikan bagi warga sekitar karena belum adanya alat deteksi maupun instrumen peringatan, karena selain lumpur, gas yang keluar pun dapat membahayakan.

Tidak menutup kemungkinan di masa depan letusan besar seperti ini atau bahkan lebih besar lagi akan terjadi, maka sudah sewajarnya bila Pemerintah mengambil peran untuk melakukan upaya mitigasi bencana. Hal tersebut semakin perlu diupayakan mengingat daerah gunung api lumpur Kesongo di Blora masuk dalam Kawasan wisata geologi serta banyaknya aktivitas warga di daerah tersebut.

Tentu saja system mitigasi bencana bisa diterapkan, mengingat fenomena gunung lumpur memiliki kesamaan dengan proses vulkanisme gunung berapi, namun yang berbeda adalah material dan energi yang dikeluarkan. Di Indonesia sendiri terdapat 127 gunung api aktif, dan mitigasi gunung api telah miliki protokol baku.

Sosialisasi gejala awal bencana letusan gunung api lumpur ke masyarakat, pemasangan alat pemantauan, mambangun instrumen peringatan dini, serta riset berkesinambungan.

Masyarakat mungkin sudah familiar dengan kejadian dan lokasi tersebut, tapi pencegahan lebih baik daripada mengobati kan?

Thumbnail : jabar.tribunnews.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.