Manusia Kepala Pohon

Manusia Kepala Pohon

Manusia Kepala Pohon

Penulis @zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Terhitung malam ini—yang ketepatan lokasi dan waktunya masih bersifat rahasia—saya berpikir jauh melewati batas nalar manusia-manusia normal pada umunya, semenjak mengetahui bahwa Thexandria menginginkan tulisan-tulisan dari kontributor yang sama-sama Absurd, mengisi lorong rubrik Absurditasnya.

Dan jika boleh menilik ke 30 menit yang lalu, dibagian terpenting dari otak saya—anggap saja seperti slot MicroSD di kebanyakan handphone masa kini—saya menemukan satu buah kartu memori penuh berisi dokumen-dokumen tidak penting berjudul: khayalan-khayalan si Bodoh.

Beruntungnya saya tak pernah mau membakarnya habis, ternyata ada gunanya juga sekarang: membawanya melayang-menukik-melayang lagi-menukik lagi ke Thexandria. (Love you Thexandria, forever)—dibagian dalam kurung, editor boleh menghapus jika dirasa menimbulkan kecemburuan sosial, ekonomi, dan politik.

Yaitu berisi kajian-kajian atau riset data atau apalah itu namanya, intinya The Sebab perihal manusia kepala batu, itu sudah sedemikian klisenya sampai-sampai oknum anggota dewan pengkhianat binatang jalang muntah-muntah jika mendengarnya.

Jangan tanya: siapa sih dewan pengkhianat binatang jalang itu? Sebab tak ada korelasinya meski sedikit dengan manusia kepala pohon, bisa juga dibilang salah lapak. Lapak sendiri, saya tak punya. Apa yang mesti saya jual kecuali suara yang diredam pakai peredam suara grosiran dari toko-toko online?

Kembali lagi ke dewan pengkhianat binatang jalang manusia berkepala pohon, Tante-tantean, om-om, mucikari diri saya sendiri membelikan saya peralatan untuk berburu berupa handphone ketika saya berumur 17. Sebentar, sampai sini saya akan membuka sesi Q&A:Kenapa Handphone?

1. Kenapa Handphone?

Jawaban: karena mahal, apalagi merk Ipong. Kan, bisa buat pamer.

2. Handphone dijadikan alat berburu, serius?

Jawaban: ada Flash jika senjanya nak indie hilang, ada aplikasi Kompas ketika perasaan gelisah memilih diutarakan atau diselatanin, ada GugukMap jika Kompas saja tak bisa membantu, dan ada GugukChrome untuk mencari apa saja termasuk letak kantor dewan peng… Oke lupakan.

Tapi naasnya, ketika euforia memiliki handphone baru itu belum beranjak usai, saya melakukan kesalahan dengan membawanya ke dalam kamar mandi, selayaknya kapal selam canggih yang memiliki reaktor nuklir abadi, handphone saya jatuh ke blackhole berisi materi-materi Anti-Nuklir-Abadi mengakibatkan satu-satunya alat berburu saya itu lumpuh dan berpulang ke sisiNya dengan cepat, senyap, terstruktur, masif dan brutal. I hope the angels don’t see the adult videos that I collect!

Alhasil, saya berburu manual, mengandalkan insting dan indera penciuman. Ketika saya di hutan, saya mengendus-endus seperti anjing, tapi tidak mengikuti gaya berjalannya. Hanya saja, saya memang anjing kata teman-teman saya. Kata-teman-teman-saya. Teman hehe.

Ada banyak hal yang mengganggu perburuan saya, salah satunya adalah nyamuk. Pernah sesekali saya berpikir ingin membeli beberapa botol senyawa VUAA1, tapi saya urungkan, sebab, senyawa tersebut hanya akan menyerang lewat antena hidung nyamuk, bagaimana jika sang nyamuk sedang Flu?

Sontak saya duduk dan bertapa, menciptakan segala senyawa yang kuserap dari sekitar, terfiltrasi oleh sugesti, dikomposisi oleh otak dan hati, lalu mengalirlah senyawa-senyawa itu melalaui pembuluh darah menuju pusat jantung.

Saya sendiri sudah seperti ilmuwan haus penemuan, belum saja berhasil menemukan manusia berkepala pohon, saya sudah menemukan senyawa Anti-Anopheles dengan cara kerja: ketika senyawa-senyawa itu berhasil masuk ke jantung, akan ada kepulan asap keluar dari pori-pori kulit, perlahan-lahan intensitasnya semakin tinggi, mengakibatkan kabut asap di mana-mana, menyerang dan membunuh nyamuk secara mutlak.

Lantas saya tertawa, karena membunuh nyamuk ternyata seindah itu.

Baik, saya rasa sayak akan memenangkan sebuah nobel sains.

Dikarenakan kabut asap sudah menutupi keseluruhan hutan, saya beranjak pulang dan tersandung akar pohon. Kata orang sini, saya kepuhunan gara-gara secangkir kopi (red: kena tulah).

Akhirnya saya mati tepat di bawah pohon kelapa, ketika kepala saya menghantam batang pohon, segerombol kelapa jatuh menghantam kepala saya hingga putus, kemudian, selang beberapa hari, tumbuh pohon kecil dari dalam leher saya.

Ternyata selama ini, saya mencari takdir saya sendiri. Mitos purba yang saya yakini, adalah diri saya sendiri.

Hingga kemudian, saya menemukan jasad saya terbaring kaku. Jujur. Ini merupakan sosok terseram, melebihi visual film-film horor! Bagaimana tidak, saya melihat mayat saya sendiri!

Saya langsung kepikiran, apa detik ini juga, saya menghantui Radit? Agar menjadi narasumber hantu pertama di chanel youtube nya?

Eh, tidak, tidak….

Baca Juga: Balada Para Pemendam Rasa

Saya harus menjauhi yang namanya eksistensi. Cuih! Saya tak semurah itu. Kalaupun sekarang saya hantu? Maka boleh jadi, saya adalah hantu paling idealis di skena perhantuan Indonesia.

Tugas saya sekarang cuma satu. Merasuki editor thexandria. Ya, hanya itu.

Lalu saya akan menuliskan tulisan ini di laptop miliknya.

Note: Jika kalian berhasil membaca ini? Maka saya telah sampai di alam barzakh dengan selamat. Agak telat, sih. Tapi yasudah, saya mengilhami betul anekdot yang mengatakan, “lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali”.

Note lagi: Kalau dilain waktu, saya kembali mengirim tulisan di thexandria? Berarti saya mati suri!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.