Manchester United: Antara Karma, Peradaban dan Hiburan

Manchester United Istanbul

Manchester United: Antara Karma, Peradaban dan Hiburan

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Manchester United kini seolah kehilangan jati diri sebagai salah satu raksasa Inggris.

Thexandria.com – Semalam, tepatnya Kamis dini hari (5/11) Manchester United dengan kepercayaan diri tinggi melawat ke markas klub asal Turki, Istanbul Basekhir.

Dalam kampanye lanjutan di Liga Champions pekan ketiga Grup H tersebut mereka menugaskan armada terbaik untuk merampas poin sempurna. Laga ini diwarnai debut kiper yang mendapat banyak sanjungan musim lalu, Dean Henderson—melewati masa peminjaman dengan cukup ciamik di Sheffield United.

Namun, jauh api dari panggangan. Klub yang dinahkodai oleh Ole Gunnar Solskjaer harus terpaksa ‘dinodai’ oleh gol-gol kemenangan Istanbul Basekhir yang dicetak oleh Demba Ba (13’) dan Edin Visca (40’). Sementara mereka hanya mampu membalas lewat gol Anthony Martial (42’) yang menutup malam Manchester merah dengan kekalahan.

Legawa adalah Koenci

Manchester United kini seolah kehilangan jati diri sebagai salah satu raksasa Inggris. Liga domestik mereka jalani dengan langkah yang terseok-seok. Kekalahan dari Istanbul Basekhir semalam sebenarnya tidak parah-parah amat jika melihat dari skor tipis yang didapatkan.

Toh, sebelum laga ini mereka mampu memenangi laga lainnya saat bersua raksasa Perancis, Paris Saint-Germain dan semifinalis Liga Champions musim lalu, RB Leipzig. Namun, cara mereka kebobolan dalam laga dan kepercayaan diri yang berlebihan menjadi bumerang bagi mereka.

Dalam sebuah twit tertanggal 29 Oktober 2020, akun resmi Manchester United berbahasa Indonesia mencuit kemenangan klub mereka dalam akun @ManUtd_ID

Tweet akun resmi Manchester United

Warganet mencium ‘aroma-aroma’ angkuh dalam twit tersebut dan paling buruknya: tidak ada respect kepada klub-klub di grup tersebut.

Sebagai klub besar, seharusnya mereka tetaplah bijak dan legawa dalam menyikapi setiap hasil yang mereka peroleh—kalah atau menang jangan merasa cepat puas dan tetap lakukan evaluasi. Namun, yang ditunjukkan klub sekelas MU dengan menggelar pertanyaan satir dalam twit tersebut: “Gini doang nih grup neraka?” adalah sebuah kesia-siaan. Alih-alih berniat ‘banter’ malah jatuhnya hal tersebut menjadi sesuatu yang bisa dibilang norak.

Satu-satunya alasan yang bisa kita jadikan sebuah pemakluman terhadap kebahagiaan mereka adalah, mungkin ini rasanya sebuah klub medioker jika baru merasakan kemenangan melawan klub-klub besar seperti PSG dan RB Leipzig.

Hal-hal yang terkait dengan Manchester United sekarang seolah menjelma persoalan karma. Saya sendiri sebagai pendukung garis keras lunak Liverpool merasakan betapa Manchester United dan karma adalah perpaduan magis yang proporsional.

Pada saat itu MU harus dibantai habis oleh Tottenham Hotspurs di Old Traffod dengan skor mencolok 1-6. Sebagai rival tentu hal itu menyenangkan hati saya dan menertawakan sepuas-puasnya kekalahan mereka. Karma is real. Tak perlu berlama-lama, beberapa jam kemudian giliran Liverpool yang harus dibantai oleh Aston Villa dengan skor cukup memilukan 7-2. Pada akhirnya saya ikhlas dan memaklumi, karena Adrian tolol memang performa Liverpool saat itu mengalami penurunan setelah jeda internasional.

Dan, cuitan “Gini doang nih grup neraka?” adalah bentuk teguran Tuhan untuk rasa angkuh dari kemenangan mereka bagai berhasil menjuarai Liga Champions itu sendiri. Kalau kata orang Jawa “urip iku kudu nrimo lan legawa” yang berarti hidup itu harus menerima apapun yang didapatkan dan legowo (bersyukur) terhadap hasilnya karena itu semua pemberian Yang Maha Kuasa.

Karena Peradaban, Takkan Pernah Mati

Manchester United juga merupakan gambaran sebuah peradaban yang mungkin kelak akan digariskan dalam pelajaran sejarah—lebay, cuk. Survey yang diadakan secara ghaib mengungkap bahwa 9 dari 10 fans Manchester United masih menikmati kegiatan onani masing-masing dengan bayang masa kejayaan Sir Alex Ferguson sebagai bahan khayalan mereka.

Komposisi pemain macam Cristiano Ronaldo, Paul Scholes, Gary Neville, Wayne Rooney, Robin van Persie hingga Ben Amos bagai menjadi sosok terbaik yang pernah diajak bercinta dan rasanya ingin mereka dihadirkan lagi agar kembali bisa ‘orgasme’ bersama-sama. Manchester United kini mecerminkan sebuah peradaban yang pernah berjaya namun kini sudah runtuh dan bahkan bisa saja hilang.

Mereka akan setara dalam daftar sejarah melanjutkan peradaban-peradaban sebelumnya mulai Mesopotamia, Persia, Yunani kuno, Romawi, hingga Atlantis. Yak, karena peradaban takkan pernah mati~

Pertandingan Manchester United VS Istanbul Basaksehir
3 pemain MU (berkostum putih) berkumpul saling menjaga dan membiarkan lawan berdiri bebas.

Semenjak perginya Sir Alex Ferguson, MU dipegang oleh beberapa tangan yang mampu menyulap klub ini nampak seperti kumpulan karang taruna atau grup lawak. Pelawak-pelawak yang kerap naik panggung seperti Chris Smalling, Phil Jones, Jesse Lingard dan yang terbaru hadir seorang pelawak seharga 80 Juta Poundsterling bernama Harry Maguire.

Pelawak mahal ini digadang-gadang tidak hanya menghadirkan lelucon yang mampu membuat orang tertawa, namun mengocok perut sampai anda terpingkal-pingkal. Jika diuji sebagai seorang pesepakbola lewat performanya sekarang, Harry Maguire dengan predikat pemain mahal dan pemberitaan yang dibesar-besarkan kepadanya maka kita bisa menyebut ia sebagai overrated player. No debate.

Pertandingan Manchester United VS Istanbul Basaksehir
Strategi menyerang ala Manchester United yang tak menyisakan satu pemain pun di garis pertahanan.

Cara bertahan yang terkesan absurd dan miskoordinasi antar lini membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya, formasi dan strategi seperti apakah yang diinstruksikan oleh Solskjaer? Jangan sebut itu adalah adopsi strategi Total Football ala Timnas Belanda dan mohon jangan nodai mahakarya ciptaan legenda Johan Cruyff tersebut.

Baca Juga Bersedih jika Benar Naruto Mati Adalah Kewajaran

Mari menyebutnya sebagai formasi 0-8-2, menyerang lupa bertahan dan kawal ketat siapapun yang ada di sekitarmu—termasuk rekan setim, papan iklan sampai ballboy. Dean Henderson sebagai debutan menangis melihat rekan-rekannya di jantung pertahanan.

Sabar ya fren, mungkin ‘the real MU’ adalah Madura United. Setidaknya MU cabang Inggris mampu memberikan hiburan bagi kita semua. Bayangkan jika mereka tidak ‘se-menghibur’ seperti sekarang, hari-hari umat manusia pasti akan suram.

Terimakasih, Manchester United.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.