Melepas Emosi dan Memeluk Diri di Malam Puisi

Melepas Emosi dan Memeluk Diri di Malam Puisi

Melepas Emosi dan Memeluk Diri di Malam Puisi

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

“Tiga puluh hari dalam sebulan

 terlalu panjang untuk dilewati sendirian—

tapi kami bangga denganmu.”

Thexandria.com – Malam Puisi Samarinda yang diadakan sebulan sekali di Aksara Kopi dan Buku kali ini bertemakan katarsis—hadir sebagai sarana meluapkan emosi yang telah tertahan selama sebulan ini; pelampiasan emosi negatif, pencucian diri lewat puisi. “Mari menangis, berteriak, marah, atau apapun itu,” ajak anak-anak Malam Puisi Samarinda.

Untuk pertama kalinya Thexandria menyambangi kediaman anak-anak Malam Puisi Samarinda—mendengarkan dan menyimak langsung orang-orang yang meluapkan emosinya melalui puisi, Minggu (1/12/2019). Adapun dua puisi yang dibawakan oleh pembaca-pembaca di Malam Puisi berjudul:

KITA MENULIS INI DI TEMPAT YANG BERBEDA

karya Ranti Yamin dan Dikablek

Omong-omong,

Langit di luar sedang mendung..

Menatapku sambil aku melantunkan nada-nada kecil tentang lagu kesukaanmu.

Perjalananku akan sangat, sangat panjang—melelahkan namun menenangkan.

Di dalam kereta tanpa destinasi dan sepi penghuni, hanya ada aku dan sang supir.

/

Ke mana kita pergi? tanya sang supir.

Pikiranku akan mengambang, memikirkan kemungkinan-kemungkinan:

taman kota, bibir pantai—tempat ombak bersua membakar rindu, atau rantangan tanganmu.

Hari ini menjadi abu

bola mataku kehilangan warna-warni

dinding kota. Menyerap dalam-dalam

ke sebuah roda yang tak tahu

kapan harus berhenti untuk menangisi takdirnya—

ke sebuah peluk atau teluk

menjelma selimut hangatku.

——————————

HALTE

karya Herti Cutie Manurung

Mengapa kau selalu datang dan pergi?

Mengapa kau selalu singgah hanya sebentar saja?

Ini hati bukan halte.

Berapa kali sudah kau datang lalu pergi

dan datang kembali seakan-akan ini sudah menjadi tempat persinggahan favoritmu.

sekali lagi, ini hati bukan halte.

Apakah hati ini hanya untuk dipermainkan semata?

Menghampiri bertukar canda dan tawa, serta bertatap mata di bawah senja,

lalu hilang bak ditelan semesta?

Kupertegas sekali lagi ini hati bukan halte.

Ini bukan tempat pemberhentian sejenak kala kau butuh.

——————————

Thexandria dengan senang hati diberi kesempatan untuk berbincang-bincang bersama Dikablek, selaku penggiat Malam Puisi Samarinda. Dikablek mengatakan, terpilihnya ‘katarsis’ sebagai tema Malam Puisi untuk bulan Desember ini dikarenakan hecticnya kegiatan masing-masing anggota dan Malam Puisi Samarinda itu sendiri—membuat “it’s time to release our emotion,” seperti itu.

“Biasanya sih mukul tembok, tapi sekarang dikurangi, sakit sih.. jadi nulis, kadang ngeluh di Twitter. Tapi kalau di Twitter ntar orang-orang Aksara pada ngomel,” ucapnya ketika ditanya mengenai cara meluapkan emosi.

“Kenapa ngomel?” tanya Thexandria.“Kamu udah punya rumah di sini (Aksara Kopi dan Buku), Dik, cerita di sini. Jadi, jalan keluarnya ya kalau nggak nulis ya ngeluh di sini,” balas Dikablek.

Selain Dikablek, Thexandria juga berkesempatan untuk bercengkerama sedikit dengan Herti Cutie—salah satu anggota di Malam Puisi juga. Menurut Herti Cutie, katarsis adalah cara meluapkan emosi disaat kita tidak punya tempat atau orang untuk berbagi cerita—karena tidak semua orang dengan mudahnya bisa meluapkan emosi pada orang lain.

Herti juga menambahkan, selain menulis—menyanyi adalah hal lain untuk mengeluarkan emosi negatifnya. “Kalau nyanyi tuh bener-bener kayak.. ini loh ada lirik yang related banget!” ucapnya.

Kalau soal lagu, ada lagu yang mujarab nggak untuk Herti?”

“Kalau lagu, hmm.. Rumpangnya Nadin Amizah, sih.” ujarnya dengan senyum.

Bertepatan dengan rilisnya album Hindia “Menari Dengan Bayangan”, Dikablek menumpahkan isi kepalanya di laman Medium yang bertajuk “Tulisan Untuk Saling Menguatkan” yang tidak jauh-jauh dari self-acceptance, self-healing, dan menerima diri sendiri ketika selalu merasa kurang.

Baca Juga: Saduran tentang Pram, Ia Abadi, Karna Menulis

“Nangis tuh hal yang wajar, itu nggak seksis, nggak mengarah pada gender.. kamu cewek kamu cowok, nangis ya nangis aja gitu nggak usah ditahan-tahan. Nangis itu ‘keringatnya’ otak kalau dia capek. Nggak masalah kok mau nangis,” sedikit pesan dari Dikablek mengenai Tulisan Untuk Saling Menguatkan.

“Dengan kebetulan rilisnya Hindia Menari Dengan Bayangan dan Katarsis di Malam Puisi—emang harus diluapkan, sih..” tambahnya.

Dengan berakhirnya Katarsis di Malam Puisi Samarinda pada hari Minggu, 1 Desember 2019; mengingatkan untuk lebih bersahabat dengan diri sendiri, memeluk dan saling memahami diri, meluapkan emosi jika dirasa sudah tidak bisa teratasi. Menangislah, tidak mengapa.

“Udah masuk Desember, tutup dengan hal yang menarik dan menyenangkan!” tutup Dika dengan senyum dan hoodie pink yang baru ia beli dari thrift shop.

Sumber Foto: herticutie_

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.